Grebeg Mulud, Ini Alasan Mengapa Warga Solo Rela Susah Payah Berebut Gunungan, Bahkan Sampai Terluka

Grebeg Mulud, Ini Alasan Mengapa Warga Solo Rela Susah Payah Berebut Gunungan, Bahkan Sampai Terluka

Grebeg Mulud, Ini Alasan Mengapa Warga Solo Rela Susah Payah Berebut Gunungan, Bahkan Sampai Terluka
TRIBUNSOLO.COM/ADI SURYA SAMODRA
Warga berebut gunungan di acara Grebeg Mulud Keraton Solo. Seorang warga bangga mendapat secuil makanan di gunungan, meski harus terluka. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad ditandai dengan Hajaddalem Garebeg Mulud Wawu 1953, Sabtu (9/11/2019).

Di acara ini, jangan heran melihat antusiasme warga Solo berebut gunungan yang disediakan pihak Keraton Surakarta Hadiningrat.

Grebeg Maulud Kraton Solo, Doa Belum Selesai, Warga Sudah Berebut Gunungan

Maulid Nabi Muhammad, Keraton Solo Kirab Dua Pasang Gunungan Mulud, Ini Maknanya

Tua atau muda, semua berebut gunungan.

Ya, zaman sudah modern, tapi kebiasaan warga untuk berebut makanan di gunungan, yang nilai ekonomisnya 'tak seberapa' itu, masih saja ada. 

Sebanyak sepasang Gunungan Jalu dan Gunungan Estri diperebutkan ratusan masyarakat dalam acara itu. 

Lalu, mengapa warga Solo rela berebut gunungan?

Salah seorang warga asal Sukoharjo, Rayem mendapat bambu penyangga hiasan gunungan. 

Menurutnya, bambu itu bisa digunakan untuk kandang ayam ataupun tusuk sate. 

"Ini untuk menolak kesialan," tutur Rayem kepada TribunSolo.com, Sabtu (9/11/2019).

Halaman
1234
Penulis: Adi Surya Samodra
Editor: Aji Bramastra
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved