Breaking News:

Virus Corona

Gara-gara Tolak Jenazah Covid-19, Perangkat Desa di Banyumas Ini Nangis Minta Ampun pada Jokowi

Kala di awal pandemi, yaitu April 2020 Slamet bersama ratusan warga melakukan penghadangan ambulance pembawa jenazah Covid-19. 

Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Istimewa
FOTO HANYA ILUSTRASI: Pemakaman pedagang Pasar Jambangan yang meninggal dunia karena Covid-19 Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar. 

Sejak 13 Mei 2020 hingga saat ini Slamet berstatus sebagai tahanan rumah. 

Hampir satu tahun ini Slamet mengaku banyak merasakan banyak tekanan dan dipandang negatif oleh para tetangganya karena terlibat perkara hukum.

"Harapannya supaya minta bebas dan tidak akan mengaitkan dengan pihak manapun, putusan itu terlalu berat bagi saya. 

Niat saya adalah mengayomi masyarakat tidak ada maksud lain. Saya harus menunjukan tanggungjawab saya pada waktu itu," ujar Slamet, Kamis (18/3/2021). 

Kasus penolakan jenazah itu bermula karena kurangnya pemahaman akan penanganan jenazah Covid-19.

Kala di awal pandemi, yaitu April 2020 Slamet bersama ratusan warga melakukan penghadangan ambulance pembawa jenazah Covid-19. 

Warga bersikeras agar ambulan itu tidak melewati Desa mereka dengan alasan takut tertular. 

Selang satu minggu, Slamet dan beberapa warga diperiksa di Polresta Banyumas dan dijerat dengan tuduhan menghalangi petugas. 

Hingga akhirnya proses hukum tetap berjalan dan sampai hari ini masuk ke Mahkamah Agung. 

Atas dasar itulah Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Banyumas memohon kepada Presiden Jokowi agar membebaskan Slamet atas kasus ini. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved