Berita Sragen Terbaru

Bahagianya Suminah, Buruh Tani Asal Sragen yang Anaknya Kuliah S2 di Swedia: Sering Menangis Bangga

Suminah (56) menjadi seorang ibu yang paling bahagia saat ini. Sebab anaknya bisa menempuh pendidikan di luar negeri.

Instagram @fajarsak
Fajar Sidik Abdullah Kelana (27) seorang pria asal Sragen yang kini mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Suminah (56) menjadi seorang ibu yang paling bahagia saat ini.

Betapa tidak, anaknya, Fajar Sidik Abdullah Kelana (27) kini bisa menempuh pendidikan magister di jurusan Innovation Management and Product Development di KTH Royal Institute of Technology Swedia.

Fajar bisa kuliah keluar negeri, bukan berasal dari keluarga kaya, melainkan lahir dari seorang ibu yang merupakan buruh tani.

Baca juga: Cerita Anak Buruh Tani Sragen Bisa Kuliah S2 di Swedia: Ayah Sudah Meninggal, Hidup Berpindah-pindah

Baca juga: Anak Buruh Tani Asal Sragen Kuliah Magister di Swedia: Dulu Sempat Tak Mampu Tebus Ijazah SMA

Sejak kecil, Suminah dan keluarganya tinggal di rumah sangat sederhana, di Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen

Suminah harus berjuang seorang diri, atau sebagai orang tua tunggal, karena sang suami meninggal dunia karena kecelakaan, saat itu Fajar baru berusia tiga hari. 

Dihubungi TribunSolo.com melalui sambungan telepon, untuk menghidupi kedua anaknya, ia bekerja sebagai buruh tani saat masih di Sragen

"Memang orang tidak punya, dulu buruh, saat ini di Jakarta juga jadi buruh, bukan dari keluarga kaya, rumahnya saja gubuk derita di kampung," kata Suminah kepada TribunSolo.com, Jumat (7/1/2022). 

Kemudian, sejak tahun 1998, ia mengajak kedua putranya merantau ke Jakarta karena krisis moneter.

Baca juga: Penggunaan Kartu Tani di Sragen Rendah, Hanya 8 Persen dari Total 108.519 Pengguna Kartu Tani

Kehidupan di Jakarta pun sebenarnya tak jauh berbeda, Suminah harus kerja serabutan demi anak-anaknya.

"Saat lulus SD, Fajar ingin ke SMPN 61, katanya favorit, dia minta restu kepada saya, dan saya amini, dengan pedenya Fajar mendaftar, dan diterima peringkat satu," ucapnya. 

"Dulu sekolah di Jakarta masih bayar, masuk ke SMPN 61 bayar uang gedung Rp 10 juta, sedangkan perbulannya Rp 500 ribu, wah waktu itu pokoknya jungkir balik lah saya," tambahnya. 

Namun, melihat semangat dan kemampuan Fajar yang memang sudah terlihat sejak masih SD, Suminah pun terus berusaha mengupayakan pundi-pundi rupiah.

"Saat SMA, Fajar menulis di dinding, mau ke ITB, karena nilainya kurang sedikit, akhirnya ke UGM dan alhamdulillah diterima," jelasnya. 

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved