Solo KLB Corona

Jalanan di Solo Ramai Lagi Meski KLB Corona Belum Dicabut, Begini Alasannya Versi Psikolog

Masyarakat Kota Solo nampaknya sudah 'kebelet' keluar rumah meski status kejadian luar biasa (KLB) wabah virus Corona belum dicabut pemerintah.

TribunSolo.com/Adi Surya Samodra
Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Slamet Riyadi, Solo pukul 15.52 WIB, Kamis (2/4/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Warga Kota Solo nampaknya sudah 'kebelet' keluar rumah meski status kejadian luar biasa (KLB) wabah virus Corona belum dicabut pemerintah setempat.

Apalagi penerapan status KLB kini sudah berjalan lebih dari 3 minggu terhitung sejak 13 Maret 2020.

Sejumlah kendaraan mulai meramaikan beberapa ruas jalan Kota Solo, di antaranya Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Honggowongso.

Saat Bekas Pasangan Jokowi di Solo Pusing Tak Ada Larangan Tegas Pemudik saat Corona dari Presiden

Psikolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Moh Abdul Hakim menyampaikan ramainya jalanan beberapa waktu ini akibat hasrat masyarakat untuk keluar sudah tidak bisa ditekan lagi.

Ditambah durasi penerapan KLB sudah terlampau lama yakni lebih dari 3 minggu.

"Solo ramai ada dua faktor, yang pertama, Solo itu kota pertama yang menerapkan KLB," terang Abdul kepada TribunSolo.com, Sabtu (4/4/2020).

"Ini sudah menginjak minggu ketiga dan itu sudah waktu yang lama, jadi secara umum orang sudah tidak betah di rumah, wajar mulai kelaur, jadi semakin sulit menahan," imbuhnya membeberkan.

Selain itu, narasi yang dibangun atas kondisi selama KLB mempengaruhi psikologis masyarakat.

Imbas Corona, Mulai Pagi Ini 31.000 Kepala Keluarga di Solo Terima Bantuan Sembako, Apa Saja Isinya?

Solo 'bebas' pasien positif Corona menjadi satu dari banyak narasi yang mempengaruhi itu.

"Berita-berita di media dan beberapa pernyataan wali kota memberikan kesan situasi Solo sudah landai," tutur Abdul.

"Orang berpikir kenapa bertahan di rumah kalau situasi di luar berubah, sudah tidak ada lagi kasus, sehingga mereka tidak menemukan alasan menahan diri di rumah," tambahnya.

Abdul menjelaskan ketahan seseorang dalam melakukan isolasi di rumah juga dipengaruhi karakteristik bawaannya.

Kisah Pilu Kakek Ojol saat Corona, Dijanjikan Rp 700 Ribu Antar Banyumas - Solo, Tapi Orangnya Kabur

"Seseorang dengan ekstraversi tinggi, tipe orang yang bawaannya suka bersosialisasi, suka ketemu orang, ngobrol banyak, out going, berkunjung ke tempat-tempat baru," jelas dia.

"Tipe kepribadian ini yang daya tahannya rendah, sehingga mereka hanya bisa bertahan kurang lebih satu sampai dua minggu saja," imbuhnya.

Selain itu, orang-orang di dalam rumah juga mempengaruhi tingkat kebosanan selama isolasi.

"Orang-orang yang terpaksa bertahan di rumah sempit dan banyak orang dewasa lainnya, secara otomatis membuat daya tahannya pendek," terang Abdul.

"Dua-tiga minggu sudah mulai muncul rasa jenuh frustrasi, stress, dan mendorong keluar rumah," tandasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved