Anak Penjual Gorengan Raih Gelar Master

Angga Anak Penjual Gorengan di Boyolali Kerap Di-bully saat SD, Kini Raih Gelar Master di Skotlandia

Saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Angga Fauzan ia kerap mendapat perlakukan tidak adil dari teman-teman sekolahnya.

Angga Anak Penjual Gorengan di Boyolali Kerap Di-bully saat SD, Kini Raih Gelar Master di Skotlandia
TWITTER
Angga Fauzan, anak penjual gorengan yang raih gelar master 

TRIBUNSOLO.COM - Angga Fauzan, anak seorang penjual gorengan dari Cepogo, Boyolali, yang menorehkan prestasi gemilang di bidang akademik.

Angga Fauzan berhasil meraih jenjang master di Edinburgh University, Skotlandia.

Keberhasilan Angga Fauzan bukan tanpa usaha. 

Berkali-kali ia harus memutar otak untuk dapat mewujudkan cita-citanya.

Rumah Bekas Kandang Kambing yang Dulu Ditempati Angga Fauzan Direnovasi, Seperti Ini Penampakannya

Angga Fauzan bukanlah anak dari orang kaya nan terpandang.

Justru sebaliknya, Angga hanyalah anak biasa yang lahir dari orangtua yang biasa dan tinggal di tempat yang biasa, yakni Cepogo, Boyolali. 

Cepogo adalah kawasan di kaki gunung Merbabu, jaraknya sangat jauh dari pusat Kota Boyolali.

Meski begitu, semangat Angga Fauzan untuk meraih cita-citanya tak pupus oleh jarak dan miminya kesempatan.

Saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Angga Fauzan ia kerap mendapat perlakukan tidak adil dari teman-teman sekolahnya.

Meski saat itu Angga Fauzan dan teman-temannya masih kanak-kanak, namun apa yang dilakukan teman-temannya tetap saja tidak bisa dibenarkan.

Angga Fauzan korban penggusuran tanpa kompensasi di Jakarta

Angga Fauzan sebelumnya tinggal di Jakarta, tepatnya di kawasan Ciracas, Jakarta Timur. Di sana ia bersekolah di SDN 05 Pagi Susukan.

Di Ciracas, ayah Angga Fauzan sempat berjualan jagung rebus, kacang, es buah dan sebagainya keliling pakai gerobak di kawasan TMII dan sekitarnya.

Kemudian ayah Angga Fauzan membuka lapak untuk berjualan ayam goreng.

Dulu Tinggal di Bekas Kandang Kambing, Angga Fauzan dari Boyolali Raih Gelar Master di Skotlandia

Namun lapak ayah Angga Fauzan digusur oleh pemerintah kota. Ironisnya, penggusuran tersebut tanpa disertai kompensasi.

Hal ini membuat Angga Fauzan dan keluarganya pulang kampung ke Cepogo, Boyolali dan meninggalkan Ibu Kota selama-lamanya.

"Ya jadi bisa dibilang, karena korban penggusuran tanpa kompensasi jelas, kami pindah ke kampung halaman bapak di Boyolali. padahal di Jakarta aku sudah cukup nyaman dengan fasilitas dan teman-teman yang baik. Aku dulu SD-nya di SDN 05 Pagi Susukan. Pinggir kali tuh, pernah liat ular ngambang," kata Angga Fauzan melalui Twitternya, Senin (8/8/2019).

Ayah Meninggal dan Ibu Pergi, 3 Bersaudara di Boyolali Hidup Sengsara: Putus Sekolah karena Di-bully

Tinggal di bekas kandang kambing

Di Cepogo, Boyolali, nasib baik tak jua datang menghampiri Angga Fauzan.

Ia terpaksa tinggal di bekas kandang kambing milik kakeknya yang terletak di pinggir kebun bambu.

"Jadilah rumah tripleks alas tanah dan semen seadanya yang kalau hujan pasti bocor di mana-mana, kalau angin tuh daun-daun bambu masuk semua," kata Angga Fauzan.

Semenjak di Boyolali, orangtua Angga Fauzan menjajal berbagai macam usaha untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Terutama sang ibu, mulai dari jualan es campur, siomay, hingga gorengan dilakoni ibu Angga Fauzan.

Dipersekusi dan kesulitan biaya sekolah

Penderitaan Angga Fauzan tak berhenti sampai di sini saja. Di sekolah barunya, ia kerap dipersekusi teman-temannya.

"Di-bully dan dikeroyok selama bertahun-tahun itu gak enak parah. Aku sering pulang sekolah langsung nangis, salah satunya pas diajak (dipaksa) bolos pas jam kosong. Itu pada ngerokok plus joget-joget gak jelas di rumah salah satu dari kami dan aku dipaksa juga tapi aku gak mau ngerokok. Mau lapor guru gak berani," ungkap Angga Fauzan.

Titik terang datang pada Angga Fauzan saat ia masuk ke SMP 2 Boyolali.

Bertemu dengan orang baru yang lebih keterogen, kehidupan sekolah Angga Fauzan lebih baik dibanding saat SD dulu.

Di SMP Angga Fauzan kerap menghabiskan waktu membaca buku di perpustakaan.

Beberapa buku dari penulis terkenal ia baca sampai selesai.

"Nah pas aku mau masuk SMP tujuanku tadi, orangtua gak ngebolehin awalnya. Karena gak punya uang. perjalanan pulang-pergi ke Boyolali kota tuh (biayanya) 3 ribu, naik bis total perjalanan bisa 2-3 jam. Butuh berminggu-minggu sampai akhirnya bapak mau nyari utangan biar anaknya sekolah di situ," ungkap Angga Fauzan.

"Saking seringnya baca buku di perpus, tasku sering jebol dan mesti ganti. Aku dapat penghargaan juga sebagai pengguna jasa perpustakaan terbaik di sekolah. Ada guru Bahasa Indonesia juga yang suka ngasih nilai tambahan kalau muridnya bikin resensi buku yang habis dia baca. Jadi deh makin rajin," imbuhnya.

Ayah Meninggal Ibu Pergi Tak Kembali, 3 Bersaudara di Boyolali Dibantu Tetangga untuk Bertahan Hidup

Selesai menempuh jenjang SMP, Angga Fauzan meneruskan pendidikannya di SMA 3 Boyolali.

Bukan tanpa usaha keras, Angga Fauzan bisa sekolah di SMA favorit di Boyolali tersebut.

Untuk sekolah di SMA 3 Boyolali, Angga Fauzan harus mendaftar secara diam-diam.

Pasalnya, keluarga besarnya tidak menyetujui Angga sekolah di SMA 3 Boyolali.

Mereka lebih sepakat Angga Fauzan sekolah di SMK agar setelah lulus bisa langsung kerja.

Namun, ayah Angga Fauzan tak tega hati. Angga-pun diizinkan sekolah di SMA 3 Boyolali.

"Sampai akhirnya aku bilang pas aku udah keterima peringkat dua dari bawah. Ya mau gak mau mengandalkan keajaiban buat bayar uang pangkal. Aku nunggu bapak di sekolah yang lagi nyari pinjeman di bank tanpa bisa kasih jaminan, sampai menit-menit terakhir penutupan daftar ulang," kata Angga Fauzan.

Kemampuan Angga Fauzan semakin terasah di SMA 3 Boyolali. Ia mendapat banyak teman dari berbagai kalangan.

Saat duduk di kelas 3 SMA, ia berkeinginan untuk mengambil jurusan Seni Rupa di Universitas Sebelas Maret (UNS).

Namun keinginan itu ia pupuskan karena nasihat dari salah satu gurunya.

"Nah pas kelas tiga SMA, aku kepikir untuk masuk UNS ambil Seni Rupa. Alesannya karena sering ke sana buat lomba. Terus ada guru aku, Pak Eko, yang tanya mau kuliah ke mana, terus dia bilang, 'hidup itu gak cuma di Jawa Tengah, coba keluar, cari yang terbaik, biar jauh berkembang.'," ungkap Angga Fauzan menirukan ucapan gurunya.

Sempat tak diterima di ITB

Angga Fauzan kemudian memutuskan untuk masuk ke ITB lewat jalur undangan.

Namun nasib berkata lain, Angga Fauzan tak diterima di kampus favorit tersebut.

Tak patah arang, sekali lagi Angga Fauzan mencoba peruntungannya di ITB.

Dan di kali kedua usahanya, Angga Fauzan berhasil lolos ke ITB.

"Jadi aku gak pernah dikasih uang bulanan sama orangtua. Adanya uang semesteran tiap pulang kampung, sekitar 400-700 ribu hasil utang entah dari mana. Sisanya ngandelin beasiswa yang turun sekenanya. Seringkali aku kalau malam kelaperan karena gak punya duit buat makan. Apalagi FSRD tuh boros banget."

"Dulu juga pernah ada tetangga ngasih sedekah 1,5 juta, ku beliin laptop bekas yang ku pakai sampe tingkat tiga kuliah. Yang kalau dipakai, suaranya berisik, layarnya kadang biru, entah beberapa kali sering masuk servis. Sampai akhirnya bisa beli laptop sendiri hasil tabungan dan kerja ngajar privat," kata Angga Fauzan.

3 Bersaudara di Boyolali yang Ditinggal Ibunya Andalkan Nafkah dari Kakak yang Tinggal di Purwodadi

Setelah dari ITB, Angga kepikiran untuk masuk ke Oxford University.

Namun di akhir eksekusinya, ia justru memilih Edinburgh.

Perjalanannya ke Edinburgh dapat dibilang tak mulus.

Ia pernah gagal di uji coba pertama. Namun ui atak menyerah dan mencoba lagi.

Akhirnya Angga berhasil lolos dan kuliah di tempat yang diinginkannya.

Ayah Meninggal, Ibu Pergi Entah ke Mana, 3 Bersaudara di Boyolali Hidup Sengsara dan Butuh Bantuan

Setelah lulus dari ITB, Angga Fauzan yang sudah memiliki penghasilan meminta ibunya untuk berhenti jualan gorengan.

Ia juga juga merenovasi rumahnya yang dulu bekas kandang kambing.

Sekarang orangtua Angga Fauzan mengurus usaha kerajinan di rumahnya, Cepogo, Boyolali.

(*)

Penulis: Fachri Sakti Nugroho
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved