Solo Merawat Toleransi

Hidup di Masyarakat Majemuk, KH Dian Nafi Ingatkan akan Hal Ini dalam Merawat Toleransi

Dewan Pembina Yayasan Perdamaian Lintas Agama (YPLAG) Kota Solo, KH Dian Nafi, menilai ada tantangan dalam merawat toleransi.

Hidup di Masyarakat Majemuk, KH Dian Nafi Ingatkan akan Hal Ini dalam Merawat Toleransi
Tribun-Video.com/Radifan Setiawan
Pembicara Diskusi Publik Ngobrol Mewah 'Solo Merawat Toleransi' yakni Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, Kapolresta Solo Kombes Pol Andy Rifai, Dandim 0735/Surakarta Letkol Inf Wiyata Sempana Aji dan Ketua Pembina Yayasan Perdamaian Lintas Agama dan Golongan (YPLAG), KH Mohammad Dian Nafi di Kantor Tribunnews, Desa Klodran, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Selasa (11/2/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dewan Pembina Yayasan Perdamaian Lintas Agama (YPLAG) Kota Solo, KH Dian Nafi, menilai ada tantangan dalam merawat toleransi.

Tantangan itu berkaitan dengan pembangunan titik temu dalam masyarakat majemuk, satu di antaranya direpresentasikan dalam masyarakat Kota Solo.

KH Dian Nafi menyadari tantangan tersebut setelah berdiskusi dengan Menko Polhukam, Mahfud MD.

Dandim Surakarta Sebut Solo Bisa Jadi Contoh Kota Toleransi, Begini Alasannya

"Tantangan yang dihadapi masyarakat majemuk adalah membangun titik temu dan itu tergambar nyata setiap hari," terangnya, Selasa (11/2/2020).

Titik temu bisa muncul bila ada komunikasi dan koordinasi dalam masyarakat.

Titik temu yang sudah ada harus dirawat masyarakat sebaik mungkin.

Pancasila menjadi satu cara merawat titik temu yang sudah ada dalam masyarakat.

"Kalau sudah ada titik temu, harus dirawat dengan sebaik-baiknya dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, lagu Indonesia Raya, Teks Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus," jelas Dian.

Cara Polresta Jaga Toleransi di Solo : Antisipasi Hoax yang Menyesatkan, Gencar Edukasi Masyarakat

"Kesatuan masyarakat sebagai satuan politik juga tetap harus dalam satu naungan itu," imbuhnya membeberkan.

Dian menuturkan titik temu yang ada membuat masyarakat menjadi lebih adem ayem dan toleransi.

"Titik temu yang sudah ada mampu membuat masyarakat menjadi lebih adem ayem," tuturnya.

Merawat Toleransi di Solo, Pemkot Unggulkan Kebijakan 3WMP Sebagai Bukti Negara Hadir, Ini Caranya

Namun, titik temu tetap menghadapi ancaman yakni sikap intoleransi dan penyebaran hoaks di dalam masyarakat.

"Hoaks telah menjadi ancaman nyata dan intoleransi termasuk ancaman nonmiliter saat ini," kata Dian.

"Sehingga, kita perlu mengklarifikasi informasi-informasi yang ada supaya tidak tertular hoaks," tandasnya. (*)

Penulis: Adi Surya Samodra
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved