IHSG Merosot, BEI Solo Sebut Perang Dagang Amerika Serikat Vs China Jadi Salah Satu Pemicunya

BEI Surakarta menyebut gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah pada perdagangan saham sesi pertama, Rabu (22/5/2019).

IHSG Merosot, BEI Solo Sebut Perang Dagang Amerika Serikat Vs China Jadi Salah Satu Pemicunya
TRIBUNSOLO.COM/GARUDEA PRABAWATI
Sekolah pasar modal di BEI Surakarta. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Garudea Prabawati

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta menyebut gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah pada perdagangan saham sesi pertama, Rabu (22/5/2019).

Pada penutupan sesi pertama, IHSG  melemah 19,24 poin atau 0,32 persen ke posisi 5.932,13.

"Terkait penurunan IHSG ini memang ada dua isu yang sempat mewarnai bursa saham kita," ujar Kepala BEI Surakarta M Wira Adibrata kepada TribunSolo.com, Rabu (21/5/2019).

Yakni Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang masih terus menyatakan perang dagang terhadap China, sehingga memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap koreksi bursa pada waktu itu.

Ratusan Seniman dari Komunitas Reog Solo Raya Ngabuburit di Gedung Gelar Potensi Sukoharjo

Kemudian juga muncul lagi laporan soal neraca dagang Indonesia yang anjlok, dan itu memang paling parah sepanjang sejarah bangsa Indonesia.

"Sehingga hal tersebut semakin memberikan dorongan indeks saham kita semakin ke zona merah," imbuhnya.

Sementara itu Luis Andy Hartono selaku Manager Representative Office PT RHB Sekuritas Indonesia menyebut dapat dikatakan  IHSG Indonesia dari awal tahun 2019 angkanya 6100 kemudian relatif naik bahkan sampai April 2019 sempat 6500.

"Sehingga ada kenaikan sekitar 400 poinatau kisarannya sekitar 7 persen," ujarnya.

Dilaporkan ke MKEK Terkait Kasus Meme PDI-P, Kepala DKK Wonogiri: Silahkan, Bisa Membuktikan Tidak?

Tapi dalam sebulan terakhir pada penutupan sesi pertama, IHSG  melemah 19,24 poin atau 0,32 persen ke posisi 5.932,13.

Artinya terdapat penurunan sekitar 600 poin atau kira-kira 6 persen.

"Alasan paling utama yakni perang dagang yang membuat IHSG kita anjlok kemudian beberapa hari lalu ada data ekonomi kita yang sangat buruk, yakni ekspor turun 13 persen, habis itu defisit neraca berjalan itu melebar," ujarnya lagi.

Ditambah kondisi politik 2019 ini, membuat investor wait and see, dan di kuartal kedua berkaca dari tahun sebelumnya pasar saham memang cenderung landai.

"Namun prediksinya di kuartal ketiga akan membaik atau sekitar bulan bulan Agustus 2019," tutupnya. (*)

Penulis: Garudea Prabawati
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved