Breaking News:

Berita Solo Terbaru

Ratusan Pedagang Pasar Gede Solo Diminta Bersabar, Pemkot : Di Rumah Dulu dan Tidak Nekat Berjualan

Para pedagang ini, diminta tertib untuk melakukan karantina mandiri di rumah dan tidak nekat berjualan. 

TribunSolo.com/Adi Surya
ILUSTRASI : Suasana transaksi jual beli sebelum kena lockdown di Pasar Gede, Jalan Urip Sumoharjo. Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Minggu (29/11/2020). 

Meski rambak kulit jualannya masih menjadi satu primadona yang diburu pelanggan. 

"Kalau biasanya rata-rata normal Rp 700 ribu per hari sekarang Rp 350 ribu," tandasnya.

Keputusan Wali Kota

Pasar Gede yang menjadi ikon Kota Solo di Jalan Urip Sumoharjo ditutup selama seminggu ke depan mulai Selasa 1 Desember hingga Selasa 7 Desember 2020.

Penutupan sementara pasar di Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres yang dilakukan Pemkot karena ada banyak pedagang positif Corona.

Setidaknya ada 11 pedagang Pasar Gede yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

"Sudah saya minta tutup untuk disterilkan dulu," kata Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo kepada TribunSolo.com, Senin (30/11/2020).

Adapun bagian Pasar Gede Solo yang ditutup sementara yakni sisi timur selama sepekan. 

Penutupan tersebut terhitung mulai 1 Desember 2020 sampai 7 Desember 2020.

Kondisi Es Dawet Bu Dermi langganan Jokowi di Pasar Gede Solo saat memasuki libur panjang hari kedua Kamis (29/10/2020).
Kondisi Es Dawet Bu Dermi langganan Jokowi di Pasar Gede Solo saat memasuki libur panjang hari kedua Kamis (29/10/2020). (TribunSolo.com/Ilham Oktafian)

Awalnya 2 Pedagang

Sebelumnya, langkah penutupan sementara Pasar Gede Solo baru dalam rencana.

Rencana penutupan tersebut menyusul ditemukannya 2 kasus pedagang Pasar Gede positif Covid-19.

"Kita tutup dulu apakah semuanya apa per blok kami evaluasi dulu, blok mana kita lihat dulu," kata Ketua Pelaksana Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Solo, Ahyani, Senin (30/11/2020).

"Kalau bloknya merata, ya, kami tutup semua. Kalau hanya ngumpul di satu blok, ya blok itu saja," tambahnya. 

Tracing dan uji swab kontak erat dan dekat pasien, sambung Ahyani, telah dilakukan.

Dari tracing tersebut ditemukan ada 4 sampai 6 kontak erat dan dekat.

"Kalau ini berkumpul di satu blok, ya satu blok itu kami tutup semuanya," ucap dia. 

Satgas Penanganan Covid-19 Kota Solo masih akan melakukan tracing mendalam untuk menemukan kontak erat dan dekat lain. 

"Apa ada ekornya lagi kami lihat," ujar Ahyani. 

Sudah Koordinasi

Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Heru Sunardi mengatakan penutupan tersebut diambil setelah temuan 11 pedagang terkonfirmasi positif Covid-19.

Temuan tersebut didapatkan dari hasil tracing terhadap kasus temuan 3 pedagang Pasar Gede Solo positif Covid-19 sebelumnya. 

"Pagi tadi dari Dinas Kesehatan Kota Solo melaporkan tambah 8 pedagang yang terkonfirmasi positif Covid-19," terang Heru kepada TribunSolo.com, Senin (30/11/2020).

Penutupan Pasar Gede Solo, sambung Heru, kemudian diambil setelah adanya temuan kasus tersebut. 

Keputusan penutupan tersebut diambil untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

"Pedagang yang positif Covid-19 sudah diminta untuk menjalani karantina mandiri," tutur Heru. 

Informasi penutupan Pasar Gede Solo sudah diberitahukan kepada para pedagang.

Paguyuban Pedagang Pasar Gede Solo sudah diminta untuk menginformadikan ke para pedagang. 

"Menginformasikan mulai besok Pasar Gede ditutup, sehingga barang-barang yang mudah rusak hari ini segera dikeluarkan," ucap Heru. 

Dari pantauan TribunSolo.com, penyemprotan disinfektan dilakukan di lingkungan Pasar Gede Solo sekira pukul 16.00 WIB.

Penyemprotan dilakukan sejumlah petugas berpakaian alat pelindung diri (APD) lengkap. 

Sejumlah kios dan los sudah tutup, tak terkecuali kios es dawet telasih langganan Presiden Jokowi, Bu Dermi. 

Hanya ada segelintir pedagang yang masih beberes barang dan menutup kios ataupun los mereka. 

"Penutupan 7 hari  semoga nanti tidak ada perubahan," tandasnya.

Langganan Jokowi

Libur panjang menjadi berkah tersendiri bagi pemilik Dawet Bu Dermi yang selama ini terkenal menjadi langganan Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Pemilik Dawet Bu Dermi Rut Tulus Subekti menyebut jika pembeli yang datang di lapaknya sudah meningkat sejak hari Sabtu (24/10/2020) pekan lalu.

"Ini semakin banyak," aku dia saat ditemui TribunSolo.com, Kamis (29/10/2020).

Ia pun ketiban untung dengan keadaan tersebut.

Lebih lebih, para pembeli kebanyakan didominasi oleh pelancong dari luar kota Solo.

Baca juga: UMS Masuk 10 Perguruan Tinggi Terbaik, Versi QS World University Rankings di Bawah Undip Semarang

Baca juga: Dawet Bu Dermi Pasar Gede Langganan Jokowi Diserbu Pembeli, Banyak Pelancong Luar Kota Rela Antre

"Kalau hari libur seperti sekarang yang beli banyak," katanya.

"Apalagi dari luar Solo," imbuhnya.

Bahkan, peningkatan pendapatan, sambung Utik sapaan akrabnya mencapai diatas 50 persen.

"Kalau tidak hari biasa sepi, paling banter laku 200," ujarnya.

"Kalau hari libur bisa banyak, kemarin bisa laku 400 an porsi," tandasnya.

Kendati demikian, ia merasakan simalakama dengan ramainya pembeli yang datang.

Mengingat keadaan pandemi di Kota Solo masih belum usai.

"Pasti khawatir, kalau tidak jualan gimana kalau jualan juga gimana," aku dia.

"Yang penting protokol kesehatan," tutupnya.

Pelancong Membludak Mampir 

Memasuki long weekend hari kedua, dawet selasih langganan Presiden Joko Widodo di Pasar Gede Solo diserbu pembeli.

Minuman tradisional tersebut yakni Dawet Bu Dermi yang berada di sudut Pasar Gede, Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Solo.

Dari pantauan TribunSolo.com, Kamis (29/10/2020) banyak pembeli sampai rela mengantre.

Bahkan antrean mengular sehingga jalanan di tengah pasar cukup padat.

Baca juga: Tawangmangu Lengang saat Hari Pertama Libur Panjang, Imbas Kabar Adanya Rapid Test Secara Acak?

Baca juga: Hari Pertama Libur Naik 10 Persen, Pengelola Terminal Tirtonadi Solo Antisipasi Membludaknya Pemudik

Banyak di antaranya memilih dibungkus, meski tak jarang ada yang langsung menyantapnya di tempat.

Tak hanya dari dalam kota, banyak pembeli dari luar Solo pun terlihat ikut mengantre.

Salah satunya Sandra, seorang pelancong asal Semarang yang memesan beberapa porsi di Es Dawet Bu Dermi.

Tiap ke Solo, ia mengaku selalu menyempatkan datang ke Es Dawet Bu Dermi.

"Di sini selalu langganan," katanya sembari antre.

Sementara itu, pemilik Es Dawet Bu Dermi Rut Tulus Subekti tak menampik selama liburan panjang ini banyak pembeli dari luar kota yang datang.

Dawet miliknya selama ini juga dikenal menjadi langganan pejabat, di antaranya Presiden Jokowi.

Adapu dawet telasih yang berisi butiran dawet, santan, ketan hitam, tape ketan, bubur sumsum, dan biji leasih itu cukup populer di Solo.

"Banyak, dari Sabtu 24 Oktober 2020 kemarin sudah mulai banyak," ujarnya.

"Ini semakin banyak," tambahnya.

Baca juga: Libur Panjang, Pemudik ke Solo Bakal kena Uji Swab? Wali Kota : Demi Tekan Angka Penyebaran Covid-19

Baca juga: Libur Panjang, Pemudik ke Solo Bakal kena Uji Swab? Wali Kota : Demi Tekan Angka Penyebaran Covid-19

Bu Utit, sapaan akrabnya merasakan simalakama dengan ramainya pembeli yang datang.

Mengingat keadaan pandemi di Kota Solo masih belum usai.

"Pasti khawatir, kalau tidak jualan gimana kalau jualan juga gimana," aku dia.

"Yang penting protokol kesehatan," jelasnya membeberkan.

Dijaga Ratusan Polisi

Sejumlah lokasi di Kota Solo bakal mendapat pengamanan personel Polresta Solo.

Itu sebagai bentuk antisipasi libur panjang mulai 28 Oktober 2020 - 1 November 2020.

Kapolresta Solo, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak mengatakan sentra perekononian menjadi satu diantaranya.

"Polresta Solo telah menyiapkan rencana pengamanan dengan sasaran, diantaranya sentra perekonomian/mall, lokasi wisata, tempat wisata kuliner," kata Ade kepada TribunSolo.com, Sabtu (24/10/2020).

Baca juga: Saat Terjadinya Pembunuhan Yulia, Mertua Eko Sebut Kala Itu Mantunya Pamit Pasang Wifi

Baca juga: Antisipasi Libur Panjang, Dishub Solo Perketat Patroli Kota & Intervensi Lalu Lintas via Lampu Merah

"Kemudian di lokasi penjualan oleh-oleh, dan tempat hiburan," tambahnya.

Sebanyak dua raturan personel akan diterjunkan untuk mengamatan lokasi tersebut selama libur panjang.

Mereka berasal dari Babhinkamtibnas, Dalmas, dan Brimob Polresta Solo.

"Seluruhnya ada 256 personel yang dikerahkan," tuturnya.

Selain itu, Ade menyampaikan Polresta Solo bersama TNI, Satpol PP, dan Satgas Penanganan Covid-19 Kota Solo tetap akan mengefektifkan kegiatan pendisiplinan kepatuhan protokol kesehatan.

"Pendisplinan masyarakat terhadap kepatuhan menjalankan protokol Covid-19 dan termasuk Gakkum protokol kesehatan," ujar dia.

"Salah satunya melalui pelaksanaan operasi yustisi di tempat atau lokasi yang telah ditentukan," tambahnya.

Ade menegaskan pelaksanaan 'Tiada Hari Tanpa Razia' tetap dilakukan di pintu-pintu masuk Kota Solo.

"Kemudian juga ada patroli gabungan TNI-Polri dalam skala besar dan operasi penyakit masyarakat," tandasnya.

Antisipasi Dishub Solo

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo tengah menyiapkan sejumlah antisipasi jelang pelaksanaan libur panjang dan cuti bersama akhir Oktober 2020.

Seperti diketahui, libur panjang tersebut dimulai 28 Oktober - 1 November 2020.

Kepala Bidang Lalu Lintas, Ari Wibowo mengatakan patroli kota menjadi satu yang dilakukan.

Itu akan terbagi dalam 2 shift tiap harinya, yakni pukul 07.00 - 15.00 dan 15.00 - 21.00 WIB.

Petugas yang diterjunkan untuk patroli kota sebanyak 8 orang per shift.

Baca juga: Cerita Warga Tak Tahu Apa-apa Tapi Halamannya Jadi TKP Pembakaran Jasad Yulia, Kerja Jadi Tak Fokus

Baca juga: Libur Panjang Oktober, Wali Kota Solo Minta Warga Tak Mudik : Demi Kepentingan Bersama

"Kami juga akan melakukan pantuan dan intervensi APILL dari CC Room," kata Ari kepada TribunSolo.com, Sabtu (24/10/2020).

Patroli prasarana lalu, lanjut Ari, juga bakal dilakukan mulai dari pantauan rambu, marka, barikade, dan water barier.

Selain itu, sosialisai keselamatan jalan di lapangan dan sosialisasi pantauan CCTV melalui medsos Dishub.

Ari mengatakan pihaknya sementara ini belum berencana menerapkan rekayasa lalu lintas kala libur panjang.

Pelaksanaan rekayasa itu dengan melihat situasi di lapangan.

"Sementara belum. Itu situasional nanti bila ada perkembangan, karena ada kondisi pandemi," tutur Ari.

Menurutnya, peningkatanan arus lalu lintas libur panjang diprediksi tidak terlalu tinggi.

"Kemungkinan arus lalu lintas mudik alami peningkatan tapi tidak terlalu tinggi karena pandemi Covid-19," ucap Ari.

Imbauan Wali Kota

Sejumlah daerah kini tengah bersiap menghadapi pelaksanaan libur panjang dan cuti bersama pada akhir Oktober 2020.

Lebih tepatnya, pelaksanaan hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 29 Oktober 2020 dan cuti bersana 28 dan 30 Oktober 2020.

Baca juga: Kepala BNPB Imbau Masyarakat Tak Liburan Jelang Libur Panjang, Ingatkan Kasus saat Idul Adha

Kendati demikian, masyarakat tetap harus ingat bahwasanya libur panjang dan cuti bersama itu dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19.

Wali Kota Solo, Fx Hadi Rudyatmo mengimbau perantau untuk menunda rencana pulang kampung. Itu supaya tidak memicu lonjakan kasus Covid-19.

"Kami sangat berharap dalam rangka untuk cuti bersama bulan Oktober, masing-masing warga masyarakat yang mau pulang kampung atau mudik mohon untuk ditunda dulu," kata Rudy, Kamis (22/10/2020).

Para perantau harus menahan lebih lama lagi untuk pulang kampung, khususnya ke Solo. Setidaknya pandemi Covid-19 benar-benar bisa dikendalikan.

"Jangan sampai yang mau ke Solo awalnya tidak membawa virus, namun kena virus di Solo. Atau yang dari luar masuk ke Solo membawa virus," tutur Rudy.

Baca juga: Libur Panjang, Bupati Karanganyar Juliyatmono Ingatkan Wisatawan hingga Kunjungan Dibatasi Durasi

Menurut Rudy, imbauan untuk menunda pulang kampung tidak hanya ditujukan kepada para perantau namun juga warga Kota Solo.

Itu disampaikan demi kepentingan bersama dalam memutus mata rantai penularan dan penyebaran virus Corona.

"Sehingga nanti kalau pandemi Covid-19 sudah bisa terkendali, reda, dan menurunnya tajam, kami persilahkan bertemu dengan keluarga," ujarnya.

Namun, Pemerintah Kota Solo tetap mengantisipasi gelombang perantau yang masuk. Pengoptimalan Jogo Tonggo menjadi satu diantaranya.

"Kita optimalkan Jogo Tonggo untuk memberikan laporan kepada Satgas sehingga kita lebih mudah untuk monitoring," ucap Rudy. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved