Pasutri Dijerat Kasus Penipuan, Penggelapan dan Kepemilikan Uang Palsu oleh Polres Karanganyar

Satreskrim Polres Karanganyar menangkap pasangan suami istri (pasutri) yang kedapatan menyimpan uang palsu (upal).

Pasutri Dijerat Kasus Penipuan, Penggelapan dan Kepemilikan Uang Palsu oleh Polres Karanganyar
TribunSolo.com/Reza
Kapolres Karanganyar AKBP Catur Gatot Effendi saat melakukan jumpa pers kasus uang palsu di Mapolres Karanganyar. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Reza Dwi Wijayanti

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Satreskrim Polres Karanganyar menangkap pasangan suami istri (pasutri) yang kedapatan menyimpan uang palsu (upal).

Pasutri tersangka tersebut berinisial MS (50) dan ASN (50).

Uang palsu tersebut ditemukan saat polisi menggeledah mobil Datsun Go nomor polisi B 1395 EKX yang dikendarai kedua pelaku.

Polres Karanganyar Tangkap 2 Pelaku Penipuan, Modusnya Iming-Iming Dana Hibah dan Menjadi PNS

Awalnya polisi menangkap kedua pelaku atas laporan kasus penipuan dan penggelapan.

Saat di tangkap Kamis (25/7/2019) sekitar pukul 22.30 WIB di depan gedung badminton Kampung Baru, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta polisi menemukan uang palsu di mobil pelaku.

Penggeledahan bertujuan untuk mencari barang bukti dalam kasus penipuan dan penggelapan, ternyata juga ditemukan kasus lain yakni upal.

"Uang sudah di belanjakan di Banjarnegara dan Wonogiri, sebanyak empat lembar upal pecahan Rp 100 ribu dan tiga lembar upal pecahan Rp 50 ribu," katanya saat konfrensi pres.

Kepada penyidik pasutri tersebut mengaku mendapat uang dari Eko yang berasal dari Magelang.

Mereka membeli tujuh bandel uang pecahan Rp 100 ribu sebesar Rp 13 juta, dengan setiap bandel berisi 100 lembal upal.

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo Dukung Megawati Jadi Ketua Umum PDI Perjuangan Lagi

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Bambang Pramono menyatakan, barang bukti yang didapat oleh pihak polisi memang bukan uang sah.

"Uang ini tidak bisa memenuhi kriteria uang asli, dari bahan beda dan dilihat dari gambar timbul, teknik cetak, kode tuna netra tidak memenuhi kriteria," ungkapnya.

Tersangka akan diancam pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar menurut pasal 36 ayat 2 UURI no 7 tahun 2011 tentang mata uang. (*)

Penulis: Reza Dwi Wijayanti
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved