Kemarau Panjang, Petani Tembakau di Desa Jeruk Boyolali Untung Besar
Petani tembakau di lereng Gunung Merbabu, Desa Jeruk, Kecamatan Selo, Boyolali untung besar.
Penulis: Eka Fitriani | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Petani tembakau di lereng Gunung Merbabu, Desa Jeruk, Kecamatan Selo, Boyolali untung besar.
Di jalan-jalan desa terlihat banyak rumah yang mengeringkan tembakau di atas anyaman bambu.
Salah satu petani tembakau, Nur (63) mengaku biasanya mengirim hingga 500 kilogram saat musim panen seperti ini.
Sedangkan untuk kualitas ada dua jenis tembakau yang dipanen.
"Ada yang kualitas super dan standar, kalau untuk kualitas super capai Rp 76 ribu per kilogram," katanya kepada TribunSolo.com, Selasa (17/9/2019).
• Ganjar Pranowo Petik 12 Daun Tembakau di Ritual Tungguk Tembakau Boyolali, Ini Alasannya
"Sedangkan untuk standar Rp 65 ribu per kilogram," jelas dia membeberkan.
Namun menurut dia, saat masa panen sudah hampir habis harga tembakau juga menurun.
Usai panen dirinya biasanya mengirim tembakau tersebut ke wilayah Magelang.
Beberapa petani di Desa Jeruk sendiri memang telah bekerja sama dengan PT Djarum untuk menjual tembakaunya.
"Tapi kami ngirimnya ke Magelang," ungkap dia.
• Moeldoko Ceritakan Masa Kecilnya, Dibangunkan Pakai Rotan Jam 4 Pagi hingga Menyiram Tembakau
Dirinya mengaku bersyukur tahun ini tidak ada masalah dengan tanamannya saat musim kemarau panjang.
Hal tersebut karena tanaman tembakau lebih tahan saat musim kemarau.
"Kami tidak terkendala soal kekeringan padahal memang tanaman jenis ini butuh air banyak," aku dia.
Sedangkan dirinya mulai menanam tembakau pada Maret, kemudian bisa panen pada Agustus dan September 2019.
"Soalnya tanaman tembakau itu kuat panas," katanya. (*)
Beberapa jenis tembakau yang dipanen Nur yakni Gombel kenongo dan Cetok.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/petani-tembakau-boyolali.jpg)