Breaking News:

Solo KLB Corona

Jenjang SMA Dominasi Perceraian di Solo, Begini Penjelasan Psikolog

Kasus perceraian di Kota Solo yang didominasi jenjang pendidikan SMA ditengarai lantaran belum memiliki kesiapan dalam mengarung bahtera rumah tangga.

kompas.com/ist
Ilustrasi : seorang pria digugat cerai karena terlalu baik, istri tak kerasan karena ingin bertengkar. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kasus perceraian di Kota Solo yang didominasi jenjang pendidikan SMA lantaran pelaku belum memiliki kesiapan dalam mengarung bahtera rumah tangga.

Apalagi, memikul tanggung jawab secara pribadi maupun sosial saat sudah menikah.

Ada 156 Janda Baru di Kota Solo Selama Pandemi, Pengadilan Agama Beri Penjelasan

Pengamat Psikologi Universitas Muhammadiyah Solo (UMS), Soleh Amini Yahman mengatakan itu terjadi lantaran psikologi pelaku masih labil.

"Sebetulnya menilik sisi psikologi, usia 19 tahun masih masuk kategori remaja, memang salah satu psikologi perkembangan remaja, mereka bertanggung jawab tehadap diri sendiri dan masa depan," kata pria yang akrab disapa Soni itu kepada TribunSolo.com, Senin (15/6/2020).

"Usia remaja tidak ada tugas dan tanggung jawab berkaitan rumah tangga pernikahan," tambahnya.

Pernikahan Kandas, 331 Pasangan di Solo Sudah Sah Cerai Beberapa Bulan Ini, Jenjang SMA Mendominasi

Pelaku perempuan, lanjut Soni, masih tidak siap dengan tanggung jawabnya sebagai istri.

Sementara itu, pelaku pria juga belum siap menjadi seorang ayah.

"Idealnya laki-laki menikah di usia 26 tahun, itu berdasar penelitian psikologi keluarga," terang Soni.

"Untuk perempuan, idealnya 22 tahun, perempuan telah mengalami kesiapan secara psikologi dan fisik jasmaniah sudah matang," imbuhnya.

Belum Cukup Umur,75 Gadis Solo Usia 17-18 Tahun Ajukan Permohonan Bisa Kawin, Rata-Rata Hamil Duluan

Soni menambahkan ideologi keremajaan remaja sekarang berbeda dibanding remaja di era 1970/1980.

"Anak-anak di zaman ini berbeda dengan zaman dulu, anak-anak zaman dulu hardness lebih siap karena digembleng dengan kondisi lingkungan, sekarang dimanja fasilitas," tutur dia.

Selain itu, kata Soni, remaja 1970/1980 orientasinya sudah bekerja dan membantu orang tua mencari nafkah.

"Kalau orientasi remaja sekarang, itu lebih kepada hal-hal yang seperti kuliah lagi," ucapnya. (*)

Penulis: Adi Surya Samodra
Editor: Ilham Oktafian
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved