Pilkada Solo 2020

Soal Gibran Maju Bursa Calon Wali Kota Solo 2020, Pengamat Politik: Tunda Dulu Saja

Nama Gibran Rakabuming Raka sempat terdengar dalam bursa calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020.

Soal Gibran Maju Bursa Calon Wali Kota Solo 2020, Pengamat Politik: Tunda Dulu Saja
BPMI Setpres
Presiden Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka saat santap siang di rumah makan Ayam Goreng Kampung Mbah Karto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu, 28 Juli 2019. Dalam kesempatan tersebut keduanya berkomentar soal survei Calon Wali Kota Surakarta 2020-2025. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Nama Gibran Rakabuming Raka sempat terdengar dalam bursa calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020.

Menanggapi tersebut, ada pandangan berbeda dari pengamat politik solo, di mana masih menyarankan putra sulung Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk menunda langkahnya terjun ke dunia politik. 

Pengamat politik Solo, Agus Riwanto mengatakan, Gibran kemungkinan tidak dipilih karena sumbangsih sosial dan pengalaman politik yang dimilikinya masih minim.

"Saya melihat saat ini Gibran masih belum menjadi dirinya sendiri," kata pria yang akrab disapa Agus itu. 

Purnomo-Teguh Masuk Daftar Paslon Wali Kota Solo, Pengamat: Sebatas Keinginan Sebagian Elit PDIP

Pilkada Solo 2020, Gerindra Solo Mengaku Sudah Hubungi Gibran: Jawabannya Hanya Ketawa

"Gibran itu hanya dikenal sebagai anak Presiden, belum ada pekerjaan yang meyakinkan publik Solo," imbuhnya

Agus kemudian menyarakan, Gibran untuk menunda langkahnya terjun ke dunia politik. 

Nicholas Sean Putra Sulung Ahok Ulang Tahun ke-21, Bagikan Potret Bersama Sang Ibu dan Adik

"Mungkin tidak hari ini, lebih baik di Pilkada 2024, setelah Jokowi tidak lagi menjabat sebagai Presiden," terang Agus. 

Agus menambahkan, jika Gibran maju di Pilkada 2024 maka itu bisa mengurangi tanggapan negatif dari publik.

"Terlebih, publik saat ini tida suka dengan dinasti politik, tentu itu bisa saja dihukum rakyat," terang Agus. 

"Nanti jadinya,  ya, menang ora kondang (menang tidak terkenal), kalah ngisini-ngisini (kalah malu-maluin)," imbuhnya 

(*)

Penulis: Adi Surya Samodra
Editor: Garudea Prabawati
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved