Kisah Pilu Kakek Tobias asal Sikka, 20 Tahun Buta, Tinggal di Pondok Tua Tanpa Kasur dan Bantal

kakek Tobias tinggal di gubuk kecil dan tua itu karena tidak bisa jalan keluar rumah. Terlebih khusus saat buang air dan mandi.

(KOMPAS.COM/NANSIANUS TARIS)
Foto : Kakek Tobias Kuut (70) dan Odilia Oliva saat diwawancara Kompas.com di gubuk tua mereka, di Desa Koting D, Kecamatan Koting, Kabupaten Sikka, NTT, Kamis (24/10/2019). 

TRIBUNSOLO.COM - Kakek Tobias Muut (70), warga Desa Koting D, Kecamatan Koting, Kabupaten Sikka, sudah 20 tahun mengalami kebutaan.

Kakek Tobias mengalami kebutaan karena terkena serangga saat bekerja di kebunnya. 

Sejak mengalami kebutaan, kakek Tobias hanya bisa terbaring lemas di dalam sebuah gubuk tua. Di gubuk tua itu, ia tidur tanpa kasur dan bantal. 

Di siang hari, suhu di pondok tua ini sangat panas. Kakek Tobias terpaksa membuka baju agar tidak gerah. 

Untuk buang air besar dan kecil serta mandi, ia harus jalan merangkak menuju kamar mandi. Tak jarang, ia juga buang air di tenda tidurnya.

"Sudah 20 tahun saya ini buta, Pak. Awalnya kena serangga, lama-lama saya jadinya tidak bisa melihat sampai sekarang. Mau obat ke dokter, uang dari mana. Kami ini orang miskin. Tidak punya apa-apa," tutur kakek Tobias kepada Kompas.com, Kamis (24/10/2019). 

Chord Kunci Gitar dan Lirik Bapak - Didi Kempot : Bapak Bapak Kowe Koyo Senopati

Ia mengungkapkan, setelah mengalami kebutaan, ia tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Setiap hari, ia hanya bisa baring di tenda tidur sambil menunggu makan dari sang istri.

Kakek Tobias mengaku, dulunya ia bekerja menanam kacang tanah, memetik kakao, dan kelapa untuk memperoleh uang. Namun, sejak matanya buta, uang susah sekali diperoleh. 

"Saya hanya kasihan dengan istri. Dia terpaksa kerja keras untuk kasih saya makan. Sebenarnya saya ingin sekali melihat lagi. Itu saja mimpi saya dari dulu," kata kakek Tobias.

Sementara itu, istri kakek Tobias, Odilia Oliva menuturkan, keluarganya tidak mendapat bantuan sosial dari pemerintah. Mulai dari bantuan sosial program keluarga harapan (PKH), beras sejahtera hingga program bedah rumah.

"Sepuluh tahun lalu pernah ada bantuan jumlahnya Rp 500.000. Hanya sekali itu saja. Sampai sekarang sudah tidak dapat lagi," tutur Oliva. 

Ia mengatakan, suaminya selalu berharap ingin kembali melihat seperti sediakala. Namun, apa daya, kondisi ekonomi tidak memungkinkan untuk berobat ke dokter. Niat besar untuk berobat ke dokter terkendala di biaya. 

Direktur di Bontang Tersangka Korupsi Rp 18 Miliar telah Tertangkap, Kabur 2 Tahun & Ganti Identitas

"Tolong suami saya, Pak. Dia pingin sekali melihat lagi," kata Oliva. 

Oliva mengaku, ia dan suaminya tidak memiliki kartu BPJS kesehatan. Padahal, kalau ada kartu itu, sang suami bisa terbantu untuk memeriksakan diri ke dokter. 

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved