Breaking News:

Tetangga Berselisih Tanah

Sempat Dimediasi oleh Lurah, Perseteruan Dua Warga Sragen Soal Tanah 33 CM masih Belum Usai

Lurah Desa Wonokerso, Kecamatan Kedawung, Sragen Suparno (52) ikut angkat suara seputar konflik berkepanjangan yang dialami kedua warganya, Suparmi da

TRIBUNSOLO.COM/Ilham Oktafian
Rumah Suparmi dan Suprapto. Dua warga bersebelah rumah di Kedawung, Sragen, yang saling sengketa soal tanah pemisah rumah selebar 33 cm. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ilham Oktafian

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Lurah Desa Wonokerso, Kecamatan Kedawung, Sragen Suparno (52) ikut angkat suara seputar konflik berkepanjangan yang dialami kedua warganya, Suparmi dan Suprapto.

Suparno saat ditemui TribunSolo.com pada Kamis (16/7/2020) mengaku jengah dengan sengketa tanah yang berlarut larut tersebut.

"Sebenarnya saya sudah jengah, sebagai lurah tentu saya ada keinginan untuk mendamaikan, karena mereka berselisih sejak lama." katanya, Kamis (16/7/2020).

"Tapi karena Ibu Parmi (Suparmi) tidak mau memilih jalur kekeluargaan, akhirnya ya saya biarkan, biar diproses Kepolisian saja," imbuhnya.

Bertahun-tahun Sengketa Tanah, Warga Sragen Ini Mengaku Mendapatkan Teror

Kisah 2 Warga Sragen Sebelahan Rumah Saling Gugat : Rebutan Tanah Selebar 33 CM, Tembok Pun Dirusak

Wawancara Pertama Achmad Purnomo Setelah Resmi Tak Dipilih PDIP di Pilkada Solo : Saya Sudah Tua

Banteng Solo Bergerak, Sebut Sudah Amankan 60 Persen Suara untuk Putra Sulung Jokowi

Penyelesaian secara kekeluargaan dari sengketa tanah itu pernah dilakukan olehnya sejak tahun 2016 lalu.

Saat itu, pihak keluarga Suparmi membawa pengacara untuk merampungkan sengketa tanahnya.

"Betul, dulu kita pertemukan di kantor kelurahan sini," aku dia.

"Tapi setelah mengucap damai, yang bersangkutan (Suparmi) masih saja ribut," tegasnya.

Suparmi yang berlarut larut meributkan tanah selebar 33 cm menerima pengucilan dari mayoritas tetangganya.

Oleh Suparno, hal tersebut merupakan konsekuensi dari apa yang ia sengketakan.

"Dulu itu kita ajak arisan dan rapat lurah gak mau datang, sejak saat itu sampai sekarang keluarganya tidak aktif bersosialisasi," katanya.

"Ditambah kasus tanah yang dibawa ke Kepolisian membuat warga sekitar merasa malu dengan sikapnya," tambahnya.

Pihaknya masih menerima tangan terbuka jika kedua tetangganya tersebut memilih merampungkan konflik dengan jalur kekeluargaan. (*)

Penulis: Ilham Oktafian
Editor: Agil Tri
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved