Desak Polresta Solo Tuntaskan Kasus Tabrak Lari Overpass Manahan, LP3HI Keluarkan 4 Pernyataan Sikap

"Alasannya dalam mobil pelaku ada 4 orang sehingga harus dipastikan siapa yang mengemudi dan menabrak korban," papar Sigit

Desak Polresta Solo Tuntaskan Kasus Tabrak Lari Overpass Manahan, LP3HI Keluarkan 4 Pernyataan Sikap
ISTIMEWA
Viral video kecelakaan di Overpass Manahan Solo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ryantono Puji Santoso

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Lembaga Pengawasan dan Pengawalan Penegakan Hukum Indonesia (LP3HI) mengeluarkan pernyataan sikap terkait kasus tabrak lari Overpass Manahan solo.

Anggota LP3HI Sigit N Sudibyanto mengatakan, pihaknya dalam hal ini menegaskan untuk pihak kepolisian segera menuntaskan kasus tabrak lari Overpass Manahan solo.

Sigit menjelaskan, mereka mengeluarkan empat pernyataan sikap yakni pertama menyayangkan pihak kepolisian Resor Kota Solo yang terkesan lamban dalam menangani kasus tabrak lari Overpass ini.

"Alasannya dalam mobil pelaku ada 4 orang sehingga harus dipastikan siapa yang mengemudi dan menabrak korban," papar Sigit pada Wartawan, Selasa (30/7/2019).

Kedua, dalam Pasal 531 KUH Pidana jelas disebutkan orang yang menyaksikan sendiri ada orang dalam bahaya maut, lalai memberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu dapat diberikan bisa dihukum selama-lamanya 3 bulan atau denda Rp 4.500 jika orang yang membutuhkan pertolongan itu mati.

Selain itu, ada juga pasal 231 ayat (1) huruf C dan Pasal 232 huruf B UU RI No.22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Identitas Penabrak Maut Overpass Mahanan Solo Terungkap, Keluarga Korban: Syukur Ada Titik Terang

Identitas Penabrak Maut di Overpass Manahan Terungkap, Polisi Perkuat Bukti untuk Penangkapan

Banyak DM Masuk Polisi Tak Niat Selesaikan Kasus Tabrak Lari Overpass Solo, Ini Kata Kapolresta Solo

Pelaku Belum Tertangkap, Begini Ungkapan Isi Hati Anak Korban Kecelakaan Overpass Manahan Solo

"Aturan tersebut berbunyi setiap orang yang terlibat kecelakaan lalulintas maupun yang mendengar, melihat dan/atau mengetahui terjadinya kecelakaan lalu lintas wajib melaporkan kecelakaan tersebut pada kepolisian terdekat," tambah Sigit.

"Hal itu untuk kemudian dilakukan penyidikan terhadap kecelakaan tersebut," kata Sigit.

Ketiga, Penyidik harusnya memanggil para pelaku kemudian melakukan pemeriksaan dengan menerapkan pasal 310 ayat (1) jo Ayat (4) Jo Pasal 231 ayat (1) huruf C Jo Pasal 232 huruf B UU RI No.22 tahun 2009 jo Pasal 531 Jo Pasal 55 KUHP.

"Jelas dan nyata pelaku kabur dan tidak melaporkan kejadian, tidak melakukan pertolongan," kata Sigit.

Keempat, kepolisian Polresta Solo dalam hal ini satuan lalulintas harus membuktikan integritas dan profesionalismenya.

"Karena ada rumor jika pelaku terdapat oknum aparat dan atau dibekingi oleh Oknum aparat agar tercapai kepastian hukum dan keadilan," jelas Sigit. (*)

Penulis: Ryantono Puji Santoso
Editor: Garudea Prabawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved