Breaking News:

Insiden di Kedung Ombo Boyolali

Sejarah Waduk Kedung Ombo Menurut Saksi Mata: Ternyata Dulu Perkampungan, Warga Terpaksa Angkat Kaki

Sumiyatun menceritakan awalnya lokasi yang kini menjadi waduk merupakan perkampungan penduduk.  Lambat laun menjadi Waduk Kedung Ombo.

TribunSolo.com/Septiana Ayu
Salah satu warung apung yang dekat dengan daratan di Waduk Kedung Ombo di Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Minggu (16/5/2021). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Waduk Kedung Ombo yang menjadi lokasi terjadinya insiden maut perahu terbalik dan membuat 7 orang tewas serta 2 orang masih dalam pencarian memiliki kisah getir di balik pembangunannya. 

Kisah tersebut masih samar-samar teringat dalam memoar beberapa warga Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali

Satu diantaranya, Suwiyatun (48). Ia merupakan salah satu warga yang kediamannya terkena proyek pembangunan Waduk Kedung Ombo. 

Baca juga: Imbas Kedung Ombo Telan Korban 9 Wisatawan, Waduk Cengklik Ngemplak Ikut Ditutup dan Dijaga Ketat

Baca juga: Potret Warung Apung di Kedung Ombo dari Udara : Sajikan Ikan Air Tawar, dari Nila Merah hingga Patin

Sumiyatun menceritakan awalnya lokasi yang kini menjadi waduk merupakan perkampungan penduduk. 

Susana warung apung di tengah-tengah Waduk Kedung Ombo di Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Minggu (16/5/2021).
Susana warung apung di tengah-tengah Waduk Kedung Ombo di Dukuh Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Minggu (16/5/2021). (TribunSolo.com/Dok Basarnas)

Berdasarkan informasi yang dihimpun TribunSolo.com, saat itu perkampungan tersebut, khususnya di kawasan Kemusu dihuni kurang lebih 3.006 kepala keluarga. 

Di mana setiap kepala keluarga setidaknya terdiri dari 5 sampai 6 orang tinggal di atas tanah yang disebut-sebut relatif subur tersebut. 

"Rumah saya dulu itu di dekat dengan sungai Serang. Kira-kira 40 meter dari sungai," kata Suwiyatun kepada TribunSolo.com, Minggu (16/5/2021).

Bila hujan, sambung Sumiyatun, rumah milik keluarganya dan tetangga sering tenggelam. Ketinggian air sampai atap. 

"Kondisinya seperti (diterjang) banjir bandang. Ketinggian air sampai atap," tuturnya. 

Halaman
1234
Penulis: Adi Surya Samodra
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved