Berita Terbaru Solo

Profil Singkat Tiga Calon Guru Besar UNS Solo yang Akan Segera Dikukuhkan

Tiga calon guru besar baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta akan dikukuhkan di Auditorium GPH Haryo Mataram UNS.

Profil Singkat Tiga Calon Guru Besar UNS Solo yang Akan Segera Dikukuhkan
TRIBUNSOLO.COM/RYANTONO PUJI SANTOSO
Tiga calon Guru Besar baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ryantono Puji Santoso

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tiga calon guru besar baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta akan dikukuhkan di Auditorium GPH Haryo Mataram UNS, Selasa (5/11/2019), mendatang.

Tiga calon guru besar baru tersebut adalah Prof Dr Suciati, MPd dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP); Prof Dr Leo Agung S, MPd dari FKIP; Prof Dr Istadiyantha, MS dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

Lebih rinci Prof Dr Suciati, MPd akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan IPA FKIP UNS.

Sementara, Dr Leo Agung S, MPd akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan FKIP UNS.

Prof Dr Istadiyantha, MS akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Timur Tengah.

UNS Gandeng Kemenkes Gagas Kampus Sehat, Kawasan Tanpa Rokok jadi Poin Penilaian 

Prof Dr Suciati, MPd mengatakan, saat pidato pengukuhan dirinya akan membacakan pidato pengukuhan dengan judul Teknik Scaffolding pada Pembelajaran IPA Berorientasi Inkuiri: Implikasinya terhadap Kemampuan Berpikir Ilmiah.

Sementara itu, Dr Leo Agung S, MPd akan membacakan pidato pengukuhan dengan judul Pendidikan Karakter sebagai Fondasi Keterampilan Abad 21 (5CS Super Skills).

"Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen pendidikan itu sendiri," kata Dr Leo Agung S, MPd, Kamis (31/10/2019).

Sedangkan Prof Dr Istadiyantha, MS akan membacakan pidato pengukuhan dengan judul Pemaknaan Baru Terhadap Hubungan Indonesia - Timur Tengah dalam Rangka Menyongsong ERA 5.0.

"Maksud dari studi ini adalah membuka peluang untuk mencari makna baru dari hubungan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah," kata Istadiyantha.

"Bukan lagi bersifat oposisi biner, seperti baik–buruk dan hitam-putih, tetapi dicari warna dan makna lain yang positif," tambahnya. (*)

Penulis: Ryantono Puji Santoso
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved