Breaking News:

Warga Sumbar Resah Ada Kepercayaan Pelindung Kehidupan: Jemaah Bayar Rp 5 Juta, Boleh Shalat Sekali

Untuk masuk ke dalam aliran tersebut harus membayar uang Rp 2 juta hingga Rp 5 juta. Mereka menyebut uang itu sebagai penebus hak.

Editor: Hanang Yuwono
Kompas.com
Ilustrasi 

TRIBUNSOLO.COM -- Kini kembal muncul aliran kepercayaan baru yang jauh dari syariat Islam.

Aliran kepercayaan itu belakangan muncul di Solok Selatan, Sumatera Barat.

Namanya adalah Pelindung Kehidupan.

Sejumlah warga pun dibuat resah dengan Pelindung Kehidupan, pasalnya pimpinan aliran ini membolehkan pengikutnya shalat sekali seumur hidup.

Tak cukup sampai di situ, untuk bisa jadi pengikut Pelindung Kehidupan, harus membayar uang penebusan hak hingga Rp 5 juta.

Baca juga: Kisah 3 Peziarah Tersesat Usai Ritual di Sendang Gunung Ungaran : 2 Hari Hilang, Kondisinya Linglung

Baca juga: Geger Cahaya dari Langit di Merapi, Pertanda Apa Bagi Kepercayaan Jawa Kuno, Ini Kata Pakar Budaya

Wakil Ketua Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Solok Selatan, M Fajrin menjelaskan, aliran ini terdeteksi pada Juni 2021. 

Aliran kepercayaan ini berkembang di Jorong Simancuang, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan.

Saat didatangi, mereka sudah tidak ada di lokasi.

Dari hasil keterangan warga setempat, kata Fajrin, aktivitas pengikut aliran Pelindung Kehidupan itu sudah meresahkan.

"Mereka beraktivitas usai salat Isya dan meresahkan warga karena ajarannya dinilai sangat menyimpang," kata Fajrin, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (13/10/2021).

Bayar Rp 5 juta

Untuk masuk ke dalam aliran tersebut harus membayar uang Rp 2 juta hingga Rp 5 juta. Mereka menyebut uang itu sebagai "penebus hak".

"Dari keterangan warga, jika sudah membayar Rp 2 juta hingga Rp 5 juta maka pengikutnya sudah bersih dari penyakit dan dosa," kata Fajrin, dikutip TribunSolo.com dari artikel Kompas.com berjudul Muncul Kepercayaan Pelindung Kehidupan di Sumbar, Jadi Pengikut Bayar Rp 5 Juta, Shalat Sekali Seumur Hidup.

Hanya saja, Pakem masih belum mendapatkan keterangan langsung dari penganut atau pemimpin kepercayaan tersebut karena mereka sudah berpindah tempat.

Pakem masih melakukan pengawasan jika sewaktu-waktu muncul kembali aliran tersebut. (*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved