Breaking News:

Begini Kisah Dewi, Bermula dari Rajin Minum Jamu hingga Punya Anak 8, Kini Dewi Jadi Pengusaha Jamu

Dalam usia 31 tahun, Dewi Hartarti telah memiliki delapan anak. Bermula dari rajin meminum jamu, warga Bukit Merapin, Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka

Editor: Reza Dwi Wijayanti
(Dokumentasi keluarga.)
Dewi Hartarti bersama suami dan delapan anaknya di Pangkal Pinang. 

Bahkan pesanan jamu juga datang dari mancanegara seperti Singapura, Taiwan, Hongkong, dan Swiss.

Pesanan yang kian ramai membuat Dewi membuka cabang usaha jasa pengiriman di dekat rumahnya.

Ia pun kini telah membuat merk jamu sendiri bernama "Dewi Mak Ganak".

"Mak Ganak artinya Mak Gaul Banyak Anak," ujar Dewi sembari tertawa.

Omzet penjualan

Dari penjualan jamu, Dewi bisa meraup omset Rp 60 juta sampai Rp 70 juta per bulan.

Setiap jamu dijual dengan harga bervariasi.

Mulai Rp 20.000 hingga Rp 100.000 untuk kemasan paket.

Jamu Mak Ganak, kata Dewi, diolah dari rempah-rempah asli Bangka.

Cicipi Kuliner di Pondok Jamur Karanganyar, Alternatif Menu untuk Vegetarian dan Tanpa MSG

Para petani mengantar langsung rempah-rempah yang dibutuhkan ke rumahnya yang sekaligus sebagai dapur jamu Mak Ganak.

"Bahan-bahan yang sudah dikenal seperti kunyit, pinang muda dan jahe," ujar dia.

Penjualan jamu yang kini laris membuat  Dewi sedikit kewalahan.

Dalam sehari pesan di akun WhatsApp-nya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan.

Dia harus mengelola sendiri akun pesanan, karena banyak yang memesan sembari berkonsultasi.

Pengiriman ke luar negeri 

Dewi mengatakan, pengiriman jamu ke luar negeri sedikit mengalami kendala.

Sebab, hingga saat ini belum ada jasa pengiriman yang bisa menjamin barang tiba tepat waktu ke alamat yang dituju.

Durasi waktu menjadi perhitungan serius karena terkait daya tahan jamu selama dalam kemasan.

Selama ini jamu yang dijual tanpa bahan pengawet dengan pengemasan yang masih sederhana.

"Ada pesanan dari Brunei Darussalam dan Madina Arab Saudi, tapi belum bisa dikirim. Mau kirim bagaimana itu yang belum tahu," ujar dia.

Pengiriman jamu ke Swiss dilakukan dengan cara menitip pada kenalannya yang berangkat dari Semarang.  

"Kalau Hongkong, Singapura dan Taiwan memang sudah sering, sudah biasa pakai jasa pengiriman," ujar Dewi. 

Dewi mengaku siap jika ada rekan bisnis yang mau bermitra untuk jasa pengiriman luar negeri.

Peluang usaha ini terbuka karena banyak pesanan yang sebagian besar belum bisa ter-cover.  

Puas dengan jamu racikan Dewi

Mengalirnya usaha penjualan jamu Dewi tak bisa dilepaskan dari testimoni para pelanggan di media sosial.

Banyak yang mengaku puas dan berhasil mendapatkan keturunan setelah meminum jamu Mak Ganak.

"Ada pembeli dari Betung, Palembang yang tidak menstruasi selama tujuh tahun. Setelah minum jamu, sehari setelahnya langsung datang bulan. Kemudian di Toboali Bangka Selatan sudah enam tahun, akhirnya datang juga," ujar dia.

Ada juga pelanggan yang hamil meskipun sudah divonis dokter ada kebuntuan pada rahim.

Pelanggan itu telah menikah selama enam tahun, beruntungnya baru minum sebotol.

Sumbatan pada rahim wanita tersebut keluar. Darah beku seperti kista itu pun sempat difoto pelanggan dan diposting ke media sosial Mak Ganak.

Belakangan pelanggan tersebut melaporkan jika dirinya sudah mulai "ngisi" atau hamil.

"Pelanggan di medsos mereka juga konsultasi dan kalau berhasil mereka posting juga," beber Dewi.

Jamu Mak Ganak pun dipercaya tidak hanya untuk kesuburan laki-laki dan wanita, tapi juga membantu memperkuat janin dan stamina ibu hamil.

Kini jamu tersebut telah mengantongi surat izin usaha dan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia. (Heru Dahnur)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Dewi, Nikah Muda Lahirkan 8 Anak karena Jamu, Akhirnya Jadi Usaha Beromzet Puluhan Juta"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved