Proyek Tol Solo Jogja

4 Fakta Jelang Proyek Tol Solo-Jogja, Tunggu Penlok, Amankan Sumber Air & Situs hingga Angkat UMKM

Realisasi pembangunan Tol Solo-Jogja yang sudah dibahas Kementerian PUPR, pemerintah provinsi hingga daerah, di antaranya Pemkab Klaten di depan mata.

4 Fakta Jelang Proyek Tol Solo-Jogja, Tunggu Penlok, Amankan Sumber Air & Situs hingga Angkat UMKM
TribunSolo.com/Asep Abdullah Rowi
Anteran kendaraan kawasan exit Tol Trans Jawa ruas Solo-Ngawi saat arus mudik Lebaran 2019 di kawasan Ngasem, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Jateng. 

"Lintasannya kami usulkan digeser sampai akhirnya masuk Kecamatan Karangnongko," papar dia.

Adanya pergeseran tersebut, Jaka maka wilayah yang terdampak menyasar 9 kecamatan.

"Kalau awalnya kan ada 8 kecamatan, nah ini diperkirakan ada 9 kecamatan yang terdampak," katanya.

Adapun 9 kecamatan tersebut lanjut dia, yakni  Polanharjo, Delanggu, Ceper, Karanganom, Ngawen, Kebonarum, Karangnongko, Jogonalan dan Manisrenggo.

Maka, Kabupaten Klaten akan menjadi daerah terluas yang terdampak proyek Tol Solo-Jogja yang sudah disetujui oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X, PUPR dan Pemprov Jateng pada Juni 2019 lalu.

Pasalnya lahan terdampak proyek tol diperkirakan mencapai 608 hektare (ha) dengan mayoritas lahan terdampak yakni sawah dengan persentase 73,91 persen.

"Ditargetkan proyek jalan tol tersebut bisa dimulai pada 2020," aku dia.

3. Pesan untuk Pemerintah

Pemerintah diminta menjamin warga yang bakal terkena proyek jalan Tol Solo-Jogja untuk benar-benar memperhatikan kesejahteraannya.

Pakar Ekonomi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Mulyanto mengatakan ada kecenderungan korban yang terkena gusuran tidak memiliki kehidupan yang lebih baik setelah usai digusur.

Terlebih khususnya di Kabupten Klaten, ada sekitar 45 desa dengan 9 kecamatan yang bakal terdampak Tol Solo-Jogja.

"Saya lihat korban gusuran tidak lebih baik kehidupannya dibanding sekarang," katanya kepada TribunSolo.com, Selasa (12/11/2019).

"Baik dengan peran pemerintah atau tidak," katanya.

Mantan Kepala Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) LPPM UNS itu menjelaskan, saat penggusuran para korban biasanya diklaim berpindah ke tempat yang lebih baik.

"Tapi tempat yang lebih baik apa? Bukan bangunan yang lebih bagus, tapi lokasi, tempat kerja, apakah sesuai kebutuhan," jelasnya.

"Dan rumah yang digusur tersebut apakah harganya sudah cukup juga," ujarnya menekankan.

Apalagi lanjut Mulyanto, yang menjadi permasalahan dari korban penggusuran adalah banyak yang belum memikirkan mengenai tempat tinggal selanjutnya, termasuk berpengaruh terhadap akomodasi.

"Tapi itu tergantung mata pencariannya apa dulu," tuturnya.

"Kalau mata pencariannya memang di tempat itu bukan tidak mungkin dia akan kehilangan mata pencarian," ungkap dia.

Maka dia berpesan agar pemerintah lebih jeli dalam menangani penggusuran terutama Tol Solo-Jogja yang akan segera dibangun.

"Ya agar warga yang tergusur tetap dapat melanjutkan hidup dengan mata pencarian yang sama," harap dia.

4. Manfaatkan Peluang dan Angkat UMKM

Warga sekitar yang terdampak pembangunan Tol Solo-Jogja di 9 kecamatan di Kabupaten Klaten disebut pengamat dalam memanfaatkan peluang ekonomi untuk menambah pendapatan.

Menurut Pakar Ekonomi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Mulyanto, bahwa adanya pembangunan Tol Solo-Jogja dapat menambah pendapatan, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar proyek.

"Yang rumahnya tidak terdampak atau di sebelah proyek, sisi positifnya bisa mendapatkan peluang," katanya, Selasa (12/11/2019).

"Mereka penduduk sekitar bisa melakukan pekerjaan sambilan seperti buka usaha atau memberikan fasilitas bagi pengendara yang melintas di tol," ujarnya.

Mantan Kepala Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) LPPM UNS memaparkan, adanya Tol Solo-Jogja ke depan dapat berdampak positif terhadap warga sekitar seperti USaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

"Hasil UKM seperti makanan hingga kerajinan bisa dijual di rest area juga sehingga bisa menambah pendapatan warga juga," katanya.

Lahan terdampak proyek tol diperkirakan mencapai 608 hektare (ha).

Mayoritas lahan terdampak yakni sawah dengan persentase 73,91 persen.

Ditargetkan, proyek jalan tol tersebut bisa dimulai pada 2020.

Sementara, pintu keluar tol atau exit tol bakal berada di tiga wilayah yakni Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo, Desa/Kecamatan Ngawen, serta desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo. (*)

Penulis: Eka Fitriani
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved