Penangkapan Terduga Teroris: Ali Amirul Alam Dikenal Tertutup dan Baru 6 Bulan Tinggal di Sukoharjo
Terduga teroris Ali Amirul Alam alias Umar (40) yang ditangkap di Pasar Tugu, Kota Bandarlampung dipastikan bukan penduduk asli Desa Cemani, Sukoharjo
Penulis: Asep Abdullah Rowi | Editor: Fachri Sakti Nugroho
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Asep Abdullah Rowi
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Terduga teroris Ali Amirul Alam alias Umar (40) yang ditangkap di Pasar Tugu, Kota Bandarlampung dipastikan bukan penduduk asli, Desa Cemani, Kabupaten Sukoharjo.
Menurut Camat Grogol Bagas Windaryatno, informasi dari kepala desa (Kades) setempat terduga teroris Umar bukan warga asli Cemani.
Apalagi lanjut dia, penggeledahan dilakukan di sebuah rumah yang merupakan kontrakannya di Gang Salak RT 03 RW 21, Dukuh Ngruki, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo.
"Umar kelahiran Jakarta dan tinggal di Cemani baru sekitar enam bulan," tuturnya membeberkan kepada TribunSolo.com, Senin (10/6/2019).
• Botol Berisi Ethanol Hingga Buku Jihad Ditemukan di Rumah Terduga Teroris di Cemani Sukoharjo
Dia menerangkan, selama tinggal di Desa Cemani Umar cenderung tertutup dan tidak bersosialisasi dengan warga.
"Maka saya imbau pada ketua RT/RW untuk sigap dan deteksi dini," katanya.
"Segera lapor jika ada yang mencurigakan," tutur dia menegaskan.
Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Jateng melakukan penggeledahan di kediaman yang ditempati terduga teroris Ali Amirul Alam alias Umar (40) di Gang Salak RT 3 RW 21 Dukuh Waringinrejo, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo.
Adapun informasi yang didapatkan TribunSolo.com, adapun penggeledahan Densus 88 Antiteror pada Minggu (9/6/2019) pukul 16.00 hingga menjelang magrib, menemukan berbagi jenis barang bukti (BB) di dalam rumah.
Di antaranya, 7 buah copy buku tentang jihad, 4 buah ponsel rusak, 1 buah sim card simpati, 2 buah botol aluminium berisi ethanol, 1 buah saringan besar, 1 buah saringan kecil, 1 buah ulekan batu, 1 buah kain hitam bertuliskan solusi jihad warna merah, 1 buah gunting dan 4 buah baterai ABC berukuran kecil.
Kapolres Sukoharjo, AKBP Iwan Saktiadi menjelaskan, secara teknis Polres hanya membantu dalam menyiapkan dua orang petugas Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) atau mengidentifikasi di lokasi penggeledahan.
Penangkapan Sugeng Riyadi
Sebelumnya, Densus 88 telah menangkap seorang terduga teroris di Mojolaban, Sukoharjo, Minggu (9/6/2019) siang.
Terduga pelaku yang diamankan berinisial SR, warga RT 07 / RW 05 Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.
Dari penuturan Ketua RT setempat, Supardi (54) penangkapan SR dilakukan di Jalan Tanggul di kawasan Desa Laban, Mojolaban sekitar pukul 13.15 WIB.
• Selain Tangkap SR di Mojolaban, Densus 88 Antiteror Juga Geledah Rumah Umar di Cemani Sukoharjo
Sebelumnya, menurut Supardi, sekitar pukul 12.00 WIB, SR sempat salat di Masjid daerah Kenteng.
"Setelah salat dia hendak menuju ke rumah orangtuanya di Mojolaban, Sukoharjo, dia ditangkap petugas di jalan," katanya.
Supardi menceritakan, SR dikenal sebagai seorang pedagang di Pasar Klitikan, Solo sebagai pedagang sandal dan pakaian.
"Kalau siang, biasanya bekerja di tempat sablon," terangnya.
Supardi tidak menduga warganya menjadi terduga teroris.
Meski demikian, dia merakasan adanya perubahan gelagat pada diri SR sejak lima tahun terakhir.
"SR orangnya pendiam, akhir-akhir ini punya banyak teman Kenteng, lima tahun terakhir ini," jelasnya.
• Terduga Teroris yang Ditangkap Densus 88 Terlibat Bom Kartasura? Ini Penjelasan Kapolres Sukoharjo
Dia menambahkan, SR masih saling menyapa dengan tetangganya sebelum ditangkap.
"Sebelum salat zuhur dia momong anaknya di depan rumahnya, tapi dasarnya pak SR orangnya pendiam," terangnya.
Usai penangkapan, SR dibawa ke Polsek Mojolaban, dan seterusnya dibawa ke Semarang. (*)