Wakapolres Karanganyar Diserang

Kesaksian Tetangga Penyerang Wakapolres Karanganyar : Sempat Menghilang Sejak Akhir Tahun 2019

Pelaku penyerangan Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni, Karyono Widodo (46) ternyata baru keluar dari penjara pada Juli 2019 atas kasus terorisme.

TribunSolo.com/Adi Surya
Polisi berjaga di sekitar garis police line saat Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Lutfhi meninjau TKP yang menjadi lokasi penyerangan yang menyasar rombongan Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni di depan Pos Pendakian Gunung Lawu Cemoro Kandang, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Minggu (21/6/2020). 

"Iya, ibu dimintai (sampel darah) oleh tim inafis, untuk mencocokan DNA," kata Rohman.

Ia mengaku sudah lama tidak berkomunikasi dengan kakaknya tersebut. Ia mengaku terakhir bertemu dengan kakaknya itu sekitar akhir tahun 2019.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengapresiasi langkah cepat kepolisian saat melumpuhkan pelaku penyerangan rombongan Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni. "Kalau apa yang kita lihat kemarin kami melihat itu sebagai prestasi Kapolres dan jajaran kepolisian, tindakannya cepat dan terukur," ujar Juliyatmono.

"Mereka bisa cepat melumpuhkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang membuat orang lain menjadi sangat berisiko," tambahnya.

Menurutnya, apabila tindakan itu tidak dilakukan keselamatan orang di sekitaran bisa terancam. "Kalau tidak dilakukan tindakan cepat-terukur, orang lain menjadi sangat berisiko, risiko keselamatan orang lain lebih tinggi bila tidak dilumpuhkan," kata Juliyatmono.

Juliyatmono menilai peran orangtua menjadi penting guna menekan adanya kasus penyerangan serupa. "Benteng utamanya adalah orangtua, mari orangtua, bapak/ibu cek betul anak-anak apalagi saat ini sedang belajar di rumah," ujar Juliyatmono.

"Itu bisa membuat kedekatan anak dengan orang tua jauh lebih intens, orang tua bisa memahami cara berpikir anak-anak generasi sekarang," papar dia.

"Orangtua harus yakin ke depan anak-anak mereka tidak punya pemikiran yang berbeda dengan pemikiran yang berlaku di negara kita," tutupnya.

Jaringan Thamrin

Pengamat radikalisme dan terorisme, Tayyip Malik menduga pelaku penyerangan Wakapolres Karanganyar Kompol Busroni dan rombongan yang menyebabkan dua orang terluka sabetan senjata tajam semacam celurit termasuk dalam jaringan bom Thamrin.

"Prediksinya, mantan residivis (napiter) yang terlibat kasus bom Thamrin yang pernah ditangkap di Malang," tutur Tayyip.

"Kalau memang benar, ia pernah ditangkap setelah bersembunyi di sebuah makam pada tahun 2016," tambahnya.

Namun Tayyip masih belum mengetahui motif pelaku melakukan penyerangan terhadap rombongan Wakapolres Karanganyar itu.

"Saya belum tahu, melihat di beberapa aksi terbaru, target masih pihak kepolisian," ucap dia.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved