Berita Sukoharjo Terbaru

Sejarah Penemuan Keraton Kartasura : Berupa Hutan Penuh Rusa, Hingga Jadi Kompleks Makam

Benteng tua yang mengelilingi bekas Keraton Kartasura di Desa Ngadirejo, Sukoharjo menjadi saksi bisu sejarah panjang kerajaan Mataram Islam.

Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Adi Surya Samodra
TRIBUNSOLO.COM/Krisna Sumargo
ILustrasi : Puing-puing Keraton Kartasura, saksi bisu runtuhnya Kerajaan Mataram Islam karena perang saudara. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Benteng tua yang mengelilingi bekas Keraton Kartasura di Desa Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo menjadi saksi bisu sejarah panjang kerajaan Mataram Islam. 

Juru Kunci Hastana Keraton Kartasura, Mas Ngabehi Surya Hastono Hadiprojonagaro mengatakan, wilayah kerajaan Mataram Islam ini dulunya meliputi pulau Jawa dan Madura. 

Namun, lewat Perjanjian Giyanti ditandatangani oleh Mangkubumi, Pakubuwono (PB) III dan VOC pada tahun 1755, kerajaan Mataram terpecah menjadi dua, kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.

"Keraton Kartasura setelah pindah ke Surakarta tahun 1745, kemudian ditinggalkan," kata dia. 

"Tahun 1811 eyang buyut saya di minta mencari keraton yang ditinggalkan itu," imbuhnya. 

Saat ditemukan, Keraton Kartasura ini sudah berupa hutan yang dipenuhi Menjangan (Rusa). 

Menjangan itu kemudian ditangkap dan dibuatkan kandang, yang saat ini sudah menjadi markas Grup 2/Kopassus.

Baca juga: Tradisi Sadranan di Keraton Kartasura : Dimulai Sejak Tahun 1945, Waktunya Jelang Ramadan

Baca juga: Cerita Tentang Surya Hastono, Juru Kunci Keraton Kartasura, Dapat Gaji Rp 107 Ribu per Bulan

"Tahun 1816 ada penasihat raja Mas Ngabehi Sutorejo meninggal dunia, diminta di makamkan disini. Makam beliau jadi cikal bakal di sini," ucapnya. 

"Kemudian oleh Pakubuono IV, tempat ini dijadikan makam,"imbuhnya. 

Surya tidak bisa memastikan sudah ada berapa orang yang dimakamkan di bekas Keraton Kartasura ini. 

Sebab, selain kerabat kerajaan, disini juga digunakan untuk makam umum masyarakat. 

"Sebelum adanya Undang-undang (UU)  cagar budaya, boleh digunakan untuk makam," jelasnya. 

"Tapi sejak tahun 2010 dengan adanya UU Cagar Budaya, sudah tidak boleh digunakan untuk makam, tapi untuk wisata. Termasuk untuk memakamkan Kerabat Keraton," ujarnya.  

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved