Bukannya Lari, Anak-anak di Temanggung Malah Bermain di Pusaran Angin Tornado, Tonton Videonya

Bukannya lari menghindar, anak-anak kecil berseragam pramuka ini justru mendekati angin tornado yang memporak-porandakan sekitar.

Tayang:
Penulis: Fachri Sakti Nugroho | Editor: Fachri Sakti Nugroho
TWITTER
Anak-anak berlarian mendekati angin tornado 

TRIBUNSOLO.COM - Bukannya lari menghindar, anak-anak kecil berseragam pramuka ini justru mendekati angin tornado yang memporak-porandakan sekitar.

Kejadian tersebut diduga terjadi di kawasan Gandurejo, Temanggung.

Tidak diketahui pasti kapan pastinya kejadian tersebut.

Namun video yang anak-anak yang mendekati angin tornado tersebut diunggah oleh akun @merapi_news, Kamis (8/8/2019).

Tersapu Angin Tornado, 51 Warga di China Tewas

Dalam unggahannya, akun @merapi_news menuliskan keterangan bernada kocak.

Akun @merapi_news menyebut, angin tornado tersebut tak ada harga dirinya karena tidak ditakuti oleh anak kecil.

"Cuma Di Negara Berkode +62 Angin tornado tak ada harga dirinya

Karang iseh bocah

vebryardiansyah via temanggungku
Gandurejo, Temanggung
(ojo ditiru)," tulis @merapi_news.

Memang benar adanya, dalam video singkat tersebut, anak-anak kecil yang mengenakan seragam pramuka tampak berlarian menuju pusat angin tornado.

Mereka berlarian dan tertawa-tawa seolah tak khawatir terseret pusaran angin.

Padahal angin tornado tersebut cukup besar.

Namun puluhan anak-anak tampak tak menghiraukannya.

Mereka malah berlarian mengelilingi angin yang pusarannya semakin membesar itu.

Dalam video terdengar pula teriakan orang dewasa yang memperingatkan anak-anak tersebut agar menjauh dari angin tornado.

Namun anak-anak tak menghiraukan peringatan tersebut.

Tonton videonya di bawah ini.

Supangat Bingung Cari Atap Gedung Bengkelnya Usai Disapu Angin Puting Beliung

Diberitakan sebelumnya, cuaca ekstrem terjadi saat hujan deras disertai angin kencang, kilat dan guntur melanda di sekitar wilayah Kabupaten Mempawah, di Kampong Paoh, Kelurahan Anjungan Melancar, Kabupaten Mempawah, Rabu (22/5) sore sekitar pukul 16.00 WIB.

Setelah itu datang angin puting beliung yang menerjang disekitar Kampung Paoh, tepatnya di RT 15 RW 01 sehingga menyapu belasan rumah warga hingga porak poranda.

Sedikitnya, 11 rumah hunian warga porak poranda, 6 tempat usaha dan 1 kantor KUA rusak.

Atap rumah beterbangan, bahkan ada yang melayang tersapu puting beliung hingga 200 meter.

Selain atap rumah warga, beberapa bangunan juga rusak parah, dinding yang terbuat dari batako sampai roboh akibat kencangnya tiupan angin.

Atap rumah yang melayang menimpa beberapa rumah warga lainnya hingga jebol, sejumlah batang pohon tumbang dan nyaris menimpa bangunan lain.

Saksi mata, sekaligus korban, Supangat (44) mengatakan saat kejadian warga berhamburan keluar rumah dan mencari tempat aman.

Sebuah Rumah di Mojolaban Sukoharjo Roboh Disapu Angin, BPBD, PMI, dan Koramil Berikan Bantuan

"Atap bengkel las saya habis terbang semua karena angin puting beliung, bahkan ada yang melayang sampai 200 meter jauhnya, dan kebanyakan hilang entah kemana," ujarnya saat dijumpai Tribun di lokasi.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang las dan akrab disapa Pak Usu tersebut mengatakan, atas musibah puting beliung tersebut beberapa unit mobil rusak akibat tertimpa atap yang roboh.

"Ada pohon yang tumbang, saya lihat 8 rumah tergolong rusak parah, sisanya porak poranda atapnya lepas semua," terangnya.

Pak Usu menuturkan saat kejadian, warga setempat keluar rumah, hujan begitu deras menderu hingga teriakan warga nyaris tak kedengaran.

"Warga panik semua, lihat angin kencang sekali, teriak pun tidak kedengaran," ucapnya.

"Lampu seketika mati, dan puting beliungnya menggulung seperti ombak, namun tidak lama, sekitar lima menit sudah selesai, tapi rumah udah pada hancur," tambahya.

Diduga Karena Curiga Suami Selingkuh, Istri Aktor Serial TV Populer di India Ini Bunuh Diri

Menurut keterangan Pak Usu, angin yang begitu kencang bertiup sebanyak dua kali, dimana tiupan pertama membuat beberapa atap terlepas, dan tiupan kedua membuat atap melayang-layang dan beberapa dinding batako roboh.

"Angin datang dari areal persawahan, karena disini lokasi pemukiman warga berada di dekat sawah yang luas, tidak jauh dari sini ada gunung, jadi sawah lapang itu tidak ada penghalang bagi angin puting beliung itu," tuturnya.

Terpisah, korban lain Sulistyo (29) menuturkan, saat musibah puting beliung itu, atap rumahnya terlepas, pohon sawo depan rumahnya tumbang dan nyaris menimpa dua unit mobil miliknya.

"Mobil itu kalau tidak saya pindahkan pasti sudah hancur tertimpa pohon, warga yang lain ada yang mobilnya tertimpa atap sampai rusak, syukur saya pindahkan begitu angin menderu," tuturnya.

Ia mengatakan sampai saat ini belum ada menerima bantuan dari pihak manapun, dan mereka sangat mengharapkan itu mengingat ini sudah dekat waktu lebaran.

"Tadi pagi sudah ada datang dari BPBD dan Dinas Sosial namun mereka baru melakukan pendataan saja, untuk bantuan belum ada kami terima, saya harap segera dibantu," ujarnya.

Sulistyo memprakirakan, kerugian yang ia alami mencapai Rp 10 juta rupiah sebab, kerusakan yang dialami cukup parah dan material sisa bangunan yang melayang suda hilang entah kemana.

Dari pantaun Tribun, masyarakat sekitar Kampung Paoh saat ini sedang beraktivitas membersihkan pekarangan rumah dan memperbaiki atap.

Pondok-pondok warga di sawah disapu bersih oleh angin puting beliung, beberapa terlihat berpindah tempat dan hanya sisa tiang yang menancap.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved