Virus Corona

Curhat Luhut: Saya Tak Habis Pikir di Tengah Pandemi Corona, Ujaran Kebencian dan Fitnah Dipelihara

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mencurahkan isi hatinya melalui beberapa akun media sosial miliknya.

KOMPAS.com/ MOH NADLIR
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan ketika ditemui di Kantor DPP PDI-P Lenteng Agung, Jakarta, Minggu (8/4/2018) 

TRIBUNSOLO.COM - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mencurahkan isi hatinya melalui beberapa akun media sosial miliknya.

Dalam tulisan itu, Luhut menyayangkan ucapan beberapa pihak yang tega menjadikan situasi pandemi Covid-19 atau corona ini untuk memperkeruh keadaan.

Menurutnya, mereka melakukan serangan-serangan yang tak berdasar dan malah mengarah ke personal atau pribadi orang lain.

Tempat Karantina Pemudik di Solo Terisi, Ada 73 Orang, Dibedakan ODP Bergejala dan Tidak Bergejala

"Bukan lagi kritik yang berorientasi pada pemecahan masalah dan mencari solusi bagi keselamatan negeri tercinta kita," ujarnya melalui media sosial Facebook di Jakarta, Kamis (9/4/2020).

Purnawirawan TNI bintang 4 ini menegaskan, tidak pernah punya keinginan untuk membungkam kritik, karena baginya adalah motivasi terbesar sebagai pejabat negara dalam merumuskan kebijakan.

"Bukan hanya bagi generasi saat ini, tetapi juga generasi anak dan cucu kita di kemudian hari, tapi saya juga ingin bangsa ini menjadi bangsa yang terdidik. Terbiasa untuk saling kritik dan mendebat dengan fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan dengan tuduhan tak berdasar yang menyerang pribadi orang lain," kata Luhut.

Ternyata Inilah Alasan Vanessa Angel Konsumsi Xanax yang Dibelinya di Surabaya

Berikut isi tulisan Luhut secara lengkap seperti dikutip dari laman media sosial Facebook miliknya:

Saya menghabiskan lebih dari 30 tahun masa hidup saya sebagai seorang prajurit, tanpa pernah merasa ada keraguan ketika terjun ke daerah operasi. Sebagai seorang prajurit Kopassus atau yang dulu disebut RPKAD pun saya terbiasa menghadapi banyak pertempuran jarak dekat, dengan situasi yang sangat mencekam. Semua itu saya ingat waktu saya masih bujangan dan bahkan setelah saya menikah. Pada saat itu bahkan tidak pernah terlintas di pikiran saya bahwa seorang prajurit RPKAD itu bisa mati terkena peluru. Sampai suatu ketika saya terjun di Timor Timur bersama anak buah saya, keesokan harinya saya ketahui ternyata anak buah saya ada yang mati.

Tapi itu semua kami lakukan karena kecintaan dan janji kami pada Sumpah Prajurit dan Sapta Marga. Yang menjadi sebuah pedoman dan sumpah dari seorang perwira sewaktu kami jadi taruna di Lembah Tidar. Jadi saya tidak akan pernah mengingkari sumpah saya sebagai seorang prajurit. Tapi saya baru disadarkan saat kehilangan prajurit saya di daerah operasi, pada tahun 1975. Ternyata manusia memang terdiri dari darah daging dan tulang, juga emosi.

Namun ketika saya pensiun sebagai tentara, begitu banyak perspektif hidup yang berubah. Terutama “utang” yang saya miliki kepada istri dan anak-anak. Selama puluhan tahun, ketika harus menjalani tugas operasi ke daerah lain, tak terhitung berapa kali saya harus meninggalkan mereka. Ada satu momen yang saya ingat sampai saat ini, yaitu suatu waktu anak saya Uli yang waktu itu berumur 3 tahun menangis ketika melihat saya pulang ke rumah. Sayangnya dia bukan menangis karena lama menahan rindu ke ayahnya, tapi karena dia takut ada orang asing muncul di kamarnya. Dia tidak mengenali saya. Sebagai seorang ayah, hal itu sangat membuat saya terpukul.

Halaman
12
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved