Fakta-fakta Pria Gangguan Jiwa Bernama Wawan Game yang Ternyata Pernah Dipasung Belasan Tahun

Riwayat inilah yang akhirnya menjelaskan bahwa Iwan sebenarnya bukan kecanduan game online.

Fakta-fakta Pria Gangguan Jiwa Bernama Wawan Game yang Ternyata Pernah Dipasung Belasan Tahun
(Vitorio Mantalean)
IS (32) alias Wawan Game, orang dengan gangguan jiwa yang dirawat di Yayasan Jamrud Biru, Mustika Jaya, Bekasi. 

TRIBUNSOLO.COM - Seorang pria gangguan jiwa yang dewasa diketahui karib disapa Wawan Game (32), sontak menjadi perhatian banyak penjuru.

Kisahnya pun viral, usai Wawan Game ditampilkan dalam dalam tayangan DAAI TV Indonesia yang diunggah di Youtube pada 6 Juli 2019.

Dalam unggahan tersebut menyebutkan penyebab gangguan jiwa yang diidap Wawan dikarenkan kecanduan game HP-nya.

Ternyata gangguan jiwa yang diidap Wawan Game, memunculkan gerak-gerik tubuh yang tidak biasa, di mana terlihat pria berkepala plontos yang menggerak-gerakan jarinya seolah sedang memainkan handphone di tangannya.

Kepalanya terus menunduk seakan menghadapi layar handphone.

Lantas berikut fakta-fakta Wawan Game yang merupakan seseorang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

1. Mengidap skizofrenia.
Wawan Game ternyata mengidap skizofrenia akibat rentetan trauma.

Saat ini, ia dirawat oleh lembaga nirlaba rehabilitasi ODGJ di Mustika Jaya, Bekasi, bernama Yayasan Jamrud Biru.

Karena tingkah lakunya yang menyerupai orang bermain game online, ia akhirnya dijuluki Wawan 'Game'.

Wawan terus menunjukkan gerak-gerik yang tak biasa, terus diam, dan tak beranjak dari tempat duduk, melainkan hanya jari-jari tangannya yang senantiasa bergerak-gerak layaknya pemuda yang sedang gandrung game online.

"Bahkan Wawan menggunakan masker, berguna untuk membendung air lir yang keluar dari mulutnya, karena memang dirinya sangat pasif," terang Suhartono, selaku pemilik Yayasan Jamrud Biru, dilansir TribunSolo.com dari Kompas.com, Jumat (19/7/2019).

Pihaknya juga mengatakan, bahkan agar Wawan Game mau beraktifitas seperti pasien lainnya, antara lain futsal, ataupun senam harus benar-benar dibantu oleh orang lain.

2. Ternyata bukan karena kecanduan Game Online atau HP.
Sri Pujiawati, perawat Wawan Game dari LSM Gerak Cepat Bersama yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat, mengatakan Wawan menjadi gangguan jiwa bukan karena kecanduan Game Online atau Game HP.

Ternyata dibalik gangguan jiwa yang diidapnya, Wawawn Game ternyatamengalami masa lalu yang pilu.

Riwayat inilah yang akhirnya menjelaskan bahwa Iwan sebenarnya bukan kecanduan game online.

"Sebenarnya Iwan (panggilan LSM untuk Wawan) bukan sakit karena game online. Saya dampingi Iwan dari 2016, Kalau Iwan tangannya begitu karena rasa cemas yang tinggi, permasalahan yang enggak pernah dikeluarkan. Jari tangannya enggak mau diam bukan berarti karena enggak bisa main handphone," terangnya.

Sementara itu Game online yang dapat dimainkan lewat smartphone masih amat jarang ditemui.

Apalagi di tempat tinggal Wawan yang, menurut Sri, berada di suatu desa di Tasikmalaya, Jawa Barat.

"Dulu, dia pernah kerja di Bandung. Enggak tahu ada masalah apa di tempat itu. Ketika ada masalah itu, tiba-tiba orangtuanya secara berturut-turut meninggal. Itu yang bikin begitu. Orangtuanya meninggal ketika dia keluar SMA. Dari SMA sampai 2018 akhir itu Iwan terus-terusan dipasung," Sri melanjutkan ceritanya.

3. Wawan Game idap gangguan jiwa sudah sejak lama.
Dilihat dari psikologi, kejiwaan, rupanya Iwan menghadapi kecemasan yang berlebihan.

"Ada rasa takut, kecemasan, menarik diri. Termasuk, ketika ada orang asing dia enggak mau interaksi," jelas Sri.

Wawan lahir pada 1987, kata Suhartono. Lalu, seingat Sri, titik balik kesehatan mental Wawan terjadi tak jauh saat ia lulus SMA.

Akibat Kecanduan Game HP Pria Ini Alami Gangguan Jiwa, Jarinya Terus Bergerak dan Pandangan Kosong

Dengan asumsi bahwa seseorang kecil kemungkinan lulus dari SMA di atas usia 23 tahun, itu berarti Wawan sudah mengalami gangguan jiwa sebelum tahun 2010.

4. Wawan Game pernah dipasung belasan tahun.
Tak tahan dengan Wawan yang cenderung suka mengamuk dan agresif akibat gangguan jiwanya, keluarga pun kehabisan akal sehingga memasung Wawan selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, rasa cemas berlebih yang dialami Wawan tentu ada penyebabnya, dan penyebab itu sama sekali bukan game online yang baru merebak belakangan ini.

LSM Gerak Cepat Bersama sempat merawatnya beberapa tahun.

"Tahun 2016, saya dapat laporan bahwa di Tasikmalaya ada Iwan, belasan tahun dipasung sejak keluar SMA. Sama saya, dibebaskan bawa ke RS Jiwa Cisarua, Lembang. Beberapa kali dirawat. Pulang rawat inap ke rumah, karena Iwan sudah enggak punya orangtua, ditambah karena dia suka ngamuk, agresif, akhirnya sama saudaranya dipasung lagi," Sri bercerita.

5. Wawan diabaikan oleh keluarga.
Sri dan kolega kemudian menemukan bahwa Wawan alias Iwan kurang diperhatikan pihak keluarga.

Selain kekurangan kasih sayang, tidak ada yang mengantarnya ke rumah sakit atau puskesmas untuk pemeriksaan rutin.

"Dari situ, Iwan lepas obat lagi. Saya bawa ke rumah sakit di Bandung, masih begitu-begitu saja enggak ada perkembangan. Dirawatlah di RS Marzuki Mahdi, Bogor, karena saya kasihan. Kalau dibalikin ke Tasik lagi, nanti dipasung lagi," kenang Sri.

Lantaran tak menunjukkan tanda-tanda membaik, akhirnya melalui perantaraan dan rekomendasi Dinas Sosial Pemprov Jawa Barat, Wawan dititipkan ke Yayasan Jamrud Biru pada 2019.

Kala itu, kondisi fisik dan mental Wawan memprihatinkan. Dipasung bertahun-tahun, Wawan diduga mengidap malnutrisi.

"IS diantar dari LSM Gerak Cepat Bersama ke Yayasan Jamrud Biru dengan kondisi fisik memprihatinkan dan keadaan mentalnya lumayan parah. Dia enggak ngeh sekeliling, saraf motoriknya kayaknya sudah rusak," kata Suhartono.

6. Wawan Game jalani terapi ramuan air kelapa.
Petugas yayasan juga rutin memberinya terapi.

"Ada beberapa yang kami lakukan. Ada terapi saraf, totok, dan juga terapi ramuan air kelapa, pembinaan agama. Walaupun dia tidak merespons tapi pelan-pelan kami didik agar dia mengerti," jelas Suhartono.

Pria 43 tahun itu kemudian mempraktikkan salah satu bentuk terapi yang ia terapkan pada IS .

Ia menarik tangan IS hingga tubuh kurusnya berdiri. Kedua tangannya dipisahkan sambil dipijit.

"Kami tarik tangannya pelan-pelan. Kami coba pijit, kegiatan lain kami ajak muter, keliling panti. Kalau pagi, jari tangannya saya kasih beban 2-3 kilogram untuk dia pegang, walaupun ditaruh lagi benda itu. Kami gerakkan seperti senam," katanya. (*)

Penulis: Garudea Prabawati
Editor: Garudea Prabawati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved