Breaking News:

Viral

Kabar Harta Karun Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi Kembali Mencuat, Sempat Hebohkan Media Dunia

Kabar adanya harta karun Kerajaan Sriwijaya kembali mencuat di tengah masyarakat.

Capture youtube via Sripoku
Aktivitas warga diduga mencari harta karun di Sungai Musi samping bawah Jembatan Ampera Palembang, Senin (25/10/2021). 

TRIBUNSOLO.COM - Kabar adanya harta karun Kerajaan Sriwijaya kembali mencuat di tengah masyarakat.

Hal ini terkait adanya beberapa temuan patung budha dan perhiasan emas permata.

Baca juga: Misteri Patung Semar Raksasa di Karangpandan : Hanya untuk Keindahan, Tapi Ada yang Datang Ritual

Usut punya usut harta-harta karun ini dijual oleh penyelam dengan harga tak seberapa.

Oleh karenanya barang bernilai sejarah ini hilang di pasar barang antik.

Dilansir dari Sripoku, Kabid Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Kebudayan Palembang, Rudi Indawan, menanggapi kembali berembusnya isu harta karun Kerajaan Sriwijaya yang tenggelam di dasar Sungai Musi.

Rudi Indawan mengatakan Pemkot Palembang sebenarnya sudah menyikapinya dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) No 11 Tahun 2020 tentang Pelestarian dan Pengelolan Cagar Budaya sebagai upaya melindungi cagar budaya yang ada.

"Jadi di dalam Perda itu tidak boleh dilakukan sembarangan. Sebaiknya jika ada yang menemukan barang peninggalan sejarah untuk melaporkan ke kami," kata Rudi.

Rudi menjelaskan dalam waktu dekat akan ada Perwali yang mengatur lebih jauh.

Dijelaskan Rudi saat ini pihaknya terus mensosialisasi bersama pihak-pihak terkait akan Perda yang ada bersama badan Aerkeolog Jambi, balai dan pihak terkait lainnya.

"Kalau kita lihat di pemberitaan itu terkesan kejadian sekarang. Padahal itu sama yang sebelum- sebelumnya," ujar Rudi.

"Tapi nanti dalam waktu dekat kita akan mengerosceknya dan Dinas kebudayaan Palembang sekarang lagi berkoordinasi dengan tim ahli cagar budaya Palembang untuk pelestarian kekayaan bawah air di Sungai Musi sebagai cagar budaya, dimana pada 17 November nanti tim ahli cagar budaya melakukan sidang," ungkap Rudi.

Baca juga: Aditya Trihatmanto dan Kezia Toemion Bahagia Punya Anak Perempuan, Rayakan Ultah Pertama Sang Putri

Ditambahkan Rudi, adanya masyarakat yang melakukan pencarian barang-barang peninggalan sejarah itu, terkait dengan penghidupan karena mata pencarian mayarakat.

"Jadi, kalau soal peninggalan kerajaan Sriwijaya kita belum tahu dan kita akan berkoordinasi. Kalau benar sesuai Perda itu harus diserahkan nanti regulasinya akan diatur dengan kompensasi," tandasnya.

Dilanjutkan Rudi, untuk di Museum SMB 2 Palembang sendiri, belum ada koleksi-koleksi perhiasan dari peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya.

"Di Museum SMB 2 mayoritas peninggalan Kesultanan Darussalam. Tidak ada yang mencolok peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Paling hanya piring, mangkok, atau guci berbahan keramik hingga igot (alat tukar) dan uang logam berbahan temabaga," tuturnya.

Baca juga: Lokasi Jatuhnya Avanza di Gondang Sragen Terbilang Angker: Ada Sosok Ghaib Ular Berkepala Manusia

Pihaknya mengimbau kemasyarakat luas, jika memang mengetahui atau memiliki barang berharga peninggalan sejarah bisa menyampaikan ke pihaknya yang nantinya akan disimpan di Museum SMB 2 Palembang.

"Kami imbau, kalau menemukan barang kerjaan atau bersejarah lainnya diharapkan dengan sukarela diserahkan agar didata dan disimpan untuk melengkapi koleksi di Museum kita," ujarnya.

Sempat jadi sorotan media dunia

Harta karun senilai jutaan dolar AS yang telah ditemukan lima tahun terakhir di Sungai Musi bisa jadi adalah situs Sriwijaya dan dongeng pulau emas dari awal abad pertengahan.

Tempat itu adalah kerajaan yang sangat terkenal di zaman kuno sebagai Pulau Emas, atau Swarnadwipa, sebuah peradaban dengan kekayaan tak terbayangkan yang selalu dicoba untuk ditemukan oleh para penjelajah dunia setelah kerajaan itu menghilang dari sejarah sekitar awal abad ke-14. Namun seluruh pencarian berujung sia-sia dan tidak dapat dijelaskan.

Situs Sriwijaya mungkin akhirnya ditemukan oleh kru nelayan lokal yang melakukan penyelaman malam hari di Sungai Musi dekat Palembang di pulau Sumatera, Indonesia.

Patung Buddha yang terbuat dari perunggu dan emas bertatahkan ratusan batu mulia yang ditemukan di dasar Sungai Musi. (Sumber: Wreckwatch Magazine)

Hasil penyelaman mereka yang luar biasa adalah harta karun mulai dari patung Buddha abad ke-8 yang seukuran aslinya dan bertatahkan berbagai batu permata berharga yang ditaksir bernilai jutaan poundsterling, hingga temuan emas permata yang hanya layak untuk seorang raja diraja.

Dr Sean Kingsley, seorang arkeolog maritim Inggris, seperti dilansir Guardian, Jumat (22/10/2021), mengatakan, “Dalam lima tahun terakhir, hal-hal luar biasa muncul. Koin dari semua periode, patung emas Buddha, permata, batu mulia, dan segala macam hal yang mungkin hanya bisa Anda bayangkan di dongeng seperti kisah pelaut Sinbad, yang Anda selama ini kira kisah semacam itu khayalan belaka. Itu benar-benar nyata.”

Kingsley menggambarkan harta karun itu sebagai bukti definitif bahwa Sriwijaya adalah “dunia air”, orang-orangnya tinggal di sungai seperti manusia perahu modern, seperti yang dicatat oleh teks-teks kuno, “Ketika peradaban berakhir, rumah-rumah kayu, istana, dan kuil-kuil mereka semua tenggelam bersama semua barang-barang dan harta mereka.”

Kingsley menjabarkan, “Melayang dalam air di atas buaya yang berseliweran, para nelayan lokal, manusia laut modern Sumatera, akhirnya menguak rahasia Sriwijaya."

Temuan cincin emas kuno, giwang, manik-manik terbuat dari batu mulia, dan berbagai perhiasan emas kuno berharga ditemukan di dasar Sungai Musi, diduga peninggalan sepenggal masa dari kerajaan Sriwijaya (Sumber: Guardian/Wreckwatch Magazine)

Baca juga: Lokasi Jatuhnya Avanza di Gondang Sragen Terbilang Angker: Ada Sosok Ghaib Ular Berkepala Manusia

Hasil penelitian itu akan diterbitkan dalam edisi terbaru majalah Wreckwatch, yang diedit oleh Kingsley.

Studi Sriwijaya merupakan bagian dari publikasi musim gugur setebal 180 halaman yang berfokus pada Tiongkok dan Jalur Sutra Maritim.

Kingsley mencatat, pada puncaknya, Sriwijaya menguasai arteri Jalan Sutra Maritim, pasar kolosal di mana barang-barang lokal, Cina dan Arab diperdagangkan, “Sementara dunia Mediterania barat memasuki zaman kegelapan di abad kedelapan, salah satu kerajaan terbesar di dunia muncul di peta Asia Tenggara," yaitu Sriwijaya yang terkenal seantero bumi berada di pulau Emas, atau Swarnadwipa.

Selama lebih dari 300 tahun penguasa Sriwijaya menguasai jalur perdagangan antara Timur Tengah dan kekaisaran Cina.

"Sriwijaya menjadi persimpangan internasional untuk produk terbaik zaman itu. Penguasanya mengumpulkan kekayaan legendaris," tutur Kingsley.

Dia menulis, “Dari perairan dangkal muncul emas dan permata berkilauan yang hanya klop dengan kerajaan terkaya ini, mulai dari alat perdagangan dan senjata perang hingga peninggalan agama."

Penyelam lokal di sungai Musi hanya mengenakan saluran oksigen dan pemberat rantai untuk menjelajah dasar sungai Musi dan mencari harta karun pulau emas dari masa awal kerajaan Sriwijaya (Sumber: Guardian/Wreckwatch Magazine)

Dari kuil-kuil dan tempat-tempat pemujaan yang hilang, muncul patung-patung Buddha perunggu dan emas, pengetuk pintu kuil perunggu berhias wajah Kala, sang Iblis dalam dunia kuno, atau dalam legenda Hindu adalah kepala Rahu yang mengaduk-aduk lautan untuk membuat ramuan keabadian.

Ditemukan juga lonceng biarawan perunggu dan cincin upacara emas bertatahkan batu rubi dan dihiasi dengan tongkat vajra emas bercabang empat, simbol Hindu untuk petir, senjata pilihan para dewa.

“Pedang dengan gagang terbuat dari emas yang indah akan menghiasi hari-hari kerajaan, sementara cermin perunggu dan ratusan cincin emas, banyak yang dicap dengan huruf, angka dan simbol yang penuh teka-teki, anting-anting dan manik-manik kalung emas membangkitkan kemegahan aristokrasi pedagang yang melakukan transaksi sehari-harinya di masa itu, mengesahkan manifes ekspor-impor di kompleks istana.”

Sebuah gelang terbuat dari emas kuno yang ditemukan di dasar sungai Musi, peninggalan Sriwijaya (Sumber: Wreckwatch Magazine)

Sebab persis kenapa kerajaan Sriwijaya runtuh hingga saat ini belum diketahui. Kingsley berspekulasi bahwa itu mungkin jawaban Asia untuk Pompeii, yang menjadi korban letusan gunung berapi di Indonesia. "Atau apakah sungai yang berlumpur dan sulit diatur itu menelan seluruh kerajaan?"

Tanpa penggalian resmi, berbagai bukti arkeologis dan bukti sejarah yang dapat menjawab pertanyaan seperti itu akan hilang ditelan masa dan makin tenggelam ditelan lumpur sungai Musi.

Harta karun yang sekarang diambil oleh para nelayan dijual sebelum para arkeolog dapat mempelajarinya dengan benar dan berakhir di tangan pedagang barang antik.

Sementara para nelayan yang menggunakan peralatan selam dan ember berbahaya hanya menerima sangat sedikit dibanding nilai sebenarnya dari berbagai harta karun arkeologi dan peradaban itu.

"Semua itu hilang dari dunia," Kingsley memperingatkan.

“Paket besar, termasuk patung Buddha berukuran besar yang menakjubkan yang dihiasi dengan berbagai batu permata berharga, hilang di tengah gelap dan hiruk-pikuknya pasar barang antik dunia. Kisah naik turunnya kerajaan Sriwijaya dan dongeng pulau emas sudah kembali mati sebelum bisa dikisahkan kepada dunia.”

(Sripoku)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved