Breaking News:

Berita Solo Terbaru

Ramadan 2021, Masjid Agung Solo Tiadakan Buka dan Sahur Bersama : Prokes Cenderung Susah

Acara buka dan sahur bersama tidak diadakan pengurus Masjid Agung Solo selama Ramadan 2021.

Penulis: Adi Surya Samodra | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Ilham Oktafian
Jemaah shalat di pelataran Masjid Agung Solo yang berada di Kecamatan Pasar Kliwon, Jumat (5/6/2020). 

Masjid Agung Keraton Surakarta telah melalui sejumlah renovasi.

Tapi secara keseluruhan, bentuknya tak banyak berubah.

Apabila berkunjung ke masjid tersebut suasananya masih sama seperti di zaman para sinuhun raja Surakarta masih berkuasa.

Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta, K.H. Muhtarom mengatakan ada tiga bagian fundamental yang mengalami perubahan signifikan.

Pertama perubahan bentuk kubah.

Di awal pendirian, Masjid Agung menggunakan kubah yang berbahan emas.

Namun akibat sambaran petir dan mengakibatkan beberapa kerusakan, akhirnya di masa Paku Buwono VII diganti menjadi kubah yang berbahan tembaga.

Perubahan kembali dilakukan pada era Paku Buwono X dimana kubah yang berukuran besar diganti dengan sebuah besi berbentuk paku menancap di ujung atap masjid yang berbentuk segitiga.

Ujung atap tersebut memiliki alas tembaga yang memiliki ukiran seperti dedaunan yang sedang mekar.

Adapun diujung atap diberi sebuah tembaga yang mengkilap seperti kristal, sehingga di tengah hari kilaunnya dapat disaksikan segenap jamaah sepulang dari masjid.

Namun kilauan tersebut berhenti di tahun 2006, saat pemerintah kota Surakarta melakukan pemugaran dan mengembalikan bentuk atap kubah seperti semula.

Adapun paku besi tersebut disimpan di kantor Takmir Masjid Agung Surakarta.

Perubahan kedua adalah gapura di depan masjid yang semula berbentuk semar tinandu atau limasan yang umunya menjadi pagar rumah bangsawan Jawa.

Oleh Paku Buwono X gapura tersebut diganti menjadi lebih megah dengan ukiran khas Turki.

Sultan Turki

Muhtarom menyebut perubahan itu terjadi karena ada hubungan diplomatis Kasultanan Surakarta dan Sultan Turki Utsmani.

Adapun perubahan terakhir adalah diangkatnya tempat shalat khusus bagi raja Surakarta yang berbentuk rumah kayu.

Tempat shalat tersebut dulunya terletak di belakang mihrab tempat imam memimpin shalat.

Saat ini bangunan kayu itu telah dipindahkan dan disimpan di Keraton setelah kekuasaan Kasultanan Surakarta mulai meredup.

Muhtarom menuturkan pembangunan paling signifikan terjadi di masa pemerintahan Paku Buwono X, di saat itu pula menara masjid dibangun.

Kedekatannya dengan Turki Utsmani menjadi pilar penting dalam proses pembangunan masjid, sehingga dapat disaksikan terjadi akulturasi budaya pada Masjid Agung Surakarta antara budaya Jawa dan Turki.

Abdi Dalem

Adapun pegawai atau pengurus masjid secara keseluruhan diangkat menjadi abdi dalem keraton dengan gelar Kanjeng Tumenggung Penghulu Tafsiranomo  (penghulu) dan Lurah Muadzin untuk sang juru adzan.

Maka selain pembangunan keraton yang digunakan untuk tempat tinggal dan pusat pemerintahan, Paku Buwono juga merancang berdirinya sebuah masjid yang letaknya berdampingan dengan Keraton Surakarta.

Walaupun dibangun oleh anaknya Paku Buwono III, namun Paku Buwono II telah merancang secara struktur lahan seperti peletakan pasar dan lapangan alun-alun yang keseluruhan berdekatan dengan masjid.

Pada era Paku Buwono III Masjid Agung diberi sentuhan nuansa arsitektur Jawa Kuno dan Belanda.

Bangunan berbahan kayu nampak mendominasi terutama pada bagian atap yang bertumpang tiga dan memiliki pucuk berbentuk mustaka.

Atap yang bertumpang tiga itu berarti pokok-pokok tuntunan islam yakni iman, islam dan ihsan.

Pada zaman kepemimpinan Paku Buwono IV sempat terjadi renovasi dengan mengganti mustaka dengan lapisan emas murni seberat 7,69 kg seharga 192 ringgit.

Simbol mustaka yang berbeda dengan bentuk atap masjid yang pada umumnya berbentuk bulan bintang ini bermakna sebuah paku yang menancap ke bumi dan berarti bahwa Paku Buwono merupakan penguasa atau pemimpin di wilayah tempat masjid tersebut berdiri.

Lapisan emas tersebut tidak digunakan lama, di masa Paku Buwono IV pula lapisan tersebut diganti dengan lapisan berbahan metal.

Dari bagian beranda hingga mihrab tempat imam berdiri hampir keseluruhan berbahan kayu jati yang kokoh dan tidak terganti.

Menurut Purwadi dalam jurnalnya yang berjudul "Harmony Masjid Agung Keraton Hadiningrat", bahwasanya letak Masjid Agung yang berdekatan dengan Pasar Klewer sesuai dengan hadis nabi.

Nasihat nabi tersebut menjelaskan bahwa ideologi yang bersifat ruhiyah atau keagamaan dan urusan duniawi seluruhnya harus saling berkaitan.

Di luar bangunan masjid terdapat Gapura Gladhak dan berdekatan dengan alun-alun yang melambangkan masa kanak-kanak penuh dengan permainan dan suka ria.

Oleh karena itu alun-alun dan Pasar Klewer sebagai represantasi dari unsur duniawi dan Masjid Agung Keraton Surakarta sebagai lambang dari unsur keislaman dan keagamaan.

Secara keseluruhan yang memiliki andil dalam dalam pembangunan dan pengembangan Masjid Agung Keraton Surakarta adalah Paku Buwono II, Paku Buwono IV, Paku Buwono VII dan Paku Buwono X.

Adapun pengelolaan Masjid Agung Keraton Surakarta awalnya menggunakan dana keraton, namun pada tahun 1952 kemudian berpindah pada Departemen Agama.

Namun tahun sejak 23 Juli 1988, pengelolaan masjid diserahkan kembali kepada Keraton Kasunanan Surakarta.

Kegiatan dan Ritual Keagamaan di Masjid Agung Keraton Surakarta

Bedug dan kentong milik Masjid Agung Keraton Surakarta (tribunsolo.com/ muhammadirfanalamin)Tata acara Masjid Agung beraneka ragam dimulai dari kegiatan Tinggalan Dalem Jumenengan yang dilaksanakan pada setiap tanggal 2 Ruwah Tahun Jawa hingga Kirab Pusaka setiap tanggal 1 Suro setiap tahun Jawa.

Melalui kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dan kultural dapat dipersatukan dengan baik.

Di luar masjid, tradisi keraton juga banyak berkaitan dengan Masjid Agung seperti tiga macam grebeg.

Grebeg Mulud setiap tanggal 12 Rabiul Awal, Grebeg Pasa setiap tanggal 1 Syawal dan Grebeg Besar setiap tanggal 10 Dzulhijjah.

Adapun kegiatan keagamaan di Masjid Agung serupa dengan kegiatan masjid lainnya sejak adzan subuh hingga selesainya shalat isya'.

Perilaku sosial juga ditunjukkan dengan adanya aktivitas yang melibatkan masyarakat seperti pembagian daging kurban idul adha hingga santunan terhadap kaum dhuafa dan yatim piatu hasil dari dana infaq dan sedekah para jamaah.

Mengenal Keunikan Aksesoris dan Kelengkapan Masjid Agung Keraton Surakarta

Seorang pekerja mengeluarkan karpet dari ruang utama Masjid Agung Keraton Surakarta (tribunsolo.com/ muhammadirfanalamin)Menempati lahan seluas 19.180 meter persegi, Masjid Agung Keraton Surakarta menyimpan banyak ragam keunikan.

Di dalam kompleks masjid dapat dijumpai oleh jamaah berbagai bangunan dengan fungsi sebagai fungsi kultural khas perpaduan jawa dan islam.

Dimulai dari kawasan pagar, ada Pagar Keliling yang dibangun pada masa Sunan Pakubuwana VIII tahun 1858.

Lalu dilanjutkan pada bagian Gapura yang terdapat tiga pintu masuk, dengan gapura utama berbentuk paduraksa berada di sisi timur menghadap alun-alun dan dua gapura kecil di sisi utara maupun selatan.

Pelataran kawasan halaman masjid diisi oleh Pagongan yang berfungsi sebagai tempat gamelan kraton dan dimainkan sewaktu perayaan sekaten.

Terdapat juga menara adzan dengan corak arsitektur terinspirasi dari tradisi bangunan di Delhi, India.

Di kawasan dalam masjid terdapat serambi yang digunakan untuk tempat imam, terdapat juga pawestren sebagai tempat shalat untuk jamaah perempuan dan sering difungsikan sebagai balai rapat. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved