Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Apresiasi Seminar Nasional BPIP di UNS Solo

Ganjar Pranowo menyambut baik dan mengapresiasi seminar nasional BPIP di UNS Solo itu.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Apresiasi Seminar Nasional BPIP di UNS Solo
TRIBUN JATENG/AGUS ISWADI
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Seminar nasional Pancasila Sebagai Platform Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang diselenggarakan Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mendapat apresiasi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, Ganjar Pranowo menyambut baik dan mengapresiasi seminar nasional yang diselenggarakan di Auditorium GPH Haryo Mataram Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, pada Senin (19/8/2019) itu.

"Saya menyambut baik dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya forum ini, selain sebagai media diskusi dan berbagi ide dan pikiran, forum ini juga menjadi wahana mencari solusi atas berbagai permasalahan yang menerpa Bangsa Indonesia," ucap Taj Yasin Maimoen.

Lebih lanjut, Ganjar Pranowo mengatakan, Seminar Nasional Pancasila Sebagai Platform Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dapat dilihat sebagai itikad memajukan bangsa berdasarkan Pancasila.

Hadiri Seminar Nasional BPIP, Wagub Jawa Tengah Taj Yasin Singgung soal Pancasila Bersyariah

"Karna permasalahan yang dihadapi Indonesia ada banyak, seperti saat ini kita masih diganggu oleh tindakan radikalisme, terorisme, dan intoleransi."

"Kita prihatin ada sejumlah anak muda Jawa Tengah yang tergabung dalam tindakan radikalisme, terorisme, dan intoleransi, maupun organisasi massa berideologi anti-Pancasila," ucap Taj Yasin Maimoen.

Dalam sambutannya, Ganjar Pranowo juga mengatakan ujaran kebencian yang disebarkan melalui media sosial, penyebaran hoaks, politik identitas, dan kampanye hitam adalah segelintir permasalahan lain yang sedang dihadapi saat ini.

"Banyak generasi muda kita dengan mudahnya menyebarkan ujaran kebencian, serta kata-kata kotor dan benci melalui media sosial untuk mencati kebenaran."

"Tak hanya itu, praktik-praktik dalam gelaran pesta demokrasi juga memunculkan isu-isu SARA, kampanye hitam, politik uang, politik identitas, dan penyebaran isu-isu hoaks."

"Semua itu berpotensi mengganggu persatuan dan kesatuan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," imbuh Taj Yasin Maimoen.
(*)

Penulis: Adi Surya Samodra
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved