Kena Musibah Kekeringan, Banyak Petani di Klaten Jawa Tengah Tak Ikut Asuransi Usaha Tani

"Di wilayah lain banyak petani yang tidak ikut asuransi karena berfikir asuransi hanya saat dibutuhkan saat terkena musibah," katanya.

Kena Musibah Kekeringan, Banyak Petani di Klaten Jawa Tengah Tak Ikut Asuransi Usaha Tani
TRIBUNJABAR/BUKBIS CANDRA ISMET BEY
Ilustrasi kekeringan. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Banyaknya lahan pertanian yang terkena Puso akibat kekeringan nyatanya tidak membuat petani menginvestasikan lahan mereka.

Sehingga saat terjadi bencana, banyak petani yang tidak mendapat ganti rugi apapun.

"Di wilayah Ceper ikut asuransi ada beberapa petani yang ikut asuransi dan klaim set hektar," kata Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klaten, Widiyanti kepada Tribunsolo.com, Selasa (30/8/2019) siang.

"Di wilayah lain banyak petani yang tidak ikut asuransi karena berfikir asuransi hanya saat dibutuhkan saat terkena musibah," katanya.

Padahal asuransi usaha tani sangat penting bagi petani sendiri.

Alami Kekeringan, ACT Solo Salurkan Bantuan Air Bersih ke Pelosok Sukoharjo, Jawa Tengah

Lintasan Jalan Tol Solo-Jogja di Klaten Bakal Digeser karena Terkena Mata Air

"Mereka banyak yang mengalami saat ikut asuransi tidak terkena musibah sedangkan saat tidak asuransi malah terkena musibah," katanya.

Namun, dirinya terus berupaya untuk mensosialisasikan kepada petani terkait pentingnya asuransi kepada petani.

Salah satu asuransi yang digagas pemerintah saat ini yakni program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Widiyanti membeberkan Premi Asuransi Usaha Tani Padi saat ini 3 %.

Hadir di Resepsi Pernikahan Siti Badriah, Pose Foto Nempel Ayu Ting Ting & Zaskia Gotik Jadi Sorotan

Ribuan Hektar Lahan Puso, Dinas Pertanian Sukoharjo Akan Buat Posko Kekeringan

Berdasarkan besaran biaya input usaha tani padi sebesar Rp 6 juta rupiah per hektar per musim tanam, yaitu sebesar 180 ribu rupiah per hektar per musim tanam.

Sedangkan bantuan pemerintah saat ini sebesar 80% sebesar 144 ribu rupiah per hektar per musim tanam.

Sedangkan saat ini petani harus membayar premi swadaya 20 % proporsional, sebesar Rp 36 ribu per hektar per musim tanam.

"Pembayaran itu kan murah sekali, jadi saya harapkan petani lebih sadar akan pentingnya asuransi," katanya. (*)

Penulis: Eka Fitriani
Editor: Garudea Prabawati
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved