Breaking News:

Waspada, Infeksi Jamur Hitam Berpotensi Terjadi di Indonesia, Begini Penjelasan Epidemiolog

Penyakit ini cenderung menyerang mereka yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh dan memiliki kadar gula darah tinggi.

Uma Shankar MISHRA / AFP
Seorang pasien yang pulih dari virus corona Covid-19 dan sekarang terinfeksi Jamur Hitam, infeksi jamur mematikan di Netaji Subhash Chandra Bose Medical College di Jabalpur pada 21 Mei 2021. 

TRIBUNSOLO.COM - Infeksi jamur hitam (Mucormycosis) kini dialami banyak warga India.

Penyakit ini cenderung menyerang mereka yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh dan memiliki kadar gula darah tinggi.

Baca juga: Wakil Dubes RI di India Meninggal Usai Terpapar Covid-19, Pernah Bertugas di Australia dan Belanda

Terkait hal ini, Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan bahwa infeksi jamur hitam (Mucormycosis) kini berpotensi pula terjadi di Indonesia.

Menariknya, India dan Indonesia memiliki jumlah penderita diabetes yang tinggi.

India diketahui sebagai negara urutan kedua di dunia untuk penderita diabetes setelah China.

Sedangkan Indonesia juga memiliki jumlah penderita diabetes yang tidak bisa disebut 'sedikit'.

Sehingga Mucormycosis berpotensi terjadi pula oleh Indonesia, terutama pada pasien maupun penyintas Covid-19 dan penderita diabetes.

"India itu penderita diabetesnya banyak, Indonesia itu 5 besar dunia (untuk penderita diabetes), jadi ini ada kesamaan, kita punya potensi yang sama ya, terutama pada penderita diabetes yang tidak terkendali," jelas Dicky, kepada Tribunnews, Kamis (27/5/2021).

Terkait sifat Mucormycosis yang cenderung menyerang orang yang memiliki kekebalan tubuh lemah, kata Dicky, India saat ini memiliki varian baru virus corona (Covid-19) yakni B.1.617 yang diduga menjadi penyebab melonjaknya kasus Covid-19 di sana.

ILUSTRASI Infeksi Jamur - Fotomikrograf memperlihatkan sporangium dewasa dari jamur Mucor sp. Mucor sp adalah jamur dalam ruangan yang umum, dan merupakan salah satu jamur penyebab kelompok infeksi yang dikenal sebagai zygomycosis.
ILUSTRASI Infeksi Jamur - Fotomikrograf memperlihatkan sporangium dewasa dari jamur Mucor sp. Mucor sp adalah jamur dalam ruangan yang umum, dan merupakan salah satu jamur penyebab kelompok infeksi yang dikenal sebagai zygomycosis. (CDC / DR LUCILLE GEORG / BSIP / BSIP via AFP)

Varian ini disebut memiliki kemampuan untuk menurunkan daya tahan tubuh.

Jika seseorang yang sebelumnya telah menderita diabetes, kemudian terinfeksi Covid-19, maka kemunculan Mucormycosis ini sangat berbahaya.

"Tampaknya ada kecenderungan bahwa varian B.1.617 ini lebih memiliki kemampuan untuk menurunkan efikasi antibodi dan termasuk menurunkan daya tahan tubuh, sehingga ketika menyerang penderita diabetes (perlu diwaspadai)," kata Dicky.

Selain itu, penggunaan steroid dalam pengobatan yang tidak sesuai dengan anjuran dokter pun turut menjadi penyebab munculnya infeksi ini.

"Dan juga ada pengaruh penggunaan steroid yang tidak rasional ataupun di luar pengendalian dokter, ini bisa seperti itu juga. Karena ini bisa mematikan ya Mucormycosis ini," tegas Dicky.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa penyakit yang disebabkan jamur Mucormycetes ini bukan merupakan jenis penyakit yang dapat ditularkan dari manusia ke manusia.

"Tapi yang harus diketahui, Mucormycosis ini bukan penyakit menular dari orang ke orang, dari lingkungan saja (dengan kelembaban) yang rawan," pungkas Dicky.

Baca juga: Belum Usai Pandemi Covid-19, Kini Muncul Teror Infeksi Jamur Hitam di India, Bahaya dan Mematikan

Seorang pasien yang pulih dari virus corona Covid-19 dan sekarang terinfeksi Jamur Hitam, infeksi jamur mematikan di Netaji Subhash Chandra Bose Medical College di Jabalpur pada 21 Mei 2021.
Seorang pasien yang pulih dari virus corona Covid-19 dan sekarang terinfeksi Jamur Hitam, infeksi jamur mematikan di Netaji Subhash Chandra Bose Medical College di Jabalpur pada 21 Mei 2021. (Uma Shankar MISHRA / AFP)

Sebelumnya, ia menyebut ada dua faktor yang memicu munculnya penyakit yang disebabkan jamur Mucormycetes ini yakni buruknya kebersihan lingkungan dan kondisi kesehatan diri sendiri.

"(Mucormycosis) ini terutama dipengaruhi oleh dua hal ya, faktor dari kesehatan lingkungan yang buruk dan faktor dari manusianya itu sendiri," ujar Dicky, kepada Tribunnews, Selasa (25/5/2021) siang.

Terkait faktor kebersihan lingkungan yang kurang terjaga, ia menjelaskan bahwa jamur ini sebenarnya hidup dan berkembang biak di lingkungan sekitar kita.

Bahkan bisa saja terdapat di kamar, termasuk kamar mandi yang memiliki tingkat kelembaban tinggi.

Karena Mucormycetes hidup pada tempat yang lembab.

"Faktor dari kesehatan lingkungan yang buruk itu karena jamur ini ada di Indonesia, di sekeliling kita juga banyak, di kamar, lalu dinding kamar mandi, itu semuanya kalau lembab, jamur itu ada," jelas Dicky.

Oleh karena itu ia menekankan, jika lingkungan sekitar tempat tinggal tidak terawat secara baik, besar kemungkinan jamur ini tumbuh dan berkembang biak.

Sirkulasi udara yang baik pun menjadi salah satu faktor penentu.

Sehingga penting untuk menjaga kebersihan lingkungan dan udara sekitar agar spora dari jamur ini tidak terhirup.

"Kalau lingkungan tidak terkelola baik, terutama karena lembab ya, ventilasi atau sirkulasinya juga buruk, misal di basement atau perkantoran yang tidak terkelola baik, nah ini spora dari jamur yang ada di lingkungan itu bisa terhirup oleh manusia," kata Dicky.

Sementara itu, untuk faktor pendukung lainnya yang dapat memicu munculnya jamur ini yakni kondisi kesehatan diri sendiri.

Ketahui batas kadar gula darah normal agar tidak berujung pada komplikasi.
Ketahui batas kadar gula darah normal agar tidak berujung pada komplikasi. (Medical News Today)

Baca juga: Banyak Rakyat di Negaranya Meninggal, Politikus India Malah Sebut Virus Corona Punya Hak untuk Hidup

Perlu diketahui, Mucormycosis menyerang orang yang memiliki gangguan pada sistem kekebalan tubuh dan mereka yang memiliki kadar gula darah yang tinggi.

Penggunaan steroid sebagai pengobatan pada pasien maupun penyintas Covid-19 tentunya dapat menekan respons kekebalan dan meningkatkan kadar gula darah, sehingga rawan terinfeksi jamur ini.

"Dan faktor kedua, selain kesehatan lingkungan yang buruk, ada faktor dari manusianya itu sendiri. Yang pertama memang menurun imunitasnya, bisa karena penyakit atau karena pengaruh obat atau steroid ya," papar Dicky.

Dicky menyebut pasien diabetes dan penderita Covid-19 menjadi sasaran utama penyakit ini, karena daya tahan tubuh mereka yang lemah.

"Penyakit ini bisa (menyerang penderita) diabetes, terutama kalau bicara Covid-19, karena Covid-19 ini kan menurunkan daya tahan tubuh orang sehingga tentu akan menurunkan imunitas," tutur Dicky.

Begitu pula penderita HIV/Aids dan para pasien kanker.

"Termasuk ya pada orang-orang seperti penderita HIV/Aids atau yang mendapat kemoterapi kanker juga menurun (kekebalan tubuhnya)," kata Dicky.

Tidak hanya itu, mereka yang memiliki kondisi kelainan imunitas bawaan (immunocompromised) atau autoimun pun turut berisiko terserang Mucormycosis.

"Seperti penyakit autoimun juga menurun imunitasnya dan mereka rawan terhadap infeksi jamur hitam seperti ini," jelas Dicky.

Ia pun kembali menekankan bahwa mereka yang memiliki penyakit yang terkait dengan gangguan kekebalan tubuh harus mewaspadai Mucormycosis.

Terutama pasien Covid-19 yang tentunya tengah mengalami gangguan kekebalan tubuh dan menggunakan steroid sebagai pengobatan.

"Nah tentu untuk Indonesia ya ini harus diwaspadai karena bisa juga dialami Indonesia karena kita kan sama-sama mengalami pandemi Covid-19," pungkas Dicky.

Perlu diketahui, India saat ini tidak hanya menghadapi lonjakan kasus virus corona (Covid-19) saja, namun juga Mucormycosis.

Mucormycosis biasanya dialami oleh mereka yang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh dan kadar gula darah tinggi.

Lalu apa itu Mucormycosis atau biasa disebut infeksi jamur hitam?

Mucormycosis adalah infeksi jamur yang menyebabkan hidung menghitam atau berubah warna, penglihatan kabur, nyeri dada, kesulitan bernafas hingga batuk darah.

Penyakit ini disebabkan oleh paparan jamur Mucormycetes yang umumnya ditemukan di tanah, udara, bahkan di hidung dan lendir manusia.

Infeksi jamur ini menyebar melalui saluran pernafasan dan mengikis struktur wajah.

Terkadang, dokter harus mengangkat mata yang terinfeksi melalui tindakan pembedahan untuk menghentikan infeksi ini agar tidak mencapai otak.

Penyakit ini memiliki kaitan erat dengan diabetes dan kondisi yang terkait dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.

Para ahli mengatakan bahwa penggunaan obat secara berlebihan yang menekan sistem kekebalan tubuh selama pandemi virus corona (Covid-19) dapat menyebabkan lonjakan kasus infeksi tersebut.

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa Mucormycosis memiliki angka kematian sebesar 54 persen, tergantung pada kondisi pasien dan bagian tubuh mana yang terkena.

Pada hari Sabtu lalu, Menteri Bahan Kimia dan Pupuk Federal India, Sadananda Gowda mengatakan bahwa hampir 9.000 kasus ini telah dilaporkan terjadi di India dalam beberapa pekan terakhir.

Sebagian besar ditemukan pada orang yang terinfeksi Covid-19 atau sedang dalam masa pemulihan dari penyakit tersebut.

Padahal sebelum muncul pandemi Covid-19, negara itu mencatat kurang dari 20 kasus ini dalam setahun.

Mucormycosis pun telah menyebabkan banyak rumah sakit di India kekurangan Amphotericin B, obat yang biasa digunakan untuk mengobati pasien dengan kondisi tersebut.

Gowda memang tidak menyebutkan jumlah kematian akibat kasus infeksi ini, namun media lokal menyebut ada lebih dari 250 orang meninggal karena Mucormycosis.

Lalu apakah penyakit ini bisa menular?

Mucormycosis tergolong sebagai penyakit yang tidak menular, artinya tidak dapat menyebar melalui kontak antara manusia maupun hewan.

Kendati demikian, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebar dari spora jamur yang ada di udara atau di lingkungan sekitar, yang hampir tidak mungkin dihindari oleh manusia.

Seperti yang disampaikan Kepala Rumah Sakit Khusus Mata Narayana Nethralaya, K Bhujang Shetty.

"Bakteri dan jamur sebenarnya sudah ada dalam tubuh kita, tetapi mereka terus diperiksa oleh sistem kekebalan tubuh. Ketika sistem kekebalan turun karena pengobatan kanker, diabetes atau penggunaan steroid, maka organisme ini berpeluang untuk berkembang biak," kata Shetty.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Epidemiolog Sebut Infeksi Jamur Hitam Berpotensi Terjadi di Indonesia, Ini Alasannya, 

Editor: Naufal Hanif Putra Aji
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved