Berita Sragen Terbaru

Anak Buruh Tani Asal Sragen Kuliah Magister di Swedia: Dulu Sempat Tak Mampu Tebus Ijazah SMA

Putra asli daerah Kabupaten Sragen kembali mengharumkan nama bangsa. Ya, sosok Fajar Sidik Abdullah Kelana (27) tengah jadi sorotan atas prestasinya.

Instagram @fajarsak
Fajar Sidik Abdullah Kelana (27) seorang pria asal Sragen yang kini mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Putra asli daerah Kabupaten Sragen kembali mengharumkan nama bangsa.

Ya, sosok Fajar Sidik Abdullah Kelana (27) tengah jadi sorotan atas prestasinya, yang tidak hanya membanggakan Kabupaten Sragen, tapi juga Indonesia.

Ia adalah pemenang Mata Garuda Prize 2021 in Sciences and Technology dari LPDP Kemenkeu RI.

Baca juga: Sosok Arief Rahmawan, Guru SMAN 1 Gemolong: Borong Penghargaan di Bidang Bahasa Indonesia

Baca juga: Sosok Istri Habib Bahar yang Jarang Terekspos, Setia Dampingi Suami Kala Tersandung Kasus Hukum

Saat ini, Fajar begitu panggilan akrabnya tengah menempuh pendidikan S2 di jurusan Innovation Management and Product Development di KTH Royal Institute of Technology Swedia.

Torehan prestasinya yang gemilang itu, ternyata harus dilaluinya dengan jalan yang cukup terjal.

Sejak kecil, Fajar lahir dan tumbuh di keluarga kurang mampu di sudut Kabupaten Sragen, tepatnya di Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang.

Ia tinggal bersama ibu dan kakak laki-lakinya di rumah sangat sederhana milik kakeknya di tengah pedesaan.

Sejak berumur tiga hari, Fajar sudah ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang ayah, karena mengalami kecelakaan di jalan.

Baca juga: Fakta Baru soal Sosok Herry Wirawan, Ketua RT Sebut Dulu Pelaku Orang Susah, Mendadak Punya Mobil

Dihubungi TribunSolo.com melalui sambungan telepon, Fajar mengatakan ia dibesarkan oleh seorang ibu yang bekerja sebagai buruh tani.

"Kalau ibu buruh tani, tidak punya sawah sendiri, kalau di desa ada sistem borongan, nah dari situ dapat upah, misal setelah bantu panen," ujar Fajar kepada TribunSolo.com, Jumat (7/1/2022).

Fajar yang saat ini tinggal di Swedia sejak tahun 2019, jadi teringat masa kecilnya yang sering diajak oleh sang ibu ke sawah.

Ia suka mencari ikan dan kepiting kecil di sungai yang ada di sawah, bak anak-anak petualang, begitu kata Fajar.

Kemudian, karena krisis ekonomi, pada 1998 ketika Fajar masih berusia 3 tahun, ia diajak oleh sang ibu merantau ke Jakarta.

Baca juga: Ini Cerita Bowo, Sosok Pria yang Sukarela Urai Kemacetan Saat Tawangmangu Diserbu Ribuan Wisatawan

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved