Berita Sragen Terbaru

Perjuangan Indah di Sragen, Ubah Jamur Jadi Cemilan Lezat, Tak Disangka Bisa Rambah Pasar Belanda

Di Kabupaten Sragen, ada Indah Susilowati terbilang sukses mengembangkan usaha UMKM yang dijalaninya.

TribunSolo.com/Septiana Ayu
Indah Susilowati, owner Jamur Crispy Puriayu, kini produknya telah merambah pasar Belanda. 

Namun, mirisnya selama pandemi ini, beberapa pelaku UMKM di Kabupaten Sragen malah gulung tikar.

Hal itu diungkap Ketua Night Market Sukowati (Nimas), Alvian Prihantono.

"Tiga bulan Nimas ditutup ada beberapa pelaku UMKM yang bangkrut, ada sekitar 5-10 pelaku UMKM," ujarnya kepada TribunSolo.com, Jumat (5/11/2021).

Baca juga: Ditertibkan Satpol PP, Sejumlah PKL di Alun-alun Karanganyar Pasrah, Langsung Tutup Lapak dan Pulang

Baca juga: Bikin Sedih, 10 Juta Keluarga di Indonesia Terpuruk Masuk Kategori Miskin, Tercekik Jeratan Pandemi

Nimas merupakan program dari Pemerintah Kabupaten Sragen yang mewadahi pelaku UMKM di Sragen, yang terdiri dari 100 orang.

Tidak hanya makanan, produk UMKM lainnya berupa baju hingga kerajinan tangan dipamerkan di acara yang dikemas setiap Sabtu malam tersebut.

Penyebab banyaknya pelaku UMKM yang gulung tikar karena kondisi jualan yang lesu.

"Karena memang selama pandemi ini jualan juga lesu," kata dia.

Selama Nimas ditutup, pelaku UMKM di Sragen kelimpungan untuk memasarkan produknya.

Mereka terpaksa mencari tempat sendiri untuk berjualan, yang berdampak langsung ke penjualan.

"Otomatis penjualan menurun, karena di Nimas tempatnya sangat strategis, jadi Nimas sangat berpengaruh ke penghasilan kita," terangnya.

Bahkan, kini puluhan pelaku UMKM di Sragen masih menanggung tanggungan membayar angsuran tenda untuk berjualan di Nimas.

"Masih mengangsur pinjaman di bank untuk tenda itu, Rp 3 juta pertahun, sebulan Rp 300 ribu," ungkapnya.

Dengan begitu, tak ada modal dan pemasukan, yang membuat pelaku UMKM terpaksa gulung tikar.

Pendapatan Anjlok

Semenjak diberlakukan pengetatan PPKM, Night Market Sukowati (Nimas) terpaksa ditutup.

Sudah 3 bulan pelaku UMKM kehilangan lapaknya untuk berjualan. 

Salah satu pelaku UMKM, Alvian Prihantoro mengatakan, dampaknya dari penutupan Night Market, ia kehilangan pendapatan hingga 80 persen.

Baca juga: Sragen Belum Bisa Terapkan PPKM Level 1, Bupati Yuni Ungkap Alasannya

Baca juga: Aturan PPKM Sudah Dilonggarkan, Sentra Kuliner Veteran Brigjen Katamso Sragen Masih Sepi

"Pendapatan turun lebih dari 50 persen, jika biasanya dapat Rp 10 juta perbulan, selama PPKM ini bahkan menyentuh Rp 2 juta," katanya kepada TribunSolo.com, Jumat (5/11/2021). 

Sehari-hari Alvian berjualan susu segar, yang dijualnya melalui toko offline maupun secara online.

Melalui Night Market, Alvian mengaku sangat mendongkrak penjualan.

Baca juga: Satgas Covid-19 Beberkan Alasan PPKM Level 3 di Jakarta Lebih Lama Ketimbang Daerah Lain

Lantaran, selain tempatnya yang strategis juga menjadi ajang promosi, karena Night Market selalu dibanjiri pengunjung.

"Karena di Nimas bisa promosi, serta berjualan di tempat yang strategis, sehingga sangat berpengaruh sekali dalam segi penjualan," terangnya. 

Ia berharap, Nimas dapat segera dibuka oleh Pemkab Sragen, agar perekonomian dapat kembali berjalan.

"Harapannya bisa segera dibuka, namun kita juga mengikuti anjuran pemerintah," pungkasnya. (*) 

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved