Ramadan 2019

Jelang Arus Mudik dan Balik, Dinas Kesehatan Solo Cek Kesehatan Sopir Bus di Terminal Tirtonadi

Dinas Kesehatan Kota Solo bersama Badan Narkotika Nasional Kota Solo melakukan pengecekan kesehatan bagi pengemudi dan kernet bus Terminal Tirtonadi.

Penulis: Eka Fitriani | Editor: Fachri Sakti Nugroho
TRIBUNSOLO.COM/EKA FITRIANI
Petugas dari dinas kesehatan Solo saat memeriksa gula darah supir bus di Terminal Tirtonadi, Solo, Rabu (22/5/2019) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dinas Kesehatan Kota Solo bersama Badan Narkotika Nasional Kota Solo melakukan pengecekan kesehatan bagi pengemudi dan kernet bus di Terminal Tirtonadi, Rabu (22/5/2019) siang.

Pemeriksaan tersebut meliputi tekanan darah, gula darah, buta warna, kesehatan umum, kandungan alkohol, dan narkoba.

Sebagian besar sopir ternyata menderita hipertensi.

Sehingga harus mendapat pengobatan menjelang arus mudik dan balik Lebaran beberapa saat lagi.

Diskon Tiket untuk Mudik Lebaran hingga Rp 1 Juta, Tertarik?

"Hipertensi seringkali dialami oleh sopir bus karena tegang dan harus fokus selama perjalanan, selain itu, kelelahan juga menjadi pemicu hipertensi," kata Koordinator Pemeriksaan Kesehatan, Sunaryo Rabu (22/5/2019) siang.

Menurutnya, gula darah juga menjadi kewaspadaan.

Hal tersebut disebabkan sopir seringkali mengabaikan olahraga.

Padahal hal itu membuat gula darah selalu dalam taraf normal.

Hasil pemeriksaan tersebut akan direkomendasikan ke koordinator terminal sebagai rekomendasi layak tidaknya pengemudi.

Surat sertifikasi kelayakan jalan juga sesuai rekomendasi dari tim kesehatan melalui dokter.

"Layak atau tidaknya pengemudi melalui rekomendasi dari kepala terminal," katanya.

"Ketika ditemukan sopir yang menderita hipertensi kami akan memberikan pengobatan namun apabila tergolong tinggi akan dirujuk untuk mendapat tindak lanjut,” katanya.

Promo Tiket Kereta Api untuk Mudik Lebaran, Harga Kelas Eksekutif Mulai Rp 150 Ribu

Menurutnya, apabila hipertensi tidak segera mendapat perawatan dapat menimbulkan penyakit stroke.

Terlebih, sopir sering kelelahan karena mengemudi jarak jauh.

Dirinya menambahkan idealnya lama waktu mengemudi hanya tiga jam.

Setelah itu sopir wajib istirahat atau minimal digantikan sopir cadangan.

Dirinya menambahkan pengobatan dilakukan selama tiga hari.

Setelah itu akan dilakukan evaluasi.

Pemeriksaan dilakukan selama dua hari dengan target 200 sopir mengikuti pemeriksaan kesehatan.(*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved