Berita Sragen Terbaru

Rumah Kayu Beralaskan Tanah, Awal Perjuangan Anak Buruh Tani Sragen Bisa Kuliah S2 di Swedia

Kesuksesan Fajar Sidik Abdullah Kelana (27) menempuh pendidikan Magister di Swedia ternyata penuh dengan lika-liku.

TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari
Kondisi rumah Fajar, anak buruh tani yang kuliah di Swedia, di Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang, Sragen. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Kesuksesan Fajar Sidik Abdullah Kelana (27) menempuh pendidikan Magister di Swedia ternyata penuh dengan lika-liku.

Ia berasal dari keluarga kurang mampu di sudut Kabupaten Sragen

Dulu ia tinggal di rumah sangat sederhana di Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen.

Fajar Sidik Abdullah Kelana (27) seorang pria asal Sragen yang kini mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Fajar Sidik Abdullah Kelana (27) seorang pria asal Sragen yang kini mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. (Instagram @fajarsak)

Baca juga: Bahagianya Suminah, Buruh Tani Asal Sragen yang Anaknya Kuliah S2 di Swedia: Sering Menangis Bangga

Baca juga: Anak Buruh Tani Asal Sragen Kuliah Magister di Swedia: Dulu Sempat Tak Mampu Tebus Ijazah SMA

Ya, di rumah tua yang terbuat dari kayu tersebut, tempat Fajar dilahirkan dan tumbuh besar.

Bahkan, lantainya masih berupa tanah dengan isi perabotan rumahnya sangat sederhana.

Rumah itu kini ditinggali oleh neneknya yang sudah sepuh, dan disampingnya merupakan rumah keluarga pakliknya. 

Rumah sederhana yang berada di tengah pedesaan itu, menjadi awal perjalanan Fajar meraih mimpi-mimpinya.

Ibu Fajar, Suminah mengatakan keadaan rumahnya memang seperti itu sejak dulu.

Baca juga: Viral Seorang Ayah Jadi Driver Online Demi Anak Bisa Kuliah, Isi Chat Sang Anak Malah Bikin Haru

"Keadaan rumah di kampung ya seperti itu, gubuk derita di kampung, memang dari keluarga kurang mampu," katanya kepada TribunSolo.com, Jumat (7/1/2022). 

Karena bergaya rumah adat Jawa, yang memiliki atap yang cukup pendek, Fajar sering mengeluh kepalanya selalu kejedot atap. 

"Mak, aku tuh kalau pulang kampung, kejedot-jedot terus, terus saya bilang makanya duitnya dikumpulin buat benerin rumah, tapi malah buat nikah, nikahnya biaya sendiri, kalau saya juga nggak punya biaya," jelasnya. 

Sebagai orang tua, sebenarnya Suminah memang menginginkan rumah yang layak dan lebih bagus.

Namun, hingga saat ini, ia masih berusaha mengumpulkan uang, untuk merenovasi rumah.

Baca juga: Kisah Pria Berusia 58 Tahun Lanjutkan Kuliah S1 yang Tertunda 40 Tahun, Terungkap Kisah di Baliknya

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved