Breaking News:

Berita Solo Terbaru

Kisah Emak di Solo Bangkit dari Pendemi : Bangkrut, Kini Jual Telur Gulung, Sehari Raup Ratusan Ribu

Ada cerita menyentuh hati datang dari warga Kecamatan Laweyan, Kota Solo yang terdampak pandemi hampir dua tahun ini.

TribunSolo.com/Fristin Intan
Erya Dewi Prasetyowati (49) tetap semangat melanjutkan hidupnya berjualan telur gulung di kawasan Stadion Manahan, Jumat (8/10/2021). 

"Kalau nanti mengembalikan botol jadi bisa diskon Rp 20 ribu, jadi lebih murah dan ramah lingkungan," ujarnya.

Baca juga: Lowongan Kerja Solo: Kopi Janji Jiwa Manahan Membutuhkan Barista, Cek Persyaratannya

Dari strategi marketing ini, menggunakan online dan ramah lingkungan selama pandemi Covid-19.

Sony mengaku bisa membuka cabang di Kota Solo hingga di Jogjakarta.

"Sekarang ada 6 cabang, ada di Solo, Jogja, Parangtritis, Klaten," aku dia.

Targetnya selama akhir tahun ini, Kedai Kopi Cold N Brew bakal membuka 6 cabang lagi.

Tak hanya penjual saja, segi promo dalam transaksi pembayaran juga mempengaruhi peningkatan penjualannya.

"Sejak awal buka tahum 2016, kami sudah menggunakan uang digital karena 30 persen pembeli kami juga menggunakan itu," ujarnya.

Sukses Tanam Porang

Ada kisah sukses pria yang menekuni jadi petani porang ternyata berhasil meraup uang jutaan rupiah.

Dia adalah Sriyanto (30) warga Dukuh Kragilan, Desa Karangnongko, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.

Porang adalah tanaman penghasil umbi yang dapat dimakan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, dan serat pangan, serta untuk obat-obatan.

Banyak di antaranya di ekspor ke luar negeri.

Tanpa perencanaan dan harapan yang muluk-muluk, dia mencoba menanam tanaman porang di lahan yang ada di sekitar rumahnya yang masih luas.

Tidak disangka, tanaman yang iseng-iseng dia tanam sejak 1,5 tahun itu akhirnya membuahkan hasil.

Sriyanto (30) sumringah menunjukkan porang bernilai tinggi hasil tanamannya di Dukuh Kragilan, Desa Karangnongko, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Selasa (3/8/2021).
Sriyanto (30) sumringah menunjukkan porang bernilai tinggi hasil tanamannya di Dukuh Kragilan, Desa Karangnongko, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Selasa (3/8/2021). (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Baca juga: Fantastis! Modal Rp 100 Juta, Petani Karanganyar Tanam Porang Jual ke China Dapat Hasil Rp 400 Juta

Baca juga: Paidi, Mantan Pemulung Sukses Bertani Porang: Omzet Miliaran dan Cita-cita Umrohkan Warga Desanya

“Ya ini hasilnya kurang maksimal. Karena perawatannya juga tidak maksimal juga masih asal-asalan,” ujarnya kepada TribunSolo.com, Selasa (03/08/2021).

Meski begitu, dari memanfaatkan lahan di sekitar rumahnya ini, saat ini dia berhasil memanen paling tidak 1 ton umbi porang.

Tak tanggung-tanggung berkat kesingennya ternyata membuahkan hasil, karena mendapatkan uang jutaan rupiah dalam sekejap.

Pada panen pertama dia mendapatkan uang Rp 7 juta.

“Tanam kedua nanti, pengolahannya akan saya maksimalkan lagi, supaya bisa panen lebih bagus,” ujarnya.

Budidaya porang ini awalnya hanya agar halaman depan dan belakang rumah orang tuanya yang masih luas bisa bermanfaat.

Diapun kemudian berfikir untuk mencari tanaman yang pas dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Ketemulah tanaman porang ini. dari pada tanah nganggur tidak dimanfaatkan, saya tanami porang saja,” katanya.

Baca juga: Tanaman Dihargai Rp 5 Ribu & Tanah Rp 200 Ribu,Warga Klaten Aksi di BPN : Tolong Hargai Rakyat Kecil

Dia membiarkan begitu saja bibit porang yang telah ditanam itu tumbuh.

Tanpa banyak melakukan perawatan maupun pemupukan tanaman porangnya bisa tumbuh dengan bagus.

Melihat tanaman porang tersebut tumbuh subur, dia berencana menanam lagi dan memperluas lahan untuk menambah jumlah tanaman porang.

Terlebih umbi porang ini juga punya nilai jual yang tinggi dibanding tanaman umbi lainnya.

Saat ini Umbi porangnya dijual ke pengepul dengan harga Rp 7.000 per kilogram.

“Hasilnya lumayan juga. Tapi harganya ini turun, sebelumnya umbi porang bisa tembus sembilan ribu per kilonya,” ujarnya.

Untuk itu, meski sudah waktunya panen dibiarkan saja, hingga tanaman porang mengeluakan katak (Bunga porang).

Baca juga: Tanah di Solo Sempit, Gibran Preteli Water Barrier Koridor Jensud, Ganti dengan Tanaman Biar Hijau

“Supaya saat tanam kedua nanti tidak usah beli bibit lagi, yang harganya jauh lebih mahal,” ujarnya.

Bajuri, Ayah Sriyanto menilai tanaman porang ini memiliki prospek yang bagus.

Dibandingkan tanaman lain, seperti singkong dengan perawatan yang sama, tapi nilai jualnya lebih tinggi porang.

“Makanya kami akan perluas lagi. Saat ini sudah ada 3 tempat yang akan kami sewa untuk saya tanami porang," terangnya.

"Sebab setelah ditanam ditinggal begitu saja sudah panen sendiri,” jelas dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved