Penggelapan Miliaran di BKK Wonogiri

Pelaku Penggelapan Rp 2,7 M Sosok Dipercaya, Banyak Pedagang Pasar Pracimantoro Tergiur Menabung

Para pedagang Pasar Pracimantoro yang menjadi nasabah di BKK Eromoko Cabang Pracimantoro Wonogiri mengaku cukup lama mengenal sosok GR.

Pelaku Penggelapan Rp 2,7 M Sosok Dipercaya, Banyak Pedagang Pasar Pracimantoro Tergiur Menabung
TribunSolo.com/Agil Tri
Pedagang Pasar Pracimantoro yang menjadi salah satu nasabah PT BKK Eromoko, Wonogiri, Selasa (14/1/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI -- Para pedagang Pasar Pracimantoro yang menjadi nasabah di PT Badan Kredit Kecamatan (BKK) Eromoko Cabang Pracimantoro Wonogiri mengaku cukup lama mengenal sosok staf marketing Giri Rahmanto (36).

Pria beralamat di Dukuh Sumber RT 02 RW 01, Desa Puloharjo, Kecamatan Eromoko, Wonogiri itu diketahui menggelapkan uang nasabah hingga mencapai Rp 2,7 miliar untuk digandakan ke dukun.

Seorang pedagang makanan di Pasar Pracimantoro berinisial PJ, mengatakan dirinya sudah lama mengenal sosok marketing itu.

"Orangnya baik, ramah, dan pintar," ungkapnya saat ditemui TribunSolo.com, Selasa (14/1/2020).

"Banyak pedagang di sini yang percaya dan menitipkan uang tabungan kepadanya," kata dia menekankan.

Dia menuturkan GR memiliki postur tubuh yang tinggi, besar, dan ganteng.

GR biasa keliling di Pasar Pracimantoro setiap pagi, saat aktivitas pasar masih berlangsung.

"Saya sudah lama menitipkan uang saya ke BKK, jauh sebelum GR," aku dia.

Meski Gelapkan Uang hingga Ro 2,7 M, Staf Marketing BKK Eromoko Wonogiri Ini Disebut Tak Hidup Mewah

Puluhan Nasabah Jadi Korban Penggelapan Staf BKK Eromoko Wonogiri, Uang Rp 2,7 M Dibawa ke Dukun

Kasus Penggelapan Dana Nasabah BNI Senilai Rp 58,9 M, Tiga Pimpinan KCP Ditetapkan Jadi Tersangka

"Meski tidak setiap hari, tapi kalau saya sekali menabung ada kisaran ratusan ribu," jelasanya membeberkan.

Menurutnya, para pedagang banyak yang menjadi nasabah BKK karena kemudahannya dalam melakukan transaksi.

"Kalau kita mau menabung atau melakukan penarikan, kita tinggal bilang saja, nanti uang akan cair," tutur dia.

"Kalau tempat yang lainkan harus pakai KTP, harus yang bersangkutan, dan harus datang ke kantornya, jadi agak ribet," terangnya.

Namun dia enggan mengatakan berapa kerugian yang dialami, namun dia bersyukur uangnya diganti oleh pihak bank.

"Kalau trauma saya tidak, saat ini kan sistemnya lebih ketat dengan menggunakan print out, cuma lebih hati-hati saja," tutupnya. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved