Kisah Mantan Siswa SMAN 1 Sembalun, Sempat Tak Diluluskan, Kini Berjuang Kumpulkan Uang Demi Kuliah

Keluarga Aldi hanyalah keluarga petani di lahan tadah hujan yang mengandalkan musim hujan untuk bisa menikmati hasil pertanian sayuran

Kisah Mantan Siswa SMAN 1 Sembalun, Sempat Tak Diluluskan, Kini Berjuang Kumpulkan Uang Demi Kuliah
KOMPAS.com/FITRI R
Aldi Irpan, mantan siswa SMAN 1 Sembalun, yang telah meraih kelulusannya, saat menjadi ojek wisata membantu kehidupan keluarga dan biaya sekolahnya 

TRIBUNSOLO.COM, LOMBOK TIMUR - Perjuangan Aldi Irpan, mantan siswa kelas XII jurusan IPS, SMAN 1 Sembalun, Lombok Timur, yang sempat tidak diluluskan karena bersikap kritis pada kebijakan kepala sekolah, belum berakhir.

Setelah dinyatakan lulus, persoalan biaya kini menghantui niatnya untuk bisa menempuh jenjang kuliah di perguruan tinggi.

"Untuk biaya kuliah belum saya pikirkan, perekonomian keluarga saya belum cukup untuk membiayai kuliah, adik-adik saya masih ada yang harus dibiayai, jadi belum ada gambaran" kata Aldi, Senin (27/5/2019).

Keluarga Aldi hanyalah keluarga petani di lahan tadah hujan yang mengandalkan musim hujan untuk bisa menikmati hasil pertanian sayuran termasuk bawang di Desa Sembalun, di kaki Gunung Rinjani.

Bertemu Fadli Zon, Keluarga Remaja 15 Tahun Korban Kerusuhan 22 Mei Minta Keadilan

Lahan seluas 20 are atau 2 ribu meter persegi digarap ayah Aldi, Nuin bersama keluarganya yang lain.

"Bertani di lahan tadah hujan bersifat musiman, jika harus menanam cabe mereka menanam cabe, menanam saturan, kentang, wortel, hingga bawang putih disesuaikan dengan musim penghujan yang akan datang," kata Aldi.

Dalam setahun, Aldi dan keluarganya hanya dua kali dalam menanam sayuran, bawang merah atau bawang putih.

Hasilnya pun harus dibagi dengan keluarga besarnya, karena lahan itu adalah milik keluarga.

Prabowo Subianto Ditemani Didit Hediprasetyo Masuk ke Makam Soeharto di untuk Tahlil dan Nyekar

Selama ini Aldi tetap turun ke ladang membantu keluarga menggarap lahan tadah hujan yang menjadi garapan satu-satunya menyambung kehidupan keluarga.

"Betapa sulitnya ayah saya bekerja keras di ladang untuk biaya sekolah, karena itulah saya berjuang sekeras tenaga mendapatkan kelulusan yang nyaris gagal saya dapatkan.

Halaman
1234
Editor: Putradi Pamungkas
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved