Tokoh Agama Diminta Ikut Jaga Kondusifitas, Ini Pesan Ketua Yayasan Ponpes Al Mukmin Ngruki

Tokoh Agama Diminta Ikut Jaga Kondusifitas, Ini Pesan Ketua Yayasan Ponpes Al Mukmin Ngruki, jelang sidang perdana sengketa Pilpres 2019 di MK.

Tokoh Agama Diminta Ikut Jaga Kondusifitas, Ini Pesan Ketua Yayasan Ponpes Al Mukmin Ngruki
TRIBUNSOLO.COM/AGIL TRI
Ponpes Al Mukmin Ngruki di Desa Ngruki, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Tokoh agama dan masyarakat di Sukoharjo dan sekitarnya diminta ikut menjaga kondusifitas wilayah menjelang sidang perdana sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Ketua Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin Ngruki yang didirikan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir, KH Wahyudin menerangkan, pihaknya ingin tokoh agama dan masyarakat di Sukoharjo dan sekitarnya mampu menciptakan situasi kondusif.

Imbauan tersebut lanjut dia, untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kemaslahatan bangsa, serta bijak dalam menyikapi simpang siurnya berita tidak jelas sumbernya atau hoaks.

"Peran tokoh agama dan masyarakat penting untuk meredam dan menjaga semua ini," terang dia kepada TribunSolo.com, Kamis (13/6/2019).

Ponpes AL Mukmin Ngruki Sukoharjo Mengimbau untuk Menanti Keputusan MK dan Jaga Kondusifitas NKRI

Dia menghimbau agar mendekati sidang perdana sengketa Pilpres 2019 di MK yang dijadwalkan 14 Juni 2019, tidak dimanfaatkan untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab.

"Saya sebagai ketua yayasan khususnya dan secara pribadi menghimbau agar kondisi ini, tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif," imbuhnya.

"Allah memberikan isyarat, berikanlah berita gembira pada mereka yang senantiasa memperhatikan ucapan lalu memilih yang terbaik dan menyikapi dengan cerdas," ujar dia menegaskan.

Sidang Perdana Gugatan Sengketa Pilpres Digelar Jumat Besok, Pendukung Diimbau Tak Datang ke MK

Selain itu, dia juga berharap agar segala sesuatu dalam hal ini sengketa, dapat diupayakan dengan cara yang terbaik dan berakhlak, sehingga tidak menunjukkan hal-hal yang emosional.

"Itu bisa menimbulkan keretakan, yang terparah hingga menimbulkan pertumpahan darah, maka tekankan jalan islah dan berakhlak," harap dia. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved