Breaking News:

Kalah Banding, Terdakwa Kasus Mega Korupsi Asuransi Jiwasraya Tetap Divonis Seumur Hidup

Tersangka kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya yang merugikan keuangan negara sebesar Heru Hidayat divonis hukuman seumur hidup

Editor: Muhammad Irfan Al Amin
Tribunnews.com
Suasana sidang secara virtual pembacaan vonis kasus dugaan korupsi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (26/10/2020). Sidang tersebut dengan agenda pembacaan vonis untuk dua terdakwa mantan Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro dan mantan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram) Heru Hidayat terkait kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang 

PT DKI Jakarta telah memvonis banding terhadap Hary Prasetyo.

Hukumannya dipotong dari seumur hidup menjadi 20 tahun pidana penjara dan denda Rp1 miliar subsider empat bulan kurungan.

Meski demikian, Hary Prasetyo tetap terbukti secara bersama-sama melakukan korupsi pada PT Asuransi Jiwasraya yang merugikan keuangan negara sebesar Rp16,8 triliun.

Hary Prasetyo tetap terbukti melanggar Pasal 2 ayat (1) jo. pasal 18 UU RI nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Akibat Kasus Mega Korupsi Jiwasraya dan Asabri, Anggota DPR RI Dorong Holdingisasi BUMN

Sebelumnya, sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah dilakukan holdingisasi oleh Kementrian BUMN.

Menurut anggota DPR RI Komisi 6 Muhammad Toha, penggabungan BUMN dilakukan untuk menyelematkan sejumlah BUMN yang sakit.

"Banyak BUMN yang mati. Hal itu dikarenakan adanya ketidakefisiensi dan kasus korupsi. Seperti di Jiwasraya, Asabri, dan Garuda," kata dia, Selasa (16/2/2021).

Baca juga: Lowongan Kerja BUMN: PT Kimia Farma Mencari Lulusan D3/S1 untuk Posisi Ini, Simak Informasinya

Baca juga: Lowongan Kerja BUMN: Bank BNI Mencari Lulusan SMA hingga S1, Simak Syaratnya

Dia menuturkan, ada sekira 140 BUMN di tanah air, dan setelah dilakukan marger akan menjadi sekira 100 BUMN.

Dari angka tersebut, ada sekira 20-30 persen BUMN yang mengalami kerugian.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved