Breaking News:

Keras! Walhi Kritik Jokowi yang Tinjau Banjir: Kalau Cuma Salahkan Hujan, Mending Tak Usah ke Kalsel

Komentar tajam itu keluar karena menganggap kedatangan Jokowi tak sesuai harapan masyarakat untuk menyelesaikan masalah banjir Kalsel.

Editor: Hanang Yuwono
Tribunnews/HO/Biro Pers Setpres
Presiden Joko Widodo meninjau Sungai Martapura dari jembatan Pakauman yang berada di Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Senin (18/1/2021) siang sekira pukul 13.30 WITA. Presiden Jokowi meninjau sejumlah lokasi yang terdampak banjir di Banjar dengan didampingi Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, Kepala BNPB, Doni Monardo, Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, dan Bupati Banjar, Khalilurrahman. 

TRIBUNSOLO.COM -- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan mengritik statemen Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat mendatangi lokasi banjir Kalimantan Selatan.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi) Kalimantan Selatan Kisworo Dwi Cahyono menyebut Jokowi datang hanya untuk menyalahkan hujan karena menyebabkan banjir.

Baca juga: Jembatan Gantung di Sragen Dibangun Era Kades Joko Widodo, Bahan Materialnya Bekas Rel Kereta Api

Baca juga: Jan Ethes Jarang Muncul, Postur Cucu Presiden Jokowi Ini Kini Bertambah Tinggi dan Makin Ganteng

"Presiden Jokowi ke Kalsel kalau hanya menyalahkan hujan dan sungai, mending enggak usah ke Kalsel," kata Kisworo pada Selasa (19/1/2021), seperti dikutip dari Kompas.com.

Rumah-rumah warga di Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimatan Selatan tampak terendam banjir, Sabtu (16/1/2021) (Sumber: bnpb.go.id)
Rumah-rumah warga di Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimatan Selatan tampak terendam banjir, Sabtu (16/1/2021) (Sumber: bnpb.go.id)

Komentar tajam itu keluar karena menganggap kedatangan Jokowi tak sesuai harapan masyarakat untuk menyelesaikan masalah banjir Kalsel.

Kisworo melanjutkan, Jokowi sebagai orang nomor satu Indonesia mestinya bisa membenahi Kalsel yang sedang dalam kondisi darurat.

Menurut Kisworo, Jokowi harusnya memanggil pemilik perusahaan yang telah  merusak lingkungan Kalsel.

"Salah satunya berani memanggil pemilik perusahaan-perusahaan tambang, sawit, HTI (hutan tanaman industri), HPH (hak pengusahaan hutan). Kita dialog terbuka di hadapan rakyat dan organisasi masyarakat sipil," tegasnya.

Banjir Kalimantan Selatan kali ini, tuturnya, adalah tanda provinsi itu sedang dalam kondisi darurat ruang dan bencana lingkungan.

Walhi mencatat, banjir kali ini adalah yang terparah sejak 2006. Banjir besar pernah melanda Kalsel pada 2006. Namun, banjir 2006 tidak sampai merendam 11 kabupaten/kota seperti banjir tahun ini.

Berdasarkan catatan Walhi Kalsel, sekitar separuh provinsi ini dikuasai tambang batu bara dan perkebunan sawit. Tepatnya, tambang menguasai 33 persen dan kelapa sawit menduduki 17 persen wilayah Kalsel.

Halaman
1234
Sumber: Kompas TV
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved