Breaking News:

Hadapi Cuaca Ekstrem dan Gelombong Tinggi, Kemenhub Terbitkan Maklumat Waspada Bagi Pelabuhan

Menghadapi cuaca ekstrem yang berdampak besar dan bahaya bagi pelabuhan di Indonesia, Kemnhub menerbitkan maklumat agar berhati-hati

(Istimewa)
Ilustrasi gelombang pasang dan menenggelamkan sebuah kapal 

TRIBUNSOLO.COM - Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menerbitkan maklumat bagi kepala seluruh Kepala Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) masing-masing pelabuhan se-Indonesia.

Maklumat itu berisi tentang kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem yang akan terjadi pada 7 hari kedepan.

Adapun yang mendapat wewenang maklumat itu antara lain Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Ahmad menyampaikan, Maklumat Pelayaran menginstruksikan kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama, Kepala Kantor KSOP, Kepala Kantor UPP, Kepala Kantor KSOP Khusus Batam, Kepala Pangkalan PLP, serta Kepala Distrik Navigasi di seluruh Indonesia.

Baca juga: FAKTA Misteri Suara Dentuman di Buleleng Bali: Pernyataan BMKG dan Lapan, hingga Kesaksian Warga

Baca juga: Angin Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri Bikin Geger, Ini Penjelasan Lengkap BMKG

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG tanggal 17 Februari 2021, diperkirakan pada tanggal 18 sampai dengan 24 Februari, cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi," kata Ahmad, Jumat (19/2/2021) di Jakarta.

Sehubungan dengan hal tersebut, seluruh syahbandar diintruksikan, untuk setiap hari, melakukan pemantauan ulang kondisi cuaca melalui bmkg.go.id, serta menyebarluaskanya kepada pengguna jasa, termasuk publikasi di terminal atau tempat embarkasi debarkasi penumpang.

Syahbandar juga diminta untuk menunda Surat Persetujuan Berlayar (SPB) sampai kondisi cuaca benar-benar aman untuk berlayar.

“Kegiatan bongkar muat barang diawasi untuk memastikan kegiatan dilaksanakan dengan tertib dan lancar, muatan dilashing, kapal tidak overdraft serta stabilitas kapal tetap baik. Apabila terjadi tumpahan minyak di laut agar segera berkoordinasi dengan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) terdekat untuk membantu penanggulangan tumpahan minyak,” kata Ahmad.

Kepada operator kapal, khususnya nakhoda, agar melakukan pemantauan kondisi cuaca sekurangnya enam jam sebelum kapal berlayar dan melaporkan hasilnya kepada Syahbandar pada saat mengajukan SPB. Selama pelayaran di laut, Nakhoda agar wajib melakukan pemantauan kondisi cuaca setiap 6 (enam) jam dan melaporkan hasilnya kepada Stasiun Radio Pantai terdekat serta dicatatkan ke dalam Log Book pelayaran.

“Bagi kapal yang berlayar lebih dari 4 (empat) jam, nakhoda diwajibkan melampirkan berita cuaca yang telah ditandatangani sebelum mengajukan SPB kepada Syahbandar,” tambah Ahmad.

Pada saat kapal dalam pelayaran mendapat cuaca buruk, agar segera berlindung di perairan yang aman dengan ketentuan kapal harus siap digerakkan.

Halaman
1234
Editor: Muhammad Irfan Al Amin
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved