Semarakkan HUT RI Ke-74 dengan Cara Unik, Kecamatan Colomadu Akan Hidupkan Kembali Tradisi 'Mbaung'

Tradisi mbaung sendiri merupakan suatu tradisi yang dilakukan dengan membunyikan bunyi-bunyian, seperi kentongan, sirine, dan klakson oleh warga.

Semarakkan HUT RI Ke-74 dengan Cara Unik, Kecamatan Colomadu Akan Hidupkan Kembali Tradisi 'Mbaung'
TribunSolo.com/Adi Surya
Panitia HUT RI Tingkat Colomadu, Sugianto memberikan keterangan terkait acara detik-detik proklamasi di Lapangan Baturan pada pada Rabu (7/8/2019). 

Laporan Wartawan Tribunsolo.com - Adi Surya 

TRIBUNSOLO. COM,  KARANGANYAR - Panitia Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI)  tingkat Kecamatan Colomadu coba hidupkan kembali tradisi mbaung.

Ide menghidupkan kembali tradisi mbaung berasal dari Camat Colomadu,  Yopi Eko Jati Wibowo.  

Sementara tradisi mbaung sendiri merupakan suatu tradisi yang dilakukan dengan  membunyikan bunyi-bunyian, seperi kentongan, sirine, dan klakson oleh warga.

Pembunyian ini dilakukan saat sesi detik-detik proklamasi dalam upacara HUT RI yang akan digelar pada hari Sabtu (17/8/2019)  pukul 07.00 WIB di Lapangan Baturan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar

Bunyi-bunyian ini dibunyikan selama tiga menit.

"Ide semua dari pak camat untuk menghidupkan kembali tradisi mbaung, kami selaku panitia tinggal menindak lanjuti," kata Ketua Panitia HUT RI tingkat Colomadu, Sugianto, ungkapnya kepada TribunSolo.com, Rabu (7/8/2019).

AMTI Kupas Perda Kawasan Tanpa Rokok Solo: Pemkot Harus Gencar Sosialisasi, Awasi Penerapannya

Sugianto menjelaskan tradisi mbaung berawal dari tradisi milik Pabrik Gula (PG) Colomadu yang membunyikan sirine setiap 30 menit sebelum pergantian shift kerja pegawai. 

"PG Colomadu memiliki jadwal pergantian shift, yaitu jam enam pagi,  jam dua siang, dan jam 10 malam saat masih produktif."

"Setiap setengah enam pagi, setengah dua siang, setengah sepuluh malam PG membunyikan sirine untuk memberikan tanda pergantian shift dan persiapan berangkat kerja kepada para pegawai,  dan itu dikenal dengan istilah mbaung." tutur Sugianto

Lebih lanjut, Sugianto menjelaskan berangkat dari tradisi PG itulah, Kecamatan Colomadu meminta bantuan PG Colomadu untuk membunyikan sirine sebagai tanda pengingat detik-detik proklamasi. 

"Berhubung PG Colomadu tidak produktif lagi,  kita ingin menghidupkan kembali tradisi mbaung lewat membunyikan bunyi-bunyian, " kata Sugianto. 

(*)

Editor: Garudea Prabawati
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved