Wakapolres Karanganyar Diserang

Penyerang Wakapolres Karanganyar Diduga Napiter Jaringan Bom Thamrin, Pakar Terorisme Beri Saran Ini

Pembinaan di LP perlu dievaluasi menyusul adanya dugaan para mantan narapidana terorisme (napiter) masih melancar aksi setelah keluar.

SURYA/TOVIC
ILUSTRASI : Pasukan Brimob mengamankan lokasi perburuan teroris di Siwalan, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu (8/4/2017). Polisi menembak mati enam orang di antaranya setelah mereka melarikan diri dan meninggalkan kendaraannya di jalanan 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Pembinaan di lembaga permasyarakat (LP) perlu dievaluasi menyusul adanya dugaan para mantan narapidana terorisme (napiter) masih melancar aksi setelah keluar.

Hal tersebut disampaikan pengamat radikalisme dan terorisme, Tayyip Malik.

Mengingat aksi penyerangan rombongan Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni diduga dilakukan mantan napiter, KW.

KW diduga termasuk dalam jaringan bom Thamrin yang berafiliasi dengan ISIS.

Ibu Dibunuh Anaknya di Kemusu Boyolali, Tetangga Sempat Menolong Tetapi Kena Sabetan Senjata Tajam

Ditangani Densus 88 Antiteror, Penyerang Wakapolres Karanganyar Diduga Kuat Jaringan Bom Thamrin

Ya, aksi penyerangan yang sempat mengebohkan dunia karena ada sejumlah terduga teroris tewas meladakkan diri dan warga ikut menjadi korban pada Januari 2016 di sekitar Plaza Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Penyerangan tersebut terjadi di pintu masuk jalur pendakian via Cemoro Kandang, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Minggu (21/6/2020) sekira pukul 10.45 WIB.

"Kasus begini tidak hanya sekali, sudah ada beberapa kali residivisme yang melakukan aksi atau terlibat lagi dalam jaringan terorisme," kata Tayyip kepada TribunSolo.com, Senin (22/6/2020).

"Itu harus ada evaluasi karena kasus ini misalnya, ini tidak bisa menutup mata dengan kasus kasus seperti ini," jelasnya.

Menurut Tayyip, LP sebaiknya tidak hanya mengandalkan pendekatan formalistik saja.

"Itu harus dipikirkan lagi strategi apa, karena tidak hanya pendekatan formalistik," tutur dia.

"Misalnya, mereka sudah mengikuti kegiatan yang diadakan di LP, itu belum tentu mereka tidak terlibat lagi," tambahnya.

Tayyip menyampaikan harus ada integrasi yang kuat antara masyarakat, pemerintah, dan LP.

Update Kondisi Bripda Hanif dan Relawan yang Kena Celurit Saat Pelaku Serang Wakapolres Karanganyar

Polres Karanganyar Dijaga Ketat, Brimob Bersenjata Lengkap hingga Tim Penjinak Bom Pun Disiagakan

Ditambah lagi, napiter masih bisa berpotensi melakukan rekruitmen di dalam penjara.

"Di sisi lain mereka juga sama-sama mempunyai ideologi yang sama, itu justru semakin kuat," katanya.

LP, lanjut Tayyip, lebih baik melakukan kategorisasi level napiter yang dibina kedepannya.

"Petugas atau BNPT bisa melakukan kategorisasi level, dari rendah, menengah, sampai resiko tinggi," jelas dia.

"Itu harus dilakukan secara sistem, tidak bisa sekali dua kali melalui pegawai bagian pembinaan di LP," tandasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved