Breaking News:

Berita Boyolali Terbaru

Masalah Air Irigasi Sawah Pertanian di Sambi Terpecahkan, 20 Titik Sumur Dalam Terbangun  

Produktifitas padi di Desa Jagoan, Kecamatan Sambi dipastikan bakal meningkat tajam.Itu setelah masalah air di area sawah tadah hujan di Desa selesai.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Tri Widodo
Air sumur dalam untuk sawah tadah hujan di Desa Jagoan, Kecamatan Sambi mengalir deras. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI- Produktifitas padi di Desa Jagoan, Kecamatan Sambi dipastikan bakal meningkat tajam.

Itu setelah masalah air di area sawah tadah hujan di Desa itu selesai.

Pemerintah Desa (Pemdes) setempat  membuat puluhan sumur dalam di area persawahan tadah hujan tersebut.

Baca juga: Kunjungi Boyolali, Mentan Genjot Lahan Pertanian di Dekat Rumah Jokowi Melalui Integrasi Pertanian

Baca juga: Harga Cabai Rawit Merah Meroket di Solo Raya, Menteri Pertanian : Masih Wajar

Ada 20 titik sumur dalam yang telah selesai dibuat dan telah tersambung dengan jaringan listrik.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali, Bambang Jiyanto mengatakan pembuatan sumur dalam ini menjadi solusi bagi petani dalam usaha pertanian.

Dimana, sawah tadah hujan yang hanya bisa panen satu kali dalam setahun,  dengan sumur dalam ini petani bisa panen 2,5 bahkan 3 kali dalam setahun.

Baca juga: Pemasok Daging Babi Mirip Daging Sapi di Bandung Berasal dari Solo, Dinas Pertanian : Solonya Mana?

"Sawah tadah hujan yang tidak terairi irigasi teknis. Yang tadinya, sulit air begitu ada sumur dalam ini bisa teratasi," jelas Bambang Jiyanto, Kamis (23/9/2021).

Padahal, lanjut Bambang sebagian besar sawah di wilayah kecamatan Sambi merupakan sawah tadah hujan.

Hanya 764 hektar sawah saja yang terairi dari saluran irigasi teknis.

Baca juga: Idul Adha Ditengah Pandemi, Hewan Kurban Bakal Uji Swab? Ini Penjelasan Dinas Pertanian Kota Solo

Meski begitu, kontribusi pangan dari Kecamatan Sambi ini sangat besar.

Nomor 4 se-Boyolali dengan lebih dari 23 ton gabah kering setiap tahunnya.

"Inovasi ini untuk mengatasi masalah irigasi sawah tadah hujan ini patut dicontoh oleh desa-desa lain," ujarnya.

Diapun mengapresiasi Pemdes Jagoan yang telah menganggarkan dari APBDes ini untuk meninggalkan produktifas pertanian.

"Ini inovasi yang sangat bagus," ujarnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved