Tiru Gaya Rambut dan Berbusana Ala Korea Selatan, Tiga Remaja di Korea Utara Dihukum Kerja Paksa

Tiga orang remaja di Korea Utara dihukum karena meniru budaya dan gaya rambut ala Korea Selatan.

AFP/STR/KCNA MELALUI KNS
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara dalam pertemuan Biro Politik Komite Sentral Komite Sentral Partai Buruh Korea (WPK) di Pyongyang. Foto diambil pada Sabtu (11/4/2020) dan dirilis Kantor Berita Pusat Korea (KCNA). 

TRIBUNNEWS.COM, - Korea Utara kerap bersitegang dengan Korea Selatan

Bahkan, tiga orang warga Pyongan Utara, Korea Utara dipaksa untuk mengikuti pendidikan ulang dan kerja paksa akibat mengikuti budaya negeri Ginseng itu. 

Baca juga: Penampakan Bilik Bercinta di Gang Royal Jakarta Utara, Seukuran Liang Lahat 2x1 Meter

Baca juga: Pengakuan Nawir Pemuda Masjid Bekasi yang Paksa Jemaah Lepas Masker, Kaget Dapat WA dan Trending

Mereka dilabeli berperilaku anti-sosialis karena mengikuti gaya berbusana serta potongan rambut ala Korsel. 

Dilansir dari Daily NK, Kementerian Jaminan Sosial menangkap tiga siswa sekolah menengah berusia 14 tahun yang tinggal di wilayah Kujang karena perilaku anti-sosialis.

Para siswa diduga telah memotong rambut mereka seperti remaja Korea Selatan dan menyanyikan lagu-lagu Korea Selatan.

"Setelah pemeriksaan pendahuluan pada awal April, pihak berwenang mengirim para remaja ke kamp kerja paksa untuk pendidikan ulang," kata sumber soal penangkapan tiga remaja itu. 

Sumber ini mengklaim pada awal Maret lalu, teman sekelasnya yang merupakan putra dari pemimpin inminban (unit masyarakat), memergoki tiga siswa tersebut.

Ketiganya diketahui memotong rambut mirip dengan idol asal Korea Selatan, memakai celana hanya sampai di atas pergelangan kaki, dan menyanyikan lagu K-Pop.

Sumber menyebut lagu itu berjudul 'Man' yang dinyanyikan Na Hoon-a.

Para siswa tersebut kemudian dilaporkan ke Kementerian Keamanan Negara. 

Kementerian Keamanan Negara langsung mengamankan ketiga ABG itu dan melakukan pemeriksaan awal untuk dikirim ke kamp pendidikan ulang pada 3 April lalu.

Sementara itu, otoritas setempat mengusir orang tua siswa ke Kabupaten Changsong di Provinsi Pyongan Utara karena dianggap membiarkan anaknya mengikuti budaya Korea Selatan.

Bahkan pasca kejadian itu, pejabat lokal menggelar pembicaraan kepada pendidik dan warga setempat untuk membahas masuknya budaya imperialis dan propaganda musuh.

Menurut sumber tersebut, para dosen menyatakan bahwa: "Kaum imperialis yang licik cemburu bahwa kita (orang Korea Utara) menjalani kehidupan yang lebih baik karena kita menjunjung tinggi nilai-nilai sosialis kita."

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved