Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Penanganan Covid

Vaksin Dinilai Bukan Solusi Akhir Lawan Corona, Tetap Terapkan Protokol Kesehatan dengan 3M Plus 3T

Optimisme terus disebarkan, seperti yang diungkap Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro.

Editor: Reza Dwi Wijayanti
Freepik designed by brgfx
Ilustrasi vaksin covid-19 

TRIBUNSOLO.COM - Pandemi Covid-19 di Indonesia telah lebih dari satu semester.

Sehingga vaksinasi pun dipilih sebagai salah satu cara mengatasi.

Meski vaksin covid-19 belum bisa menjadi peluru jitu untuk langsung menyelesaikan pandemi ini.

Namun,  negara-negara kini seakan berlomba menciptakan vaksin Covid-19, termasuk Indonesia.

Indonesia tengah meneliti dan pengembangan vaksin Covid-19 bernama Merah Putih.

Optimisme terus disebarkan, seperti yang diungkap Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro yang menyakini bahwa Indonesia mampu penciptakan vaksin Covid-19 sendiri.

Baca juga: Potret Menterengnya Kandang Ayam Berisi Ribuan Ekor Milik Eko Pembunuh & Pembakar Yulia di Sukoharjo

Baca juga: Tips Proteksi Diri Agar Terhindar Covid-19 dari Doni Monardo

Berangkat dari kebutuhan 540 juta vaksin Covid-19 untuk 270 juta penduduk Indonesia, serta mengurangi ketergantungan pada negara lain, vaksin Merah Putih jadi andalan.

Menurut Bambang, Indonesia telah berpengalaman dalam pembuatan vaksin sejak dulu, di mana Lembaga Pasteur atau Bio Farma yang telah lebih dari 100 tahun berdiri pernah terlibat dalam pembuatan vaksin masa lalu seperti vaksin rabies dan polio.

Selain itu di tambah pula dengan kemampuan riset dari berbagai Universitas dan Lembaga Eijkman yang turut serta dalam pembuatan dan pengembangaan vaksin seperti Hepatitias B dan penyakit menular lainnya.

"Jadi tidak ada alasan untuk Indonesia tidak mandiri khususnya untuk (vaksin) Covid-19," kata mantan Kepala Bappenas ini, dalam diskusi virtual, bertajuk 'Vaksin Covid-19, Selangkah Lagi, ) Senin (26/10/2020).

Karena permasalahan waktu, kandidat vaksin dari luar negeri juga diupayakan Indonesia untuk digunakan cepat.

"Walaupun ada kerja sama itu tetap vaksin Covid-19 Merah Putih tetap harus dikedepankan dan menjadi prioritas," jelas Bambang.

Saat ini vaksin Merah Putih dikembangkan oleh enam lembaga, yakni LBM Eijkman, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Airlangga.

Enam lembaga tersebut mengembangkan vaksin Covid-19 dengan metode berbeda. Eijkman mengembangkan dengan platform protein rekombinan, Universitas Indonesia dengan platform DNA, MRNA, dan virus-like particle.

Sementara Universitas Airlangga adenovirus, ITB juga adenovirus, lalu Universitas Gajah Mada menggunakan protein rekombinan, serta LIPI yang juga dengan protein rekombinan.

Ia memastikan dalam pembuatan vaksin Merah Putih, semua mengikuti protokol secara disiplin dan ketat, serta dikawal stakeholder lain seperti BPOM maupun MUI sebagai penjamin kehalalan produk.

Diperkirakan vaksin Merah Putih akan tersedia pada Triwulan ketiga tahun 2021.

Selain itu, vaksin hadir dalam jumlah besar dan siap untuk divaksinasi.

Dalam memperlancar produksi vaksin, Kementerian Riset dan Teknologi, ujar dia telah bernegosiasi dengan pihak swasta yang ingin berinvestasi dalam pembuatan vaksin Covid-19.

Bambang melanjutkan, sebagai BUMN PT Bio Farma belum bisa memenuhi produksi massal vaksin tersebut.

Sejauh ini Bio Farma memiliki kapasitas produksi 250 juta dosis vaksin per tahun.

Baca juga: Cara Meningkatkan Imunitas Tubuh ala Doni Monardo: Tambah Keimanan dan Ketakwaan

Baca juga: Tips Proteksi Diri Agar Terhindar Covid-19 dari Doni Monardo

Perusahaan swasta tersebut antara lain PT Kalbe Farma, PT Sanbe Farma, PT Daewoong Pharmaceutical Company Indonesia, PT Biotis dan Tempo Scan.

"Intinya mereka siap. Kalau sudah dapat izin dari BPOM kapasitas total kita semua bisa mencapai 1 miliar vaksin per tahun," ungkap pria yang kerap disapa Bambroj ini.

Optimisme Ditengah Keraguan Tentang Vaksin

Dirinya memahami keraguan masyarakat pada vaksin Covid-19 yang kini tengah diupayakan pemerintah dari luar dan dalam negeri.

Namun ia menekankan tujuan vaksinasi ini adalah membentuk kekebalan komunitas atau herd imunity.

Herd Imunity dibutuhkan, apalagi untuk Covid-19, sebagai penyakit yang sangat mudah menular dari satu manusia ke manusia lain, hanya melalui droplet.

"Vaksin Covid-19 ini bukan lagi kepentingan pribadi tapi kepentingan solidaritas masyarakat yang harus didorong sebagai solidaritas masyarakat karena yang kita ingin bentuk adalah vitamin kekebalan atau imunitas," jelas Bambang.

Setidaknya, 2/3 atau 180 juta masyarakat Indonesia perlu divaksinasi agar membentuk herd imunity atau kekebalan komunitas.

"Misalkan 2 orang menolak untuk divaksin, mereka tidak bisa mengatakan itu kan risiko sendiri dan akan menanggung sendiri. Jangan lupa penyakit menular, kalau tidak divaksin maka dia berpotensi menyebarkan penyakit ini ke orang lain, apalagi jika Covid-19 dan OTG," ungkap dia.

Pondok Pesantren terapkan protokol kesehatan (Covid19.go.id)
Pondok Pesantren terapkan protokol kesehatan (Covid19.go.id) ()

Protokol Kesehatan Vaksin Terampuh Saat Ini

Sampai vaksin dinyatakan aman dan terbukti efektif, tidak ada vaksin yang lebih baik daripada protokol kesehatan yakni melakukan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta Menjaga jarak).

Kebersamaan masyarakat untuk displin pada protokol kesehatan merupakan kunci pencegahan virus corona.

Hal itu diungkap oleh Ketua Tim Pedoman & Protokol dari Tim Mitigasi PB IDI, Dr dr Eka Ginanjar, SpPD-KKV dalam diketerangan tertulisnya, Jumat (9/10/2020).

"Walaupun sulit dan banyak masyarakat belum terbiasa, namun langkah 3M ini adalah cara yang paling efektif hingga saat ini dalam mencegah penularan," kata Eka.

Ia menyadari ketidaknyamanan masyarakat menggunakan masker dalam beraktifitas. Tetapi hal itu harus dilakukan demi kebaikan bersama.

Kondisi saat ini yang harus diwaspadai adalah Orang Tanpa Gejala (OTG) yang bisa saja merasa sehat dan terus beraktifitas dengan mengabaikan protokol kesehatan.

"Disiplin menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun ini adalah bukan hanya menjaga keselamatan diri sendiri, namun juga keluarga dan orang disekitar," jelasnya.

Sementara itu, Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman menilai penanganan Covid-19 yang harus dilakukan pemerintah Indonesia adalah strategi yang mengkombinasikan 3M, 3T, serta vaksinasi.

Baca juga: Doni Monardo: Klaster Pilkada 2020 Tak Akan Terjadi Jika Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan

Baca juga: Jika Ada Kontak Erat dengan Pasien Covid-19 Segera Tes Swab di Puskesmas, Doni Monardo: Gratis

Ia mengingatkan, vaksin bukan menjadi akhir perlawanan terhadap Covid-19.

Penerapan protokol 3M Covid- 19 serta, 3T yakni Test, Trace, dan Treat atau wajib tetap dilaksanakan.

"Tidak serta merta vaksin akan jadi peluru ajaib kita. Sekali lagi kita memerlukan strategi 3T dan 3M ini untuk dikombinasikan dengan strategi vaksinasi. Jangan sampai terlalu euforia vaksin itu posisinya di jangka panjang dalam strategi pengendalian," ujar dia beberapa waktu lalu.

Catatan Redaksi: Bersama kita lawan virus corona. Tribunsolo.com mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. ingat pesan ibu 3M (Memakai masker, rajin Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak).

 (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Optimisme dan Kebersamaan Saat Pandemi Covid-19, Vaksin Bukan Akhir Lawan Corona, Tetap 3M Plus 3T 

Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved