Kementrian Kesehatan Sebut Stunting Berdampak Pada Kemiskinan

Di gelaran Rembug Stunting, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa stunting efektif menyumbang kemiskinan.

Kementrian Kesehatan Sebut Stunting Berdampak Pada Kemiskinan
TRIBUNSOLO.COM/EKA FITRIANI
Gelaran Rembug Aksi percepatan penurunan stunting di Pemkab Klaten, Rabu (14/8/2019) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Di gelaran Rembug Stunting, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa stunting efektif menyumbang kemiskinan.

Pemerintah harus lebih serius menangani kasus stunting.

Hal tersebut dikaranakn korban bakal mengalami keterbatasan akses pekerjaan yang lebih baik.

“Saya belum lama menguji mahasiswa desertasi yang mengambil kasus prevalensi kasus stunting, data kasus stunting diambil peneliti di lokus tertentu pada 1994 menunjuk ada 49 persen anak korban stunting," kata Perwakilan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dahlan Choiron, Kamis (14/8/2019) siang.

"Setelah diteliti data tersebut 2015 atau 20 tahun kemudian diketahui korban stunting diketahui tidak lulus SD, tidak melanjutkan SMP dan menjadi keluarga miskin," katanya.

Cegah SDM Tak Kompeten, Kominfo Gandeng Generasi Milenial Turunkan Prevalensi Stunting

Jika korban tersebut mengalami gagal tumbuh kembang seperti otak tidak cerdas dan tubuh kerdil, maka sulit mengakses pekerjaan yang lebih baik.

Hal tersebut dapat berdampak pada tingkat pendapatan.

Ditambahkan dampak stunting yang dialami korban adalah hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ yang terganggu, khususnya otak.

Gejala yang kasat mata adalah gangguan berat badan tidak normal alias alias BBTN.

Gelar Sosialisasi di Sumber, Solo, Kemenkominfo Tegaskan Pentingnya Kurangi Angka Kasus Stunting

Asisten Pemerintahan Setda Klaten Rony Roekmito membeberkan bahwa ada 3711 kasus stunting di Kabupaten Klaten.

"Saya minta petugas turun ke lapangan mengecek kondisi korban dan lakukan intervensi yang bisa dilakukan pemerintah," katanya.

"Kalau belum ada asuransi bantu dengan BPJS. Misalnya belum bekerja Dinas Tenaga Kerja bisa melakukan pelatihan dan penyaluran pekerjaan," katanya.(*)

Penulis: Eka Fitriani
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved