Rektor IAIN Solo Korban Fake Chat

Rektor IAIN Surakarta Korban Fake Chat, Pengamat : Bisa Timpa Siapa Pun,Ini Cara Cerdik Menangkalnya

Pengamat Teknologi Informasi UNS Solo, Winarno menganalisis kasus fake chat pijat plus yang menimpa Rektor IAIN Surakarta, Mudofir Abdullah.

Kolase TribunSolo.com/Istimewa
Screenshot chat hoaks yang tampilkan nomor Rektor IAIN Surakarta, Mudofir Abdullah. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, SOLO -- Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta Mudofir Abdullah menjadi korban fake chat atau chatting palsu yang kemudian disebar di jagad media sosial.

Tangkapan layar itu menampilkan foto profil Mudofir dengan nomor yang tidak dikenal yang menawarkan pijat plus.

Adapun Pengamat Teknologi Informasi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Winarno mengemukakan, kejadian fake chat bisa menimpa siapa saja.

"Kalau menangkal agar tidak terjadi sulit, seperti kalau ada orang yang ingin jahil kepada kita, bagaimana menangkalnya, kita tidak bisa membendung," ujar Winarno kepada TribunSolo.com, Senin (9/12/2019).

Tangkapan layar fake chat bisa diidentifikasi asal muasalnya memanfaatkan meta data file.

"Hasil yang di-screenshot sudah ada polanya dan dari meta data file bisa diidentifikasi data screenshot tersebut dari mana asalnya," tutur Winarno.

Oleh karenanya, Winarno menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati saat bertukar file kepada orang lain.

Rektor IAIN Surakarta Ungkap Motif Fake Chat Pijat Plus Sasar Dirinya, Ada yang Incar Jabatannya?

Selain Pencemaran Nama Baik, Rektor IAIN Surakarta Korban Fake Chat Pijat Plus Juga Laporkan Hal Ini

"Ketika bertukar file sebenarnya dalam teknologi informasi itu ada standard pengamanannya, apakah file itu asli dari seseorang atau tidak, salah satunya dengan menggunakan digital signature," kata Winarno.

Winarno menjelaskan digital signature ini bisa digunakan untuk memberikan tanda pada sebuah dokumen.

"Dokumen itu diberi tanda oleh orang yang berhak, jadi dalam berkas tersebut ada data yang disisipkan sehingga ada identitas yang tersemat dalam file tersebut," jelas Winarno.

Rektor IAIN Solo Laporkan Tiga Nomor terkait Kasus Fake Chat Pijat Plus yang Memakai Fotonya

Rektor IAIN Solo Jadi Korban Chat WA Palsu Fake Chat, Begini Cara Bekerja Aplikasi itu

"Sehingga, bila file itu dikirimkan dari satu gadget ke gadget lain tetap ada digital signature dan tetap terjamin keabsahannya, bila file tersebut diubah maka digital signature-nya akan hilang atau rusak," imbuhnya menjelaskan.

Winarno menuturkan itu bisa dicek siapa saja asalkan mempunyai perangkat pendukung.

"Untuk mengeceknya bisa membuka exif atau meta data file, ada ilmunya digital forensik untuk melihat file detail yang kita curigai tersebut," tutur Winarno.

"Makanya transaksi file via media digital itu sangat rawan, kita tidak bisa memastikan secara pasti, bisa saja ada orang yang melakukan sabotase pada waktu pengiriman sehingga di tengah jalan filenya diganti," tambahnya.

Winarno menyarankan, pemerintah bisa lebih menggalakan sosialisasi regulasi transaksi elektronik kepada masyarakat.

"Pencegahannya dengan regulasi dan sosialisasi, sehingga orang akan berpikir sekian kali sebelum bertindak kejahatan," tandasnya.

"Ya karena akan bisa dilacak," aku dia menegaskan. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved