Breaking News:

Virus Corona

60 Persen Pasien Corona di Indonesia adalah Laki-laki, Inilah 3 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah hingga Sabtu (9/5/2020), kini total kasus pasien positif virus corona di Indonesia menjadi 13.645 orang.

IRNA
Ilustrasi penyebaran virus corona 

1. Sistem Imun Pria Lebih Lemah

Pria memiliki respon imun yang lebih rendah terhadap infeksi. 

Menurut Dr. Sabra Klein, seorang ilmuwan yang mempelajari perbedaan respon jenis kelamin dalam vaksin dan infeksi virus di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, kaum pria memiliki pola yang buruk dalam responnya terhadap infeksi virus.

"Kami telah menjumpainya dalam berbagai virus.

Kaum hawa lebih baik dalam melawan virus-virus tersebut." Ujarnya.

Kaum wanita memproduksi sistem imun yang kuat setelah vaksinasi dan telah menambahkan respon memori imunnya.

Hal itu kemudian mampu melindungi perempuan dewasa dari patogen yang telah memapar mereka sejak kanak-kanak.

 Dr. Janin Clayton, direktur penelitian Kesehatan Wanita dan Lembaga Kesehatan Nasional juga menguatkan hal tersebut.
Menurutnya, ada sesuatu hal yang membuat sistem imun wanita lebih subur.
Namun sepertinya kaum wanita juga harus menerima kenyataan adanya kerentanan mereka terhadap penyakit autoimun.
Penyakit autoimun seperti rheumatoid, arthritis dan lupus banyak menyerang wanita karena kekebalan mereka bergeser menjadi penyerangan terhadap organ dan jaringan tubuh mereka sendiri.
Untuk itu, menurut Dr. Clayton, sebanyak 80 persen wanita memiliki penyakit autoimun.
Meski alasan tentang sistem imun wanita lebih kuat masih dalam penelitian awal, sebuah hipotesis mengatakan adanya kemungkinan pemberian antibodi dari seorang ibu kepada anak perempuannya melalui ASI mempengaruhi sistem imunnya.
Anak perempuan yang menyusu ASI dari sang ibu menyerap antibodi dari ibunya membantunya melawan berbagai penyakit di saat sistem imunnya masih berkembang.
2. Faktor Biologis
Faktor biologis juga bisa menjadi alasan, termasuk hormon estrogen wanita yang memainkan peran dalam imunitas.

Dan kenyataan bahwa wanita membawa dua kromosom yang memuat gen terkait kekebalan tubuh.

Sedangkan pria hanya membawa satu kromosom.
Penelitian ini diambil dari percobaan dua ekor tikus, satu jantan dan satu lagi betina.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa tikus jantan lebih rentan menghadapi virus corona dibandingkan tikus betina, dengan perbedaan usia keduanya.
Tikus jantan mengembangkan virus dalam paparan rendah memiliki respon kekebalan tubuh yang lebih rendah.
Bahkan sangat rendah untuk membersihkan virus dari tubuhnya.
"Mereka mengalami kerusakan paru-paru dan memiliki tingkat kematian lebih tinggi," Ungkap Profesor Stanley Perlman, ahli mikrobiologi dari Universitas Ioma yang menjadi senior dalam kajian ini.
Ketika peneliti menutup hormon estrogen dan mengelularkan sel telur pada tikus betina yang terinfeksi, mereka tampak sekarat.
Namun, menutup hormon testosteron pada tikus jantan rupanya tidak menunjukkan perbedaan.
Hal ini menunjukkan hormon estrogen perempuan memainkan peran perlindungan dalam melawan virus.
"Ini model yang dapat juga dilihat pada manusia," Ungkap Profesor Perlman.
"Perbedaan antara pria dan wanita (manusia) sangat halus. Namun pada kasus tikus, tidak terlalu halus."
3. Gaya Hidup di Kalangan Masyarakat Juga Berpengaruh
Gaya hidup sehat antara pria dan wanita di beberapa masyarakat juga memainkan peran penting dalam responnya menghadapi serangan virus.
Terdapat sebanyak 316 juta orang di China merokok alias sepertiga dari seluruh penduduk dunia dan 40 persen dari konsumen rokok di dunia.
Namun hanya terdapat 2 persen wanita perokok di China dibandingkan pria.
Warga pria di China juga punya kasus diabetes tingkat dua tertinggi dan juga tekanan darah tinggi dibandingkan wanitanya.
Tingkat kerusakan paru-paru kronis juga dimiliki pria, hampir dua kali angka dari perempuan.

Di AS, wanita lebih proaktif terhadap gaya hidup sehat dibandingkan pria.

Beberapa kajian kecil juga menemukan adanya kasus serupa pada mahasiswa China di AS.

Di dalam kajian yang belum dipublikasikan, peneliti China menitikberatkan pasien dengan diagsnosa terlambat atau mereka yang punya pneumonia lebih dulu adalah yang paling beresiko sekarat.

Sebuah studi dari 4.021 pasien dengan virus corona menekankan pentingnya deteksi dini, khususnya bagi pria yang lansia. Bahkan kaum pria juga lebih banyak dirawat di RS dengan penyakit lainnya.

Di Provinsi Hubei sendiri, polanya agak berbeda.

Tingkat kematian relatif lebih sedikit dibandingkan kasus infeksinya.
Kaum pria lebih banyak terinfeksi dibandingkan wanita, berdasarkan analisis CDC China.

(TribunSolo / naufalhpa) 

Penulis: Naufal Hanif Putra Aji
Editor: Ryantono Puji Santoso
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved